Benarkah Anak Bisa Melihat atau Bermain dengan Hantu?

Photo Author
Irfan Hasuki, Smart Parent
- Senin, 26 Agustus 2024 | 14:44 WIB
Berteman "Hantu" (Charles Parker/Pexels)
Berteman "Hantu" (Charles Parker/Pexels)

SMARTPARENT.ID Pernah melihat anak berbicara sendiri? Tiba-tiba ketakutan? Atau malah terlihat bermain bersama temannya padahal ia sedang sendirian? Mungkin ia melihat ada teman fantasinya. Mungkin sebagian dari kita menganggapnya ia sedang melihat hantu atau sedang bermain dengan hantu.

Anak batita, usia 1-3 tahun, memiliki daya pikir yang berbeda dengan orang dewasa. Proses berpikirnya cenderung masih abstrak. Dia masih banyak berpikir dengan fantasi. Bila orang dewasa seringkali berhalusinasi maka batita lebih cenderung menggunakan fantasinya untuk membayangkan sesuatu. Fantasi-fantasi ini di stimulasi oleh barbagai faktor. Kemungkinan karena sering melihat tayangan live streaming, televise, atau karena sering ditakut-takuti oleh orang dewasa. “Awas, kalau kamu nakal,  nanti akan didatangi hantu!” misalnya.

Sosok yang sering dilihatnya di tv anak akan mudah membayangkannya. Tatapi “hantu” yang belum pernah dilihatnya, seringkali anak berusaha membayangkan. Bagaimana, sih, rupa hantu sebenarnya. Ketika membayangkan, digunakanlah fantasinya yang di usia ini memang sedang tumbuh subur.

 Baca Juga: Moms, Boleh Gemas ke si Chubby Tapi Jangan Menyakitinya

Stimulasi Menyeramkan, yang Diimajinasikan pun Seram

Bila stimulasi yang didapatnya berupa hal-hal yang menyenangkan maka anak pun akan berfantasi ke hal-hal yang menyenangkan.  Misal, anak yang sering menyaksikan tayangan Teletubbies. Dia pun akan berfantasi terhadap Tubi yang riang dan suka bermain. Seolah-olah, Tubi yang dilihatnya di televisi hadir dan sedang menemaninya ketika makan atau bermain. Dengan begitu, anak bukannya takut malah bisa mengajak teman fantasinya bermain. 

Sebaliknya, bila stimulasi yang didapat anak menyeramkan, semisal sering ditakut-takuti atau menyaksikan tayangan horor, maka fantasi yang akan muncul adalah hal-hal yang dapat menakutinya. Fantasi menyeramkan inilah yang terkadang dapat merugikan anak. Misal, anak seolah-olah melihat hantu yang sedang berdiri menatapnya dengan wajah yang menakutkan. Anak pun menjerit dan sangat ketakutan. Tak jarang, fantasi seram itu terus menerus dilihatnya dan seolah-olah mengejar dan akan menculiknya. Hal inilah yang membuat orang tua beranggapan bahwa anak sedang “dikejar” atau “ditemani” oleh hantu.

 Baca Juga: Iiiih, chubby banget. Cubit dikit yaaa, gemesss.

Hanya Teman Fantasi, Bukan Nyata

Secara psikologis apa yang dilihat anak bukanlah yang benar-benar nyata, tetapi lebih cenderung berupa fantasi. Sebab pada usia batita, anak belum bisa berpikir ril tetapi masih dalam taraf berfantasi untuk membayangkan “teman” hantunya itu. Pengalamannya pun bukan berupa halusinasi. Sebab halusinasi terjadi tanpa memerlukan stimulasi tetapi terdapat gangguan pada proses pemahaman apa yang dilihatnya. Yang dilihat anak, timbul karena adanya rasa senang, takut, atau rasa kecewa mereka yang terwujud dalam fantasinya tersebut.

Kisah nyata, ada anak berumur tiga tahun yang takut sekali dengan macan karena seringkali ditakut-takuti oleh ibunya. Ibunya bilang, “Kalau kamu tidak mau tidur kamu akan diganggu sama macan.” Karena seringnya, anak pun menjadi takut, tak hanya ketika dia tidak mau tidur, saat bermain pun terkadang muncul. Suatu hari, ketika sedang bermain dengan menjejerkan kursi, tiba-tiba anak bicara sendiri pada satu bangku yang kosong, “Hai macan tertawa, Macan tertawa baik, ya! Macan tertawa mau makan apa hari ini? Saya mau makan lho sebentar lagi, macan tertawa mau makan enggak?” 

Orang di sekelilingnya menjadi heran. Mungkinkah dia berbicara dengan hantu, begitu benak mereka. Kemudian anak tersebut ditanya, “Macan tertawa itu siapa? Dia jawab, teman. Dari mana asalnya? Dari “planet” kebun binatang. Dia sayang tidak sama kamu? Oh sayang sekali. Takut enggak sama macan tertawa? Tidak takut.

Baca Juga: Iiiih, chubby banget. Cubit dikit yaaa, gemesss.

Kejadian ini adalah bentuk sebuah penyesuaian terhadap rasa keberanian anak. Anak semula takut terhadap apa yang diucapkan oleh Ibunya. Kemudian dia berusaha untuk menyesuaikan diri dengan ketakutannya sehingga berusaha untuk menimbulkan keberanian. Dia pun berfantasi bahwa macan itu baik dan bisa dijadikan sebagai teman.

Halaman:

Editor: Irfan Hasuki

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

Bagaimana Mengajarkan Empati pada Anak Balita?

Kamis, 12 Juni 2025 | 20:40 WIB

Moms, Aku Mau Videocall Ayah!

Rabu, 26 Februari 2025 | 07:56 WIB

Ketika Anak Tak Mau Pakai Baju, Bolehkah Kita Memaksa?

Selasa, 25 Februari 2025 | 21:18 WIB

Jangan Mengancam Anak Tetapi Berikan Ia Penjelasan

Selasa, 25 Februari 2025 | 20:51 WIB

Moms, Jangan Pernah Mengancam Anak, Ya!

Selasa, 25 Februari 2025 | 20:41 WIB

Biarkan Anak Corat-coret, Disitu Tumbuh Kreativitas

Senin, 24 Februari 2025 | 17:06 WIB

Moms, Perlu Lo Sesekali Anak Dibebaskan Bermain

Senin, 24 Februari 2025 | 15:52 WIB

Bila Anak Suka Tak Sopan, Ini Cara Mengatasinya

Sabtu, 22 Februari 2025 | 21:14 WIB

Ini Manfaat Buat Anak Saat Belajar di Meja Makan

Jumat, 21 Februari 2025 | 15:37 WIB

Saat Makan Saatnya Anak Belajar

Jumat, 21 Februari 2025 | 14:47 WIB
X