SMARTPARENT.ID - Stres adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi ketika intensitasnya tinggi atau berlangsung dalam waktu lama, stres dapat membawa dampak yang cukup signifikan pada kesehatan tubuh, termasuk pada siklus menstruasi.
Stres yang berkepanjangan memengaruhi hormon dan keseimbangan tubuh secara keseluruhan, termasuk siklus menstruasi.
1. Bagaimana Stres Memengaruhi Hormon Siklus Menstruasi
Siklus menstruasi diatur oleh interaksi antara otak dan hormon-hormon reproduksi. Menurut Cleveland Clinic, ketika seseorang mengalami stres, tubuh melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin.
Baca Juga: Banyak Cara Agar si Kecil Suka Buah dan Sayur
Hormon-hormon ini merangsang respons tubuh untuk menghadapi situasi stres, namun, jika kadar kortisol meningkat terlalu tinggi atau terus berlangsung dalam waktu lama, sistem hormonal tubuh dapat terganggu, termasuk hormon yang mengatur menstruasi.
Dalam siklus menstruasi, hipotalamus (bagian dari otak yang berfungsi mengatur hormon) mengirimkan sinyal ke kelenjar pituitari untuk menghasilkan hormon-hormon penting seperti FSH (follicle-stimulating hormone) dan LH (luteinizing hormone).
Hormon-hormon ini merangsang ovarium untuk menghasilkan estrogen dan progesteron.
Namun, ketika tubuh berada dalam kondisi stres tinggi, otak akan mengalihkan fokusnya pada produksi hormon kortisol, yang akhirnya mengganggu sinyal antara otak dan ovarium, menyebabkan siklus menstruasi menjadi tidak teratur.
Baca Juga: Telat Haid, Apakah Ini Tanda Awal Kehamilan?
2. Efek Stres pada Siklus Menstruasi
Stres yang berkepanjangan atau berulang dapat menyebabkan berbagai gangguan pada siklus menstruasi. Healthline menyebutkan beberapa perubahan yang umum terjadi:
Telat Haid atau Haid yang Hilang (Amenore): Salah satu dampak yang paling umum dari stres adalah telat haid atau bahkan hilangnya menstruasi selama beberapa bulan.
Tubuh yang mengalami stres mungkin menahan produksi hormon-hormon yang dibutuhkan untuk ovulasi.