- Jangan Berasumsi, Tapi Tanyakan Langsung
Kadang kita merasa pasangan harusnya “paham sendiri.” Padahal belum tentu. Misalnya kamu ingin ditemani saat periksa ke dokter, jangan berharap dia menebak. Katakan langsung:
“Aku pengin kamu ikut ke dokter minggu depan. Bisa, nggak?”
Komunikasi yang sehat itu jelas dan tidak menuntut tanpa dasar.
- Bicarakan Hal Teknis dengan Tenang
Jelang kelahiran, banyak hal teknis yang harus disiapkan: rumah sakit, transportasi, biaya, cuti kerja, dll. Diskusikan semua ini dengan kepala dingin, bukan sambil emosi atau terburu-buru. Buat daftar prioritas bersama, dan bagi tugas secara adil.
Baca Juga: Tanda Anak Mengalami Speech Delay: Kenali Sejak Dini Agar Tidak Terlambat Ditangani
- Validasi Perasaan Pasangan
Kadang yang dibutuhkan pasangan bukan solusi, tapi didengarkan. Jika pasangan mengungkapkan kekhawatiran atau rasa lelahnya, jangan langsung menghakimi. Katakan misalnya:
“Wajar banget kamu merasa seperti itu. Kita cari jalan keluarnya bareng, ya.”
Dengan validasi, pasangan akan merasa dimengerti dan didukung.
- Gunakan Sentuhan dan Bahasa Tubuh Positif
Komunikasi bukan cuma soal kata-kata. Pelukan, genggaman tangan, atau senyum hangat bisa menguatkan hubungan emosional kalian. Apalagi di masa kehamilan yang penuh gejolak perasaan.
- Saling Mengingatkan Tanpa Menyudutkan
Kalau ada hal yang menurutmu perlu dikoreksi, sampaikan dengan cara yang tidak menyudutkan. Misalnya:
“Aku tahu kamu capek kerja, tapi aku juga perlu kamu bantu sedikit di rumah. Bisa kita bagi tugas supaya sama-sama enak?”
Nada bicara, ekspresi, dan waktu menyampaikan juga sangat memengaruhi bagaimana pasangan menerimanya.
Baca Juga: 7 Permainan Sederhana untuk Bayi: Seru, Edukatif, dan Bikin Bonding Makin Dekat!
Bonus: Topik yang Perlu Didiskusikan Menjelang Kelahiran