Saat Makan Saatnya Anak Belajar

Photo Author
Irfan Hasuki, Smart Parent
- Jumat, 21 Februari 2025 | 14:47 WIB
Makan di Meja Makan (Vitaly Gariev on Unsplash)
Makan di Meja Makan (Vitaly Gariev on Unsplash)

SMARTPARENT.ID “Coba tebak, apa warna wortel ini?” tanya Mama kepada Riska. Mama menunjuk potongan wortel yang berbentuk bundar yang ada di atas piring.

Riska terlihat berpikir, "Oranye…!” jawab Riska.

Pintar, wortel ini warnanya oranye,” kata Mama.

Mereka melanjutkan makannya kembali. Riska, meski baru berusia 2 tahun, sudah mengenal aneka macam warna, bentuk, rasa, dan lainnya. Itu karena Mama sering mengenalkannya kepada Riska lewat ragam jenis makanannya.

Butuh Mama Kreatif

Ketika makan, sebaiknya tak hanya mengajari anak belajar makan sendiri tetapi kita juga harus meningkatkan aneka kemampuan dan pengetahuan anak. Sebab banyak hal bisa kita lakukan untuk meningkatkan kecerdasannya, lewat aktivitas makannya, isi menunya, jenis dan bahan makanannya, dan lainnya. Misalnya, kita bisa melatih kemampuan motorik lewat menyuap sendiri, menstimulasi kecerdasan lewat aneka warna dan bentuk makanan, kedisiplinan lewat tata tertibnya, interaksinya, dan sebagainya. Sebaiknya kita tidak melewatkan kesempatan ini mengingat pertumbuhan otak batita sangat pesat. Apa yang kita latihkan ke anak akan ia simpan di dalam memori otaknya yang kelak akan sangat berguna buat anak.

Namun, meski tujuannya memberikan pelajaran, namun harus dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Boleh saja dilakukan sambil bermain selama tidak mengganggu proses makannya. Dengan begitu, stimulasi terhadap kemampuan dan kecerdasannya akan mengalir tanpa ada penolakan dari anak. Hasilnya pun akan terlihat lebih baik dibandingkan kita melakukannya dengan memaksa apalagi memarahinya. Dan sebaiknya tidak usah memasang target karena proses belajar anak kan mengalir sehingga kita tidak bisa memintanya untuk mengingat apa yang sudah kita ajarkan. Mungkin saja ia lupa atau tidak bisa melakukan apa yang sudah kita ajarkan namun kelak ia bisa tahu banyak hal dan mahir karena sebenarnya apa yang sudah kita ajarkan tersimpan di memori otaknya.

Namun kita pun perlu kreatif, misalnya memotong wortel menjadi dadu, kentang menjadi bulat, kemudian tunjukkan ke anak mengenai perbedaan-perbedaan tersebut. Bisa juga dengan membuat cerita yang berisi pesan moral menggunakan lauk-pauk yang ada di menu, melakukan interaksi, dan sebagainya. Kreativitas kitalah yang akan menentukan apakah belajar hal lain di saat makan ini akan berhasil atau tidak. Lalu kapan waktu tepat melakukannya? Tergantung pada masing-masing, boleh saat makan pagi, siang, atau malam. Karena pada dasarnya semua waktu adalah baik, tinggal kita sempatnya di waktu yang mana.

Moms Harus Memanfaatkan Secara Maksimal

Tak perlu khawatir anak akan bingung karena harus makan sendiri juga “dijejali” ilmu-ilmu baru. Di usia ini anak memiliki kemampuan belajar yang sangat tinggi. Perkembangan otak mereka sangat pesat, mampu mengolah banyak sekali informasi sehingga dia tidak akan kewalahan atau bingung. Sebaliknya, hal ini akan memberikan kesempatan yang bagus bagi otak anak untuk belajar memproses sesuatu hal yang kompleks dan mengintegrasikan berbagai keterampilan menjadi satu. Jadi, jangan buang kesempatan ini sehingga anak akan tumbuh lebih cerdas.

Tentu, ketika mengajarkan, melatih, atau menstimulasi harus dilakukan satu demi satu, tidak bersamaan. Misalnya, ketika anak baru belajar cara memegang sendok, fokus saja pada pelajaran tersebut. Diawali dengan memberi tahu bagaimana cara memegang sendok. Jika ia sudah mampu melakukannya, barulah kita tambahkan dengan menyebutkan warna sendoknya, gambar yang ada di sendok, terbuat dari apa sendoknya, dan lainnya. Kemudian biarkan anak menikmati makanannya. Kemudian ketika kita melihat anak siap menerima ilmu baru lagi kita bisa melanjutkan tentang aneka warna, bentuk, rasa, atau yang lainnya. Yang jelas, lakukan dengan cara yang menyenangkan anak.

Lakukan tanpa target, kalau mereka belum bisa melakukan, mengucapkan, atau mengulangi apa yang kita ajarkan, tidak mengapa. Karena yang terpenting adalah memberikan informasi ke dalam otak mereka yang bisa mereka simpan untuk dapat digunakan di kemudian hari. Contohnya dengan memberikan informasi yang jelas akan warna merah, dan berulang kali menyebutkannya dengan benar “Merah”, maka anak akan mengingat bahwa cara mengucapkan warna merah yang benar adalah “merah” bukan “meyah”. Demikian pula dengan hal yang lain.

Editor: Irfan Hasuki

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini

Bagaimana Mengajarkan Empati pada Anak Balita?

Kamis, 12 Juni 2025 | 20:40 WIB

Moms, Aku Mau Videocall Ayah!

Rabu, 26 Februari 2025 | 07:56 WIB

Ketika Anak Tak Mau Pakai Baju, Bolehkah Kita Memaksa?

Selasa, 25 Februari 2025 | 21:18 WIB

Jangan Mengancam Anak Tetapi Berikan Ia Penjelasan

Selasa, 25 Februari 2025 | 20:51 WIB

Moms, Jangan Pernah Mengancam Anak, Ya!

Selasa, 25 Februari 2025 | 20:41 WIB

Biarkan Anak Corat-coret, Disitu Tumbuh Kreativitas

Senin, 24 Februari 2025 | 17:06 WIB

Moms, Perlu Lo Sesekali Anak Dibebaskan Bermain

Senin, 24 Februari 2025 | 15:52 WIB

Bila Anak Suka Tak Sopan, Ini Cara Mengatasinya

Sabtu, 22 Februari 2025 | 21:14 WIB

Ini Manfaat Buat Anak Saat Belajar di Meja Makan

Jumat, 21 Februari 2025 | 15:37 WIB

Saat Makan Saatnya Anak Belajar

Jumat, 21 Februari 2025 | 14:47 WIB

Terpopuler

X