Salah satunya adalah posisi plasenta. Jika plasenta terletak di bagian depan rahim (anterior), ibu mungkin akan lebih lambat merasakan gerakan janin, karena plasenta bertindak sebagai penghalang antara bayi dan dinding rahim.
Sebaliknya, plasenta yang terletak di bagian belakang rahim (posterior) memungkinkan ibu merasakan gerakan lebih cepat dan lebih kuat.
Selain itu, sensitivitas tubuh ibu terhadap gerakan janin juga bervariasi. Beberapa wanita memiliki rahim yang lebih sensitif, sehingga mereka dapat merasakan gerakan halus sekalipun.
Baca Juga: Disleksia pada Anak: Penyebab dan Solusi untuk Mengatasinya
Di sisi lain, wanita dengan lemak tubuh yang lebih tebal di sekitar perut mungkin merasa gerakan janin lebih lambat atau kurang intens dibandingkan mereka yang memiliki lemak tubuh lebih sedikit.
Aktivitas harian ibu juga bisa memengaruhi seberapa jelas ia merasakan gerakan janin.
Saat ibu bergerak atau sibuk, gerakan janin sering kali kurang terasa karena ritme aktivitas ibu dapat menenangkan bayi.
Namun, saat ibu beristirahat atau tidur, bayi mungkin menjadi lebih aktif, dan gerakan janin akan terasa lebih jelas.
Momen ketika seorang ibu merasakan gerakan pertama janinnya adalah pengalaman emosional yang tak terlupakan.
Selain menjadi bukti bahwa bayi sedang tumbuh dan berkembang dengan baik, gerakan ini juga membawa perasaan kebahagiaan dan kedekatan yang mendalam antara ibu dan anak.
Memantau pola gerakan janin sangat penting, terutama saat memasuki trimester ketiga.
Jika ada perubahan dalam pola gerakan yang signifikan, seperti gerakan yang tiba-tiba berkurang atau terasa lemah, ibu disarankan untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis agar kondisi janin dapat dipantau dengan baik.
Artikel Terkait
Satu Buron, Polisi Tetapkan Tiga Pengurus Yayasan Darussalam An'nur sebagai Tersangka Pelecehan Anak
Taro Kembali Hadirkan Taro Rangers Camp untuk Cetak Generasi Anak yang Tangguh dan Kreatif
Disleksia pada Anak: Penyebab dan Solusi untuk Mengatasinya
Janin Bergerak? Ternyata Bagian dari Perkembangan Penting Fisik Anak
Mengapa Anak Tidak Boleh Pergi ke Toilet Umum Sendirian? InI Bahaya dan Cara Antisipasinya