SMARTPARENT.ID - Hati-hati bila hendak mengonsumsi obat CTM saat hamil. Pastikan konsultasikan terlebih dahulu kepada dokter kandungan demi kebaikan ibu dan janin yang ada di dalam kandungan.
Obat CTM sendiri dikenal sebagai obat antialergi. Obat yang bebas dijual secara terbatas ini yang ditandai dengan warna biru ini mengandung zat aktif bernama Chlorpheniramine maleat.
Obat CTM bekerja secara antagonis terhadap efek histamin pada reseptor H1 (bersifat antihistamin), dimana dapat menyebabkan efek samping berupa mengantuk.
Obat ini digunakan untuk mengatasi gejala alergi seperti rhinitis alergi, flu dan pilek, urtikaria, bersin-bersin, mata berair, gatal pada mata, hidung, tenggorokan atau kulit.
Baca Juga: Jangan Sampai Kekurangan Nutrisi, ini Solusi Anak yang Alami Alergi
Nah, berbagai gejala itu kadang dialami juga oleh ibu yang sedang mengandung. Namun, hati-hati bila ingin mengonsumsi CTM untuk mengatasi berbagai gejala tersebut.
Bahaya Obat CTM untuk Kehamilan
CTM termasuk obat keras sehingga harus hati-hati saat mengonsumsinya. Konsumsi CTM tidak dianjurkan pada ibu hamil dan menyusui karena berdampak negatif pada si kecil.
Konsultasi dengan ahli adalah sangat direkomendasikan. Dokter boleh jadi akan meresepkan pemberian obat ini pada ibu hamil atau menyusui jika manfaat yang diperoleh bisa lebih besar daripada risikonya.
Menurut situs NCBI, sebuah server yang memuat data base tentang informasi kesehatan dan bioteknologi, obat apa pun yang diminum selama kehamilan mempunyai potensi efek teratogenik pada janin.
Agen teratogenik adalah obat-obatan yang bisa menyebabkan kecacatan pada janin. Teratogenisitas sendri tergantung kepada kemampuan agen atau zat untuk melintasi plasenta.
Baca Juga: Mengenali Gejala Alergi Susu Sapi
Jika suatu obat dikonsumsi pada trimester pertama, dapat mengakibatkan kelainan struktural janin yang parah dan pada akhir kehamilan dapat mengakibatkan berbagai kelainan fungsional atau gangguan pertumbuhan dan juga dapat mengakibatkan kelainan ringan.
Obat-obatan yang diminum selama kehamilan juga dapat menimbulkan efek samping pada masa neonatal dan masa bayi. Semua intervensi farmakologis umumnya dihindari selama kehamilan karena informasi yang mengkhawatirkan terdapat pada brosur informasi pasien dan juga pada sampul obat.
Artikel Terkait
Amankan Obat Ondansetron untuk Ibu Hamil
Sembelit Saat Hamil, Amankah Minum Obat Pencahar?
Makanan yang Baik untuk Ibu Hamil: Pentingnya Asupan Nutrisi yang Seimbang
Kaki Bengkak Saat Hamil Ternyata Normal, ini Sebabnya
Penyebab Sulit Tidur pada Ibu Hamil sebelum Melahirkan