Wanita dengan kadar lemak tubuh yang sangat rendah lebih rentan mengalami menstruasi yang terhenti.
3. Risiko Jangka Panjang dari Olahraga Berlebihan
Menstruasi yang tidak teratur atau berhenti sama sekali dapat meningkatkan risiko kesehatan jangka panjang, seperti osteoporosis atau penurunan kepadatan tulang.
Estrogen berperan penting dalam menjaga kepadatan tulang, sehingga kekurangan hormon ini dalam jangka panjang membuat wanita lebih rentan mengalami patah tulang dan osteoporosis di usia yang lebih tua.
Selain itu, siklus menstruasi yang terganggu juga dapat berdampak pada kesuburan di masa mendatang.
Baca Juga: Telat Haid pada Remaja, Penyebab dan Kapan Harus Khawatir
4. Tanda-Tanda Terlalu Banyak Berolahraga
Beberapa tanda bahwa olahraga yang dilakukan sudah berlebihan termasuk kelelahan yang tidak hilang meski sudah istirahat, suasana hati yang terganggu, penurunan berat badan drastis, serta siklus menstruasi yang terganggu.
Bila mengalami beberapa tanda ini, sebaiknya mengurangi intensitas olahraga dan memberikan waktu bagi tubuh untuk pulih.
5. Menjaga Keseimbangan antara Olahraga dan Kesehatan Menstruasi
Penting untuk menjaga keseimbangan antara intensitas olahraga dan kebutuhan kalori tubuh.
Wanita yang aktif secara fisik dianjurkan mengonsumsi nutrisi yang mencukupi dan mempertahankan kadar lemak tubuh yang sehat.
Baca Juga: Pengaruh Stres pada Siklus Menstruasi hingga Telat Haid
Beberapa atlet atau wanita aktif mungkin memerlukan bantuan ahli gizi untuk memastikan bahwa kebutuhan kalori dan nutrisinya terpenuhi.
Kapan Harus Menghubungi Dokter
Artikel Terkait
Ini Kelebihan Nanas Dibandingkan dengan Buah-buahan lain bagi Ibu Hamil
Pilihan Buah Alternatif yang Lebih Aman untuk Ibu Hamil Trimester Pertama
Mengenal Suplemen Bromelain, Amankah Bagi Ibu Hamil?
Banyak yang Belum Tahu, Gerakan Janin Dipengaruhi Kesehatan Mental Ibu Hamil
Tidak Selalu karena Hamil! Penyebab Telat Haid dan Cara Mengatasinya