SMARTPARENT.ID. Saking gemasnya, seringkali kita meremas atau mencubit wajah si kecil dengan keras, entah anak sendiri atau anak orang lain. Maksudnya, untuk mengungkapkan kasih sayang tanpa memikirkan apakah tindakan ini menyakitkan atau tidak. Ketika anak menangis, kita pun semakin senang, remasan dan cubitan semakin ditambah.
Pengungkapan rasa sayang seperti ini, dapat menyakiti anak dan sebaiknya dihindarkan. Sebab cubitan, remasan, cengkeraman, atau pelukan yang terlalu keras, bukanlah sesuatu yang dapat menyamankan anak tetapi menyakitkan. Bila anak sering merasa disakiti bisa mengganggu perkembangan emosionalnya karena tindakan ini termasuk penyiksaan secara fisik dan mental, meskipun tidak sengaja dilakukan. Bila perkembangan emosionalnya terganggu bisa berakibat, anak tumbuh menjadi pribadi yang penakut, mudah berkecil hati, tidak percaya diri, pembenci, juga mengalami ketidakstabilan emosional.
Anak Akan Mudah Takut
Timbulnya perasaan takut, bisa saja muncul bila anak melihat orang yang sering menyakitinya atau ketika anak berada di mana orang tersebut biasanya ditemui. Ciri-cirinya, anak akan memegang erat orang tuanya, menangis, sering merengek, atau gelisah. Bila hal ini berlangsung terus, rasa tidak amannya itu akan mengganggu aktifitasnya. “Jangan-jangan Tante itu akan menyakitiku,” atau “Jangan-jangan Om yang sering menyakitiku akan muncul dan mencubitku lagi,” misalnya.
Bila aktifitas bermainnya terganggu otomatis pertumbuhan sosialnya, kreativitasnya, kebebasannya ikut terhambat karena selalu dibayang-bayang ketakutan.
Selain itu, dapat muncul pula benih kebencian. Meskipun anak tidak bisa mengungkapkan secara gamblang, pada dasarnya anak usia ini sudah bisa merasakan adanya rasa tidak senang terhadap perlakuan yang ditujukan kepadanya. Khawatirnya, bila perlakuan yang menyakitkan ini berlangsung terus-menerus, bisa membuatnya trauma dan selalu mengingat kejadian tersebut. Bisa saja anak akan terus membenci orang yang sering menyakitinya itu. Tak mustahil, kebencian ini menjadi sifat yang menetap sehingga tidak hanya kepada orang yang sering menyakiti, orang lain yang tidak ada sangkut pautnya pun ikut dibencinya. Bila perasaan ini tertanam kuat bisa membentuk sikap anak yang kurang peka terhadap rasa kasih sayang.
Baca Juga: Status Darurat Global Cacar Monyet Mpox, Begini SIkap WHO dan Respons di Indonesia
Emosi Menjadi Tak Stabil
Dengan perlakuan seperti ini pun anak akan kesulitan membangun emosional yang stabil karena emosinya selalu berganti-ganti. Selagi asyik bermain, tiba-tiba ada yang meremas wajahnya. Selagi gembira tahu-tahu ada yang mengganggunya, moodnya yang sedang bagus berubah jelek. Kesal, marah, benci, bercampur aduk. Seringnya menghadapi situasi seperti ini kelak akan mempengaruhi emosionalnya yang cenderung berubah-ubah. Tak mustahil pula muncul kurang percaya diri dan sering berkecil hati.
Akan lebih berdampak bila orang tua sendiri yang melakukan hal ini. Pada anak, akan timbul ketidakpercayaan, tidak mendapat rasa aman dan perlindungan yang seharusnya didapat dari orang tuanya. Bila keadaan ini terus dibiarkan, mungkin saja nantinya anak tidak lekat dengan orang tuanya. Benci, kesal, dan tidak mau dekat-dekat karena seringkali disakiti. Bila ada figur lain yang dinilai anak bisa memberinya rasa aman, bisa saja anak akan lebih dekat ke figur tersebut, misalnya pengasuh.
Baca Juga: Pahami Dunia Digital Anak, Mengatur Batasan dan Waktu Layar