SMARTPARENT.ID Kelekatan dengan anak tidak bisa berjalan begitu saja tetapi perlu dipersiapkan. Persiapan ini pun harus dilakukan dengan cermat mengingat anak usia balita rentan terhadap pengaruh dari luar. Ini lo yang bisa Moms persiapkan:
1. Siapkan Mental dengan Baik
Memiliki anak akan mengubah peran dari suami/istri menjadi seorang ayah/ibu. Ada komitmen dan tanggung jawab yang harus disadari dan dijalankan. Sebab itu, perlu hati dan pikiran yang tenang untuk menjalani proses menjadi orang tua. Hati dan pikiran yang tenang, akan menciptakan rasa nyaman pada janin yang sedang dikandung; dan, jangan lupa bahwa ketenangan dan kesiapan hati tersebut mendorong keseimbangan hormon yang mendukung proses kehamilan yang sehat.
Selain itu, kesiapan mental juga merupakan suatu kondisi yang diperlukan terutama untuk menghindari konflik dan ketegangan yang bisa muncul di antara suami-istri akibat perubahan yang terjadi. Kesiapan tersebut membuat masing-masing sadar dan berusaha menahan diri untuk tidak saling menyakiti, karena dilandasi kesadaran, bahwa kedua nya saling membutuhkan untuk saling menguatkan.
Baca Juga: Iiiih, chubby banget. Cubit dikit yaaa, gemesss.
2. Jalinlah Komunikasi dengan Buah Hati
Sejak di dalam kandungan, orang tua harus sudah menjalin komunikasi yang hangat sebab sejak itu proses kelekatan dimulai. Berbicaralah, sapalah, bernyanyilah untuknya dan pelihara/pertahankan kestabilan emosi. Sudah banyak penelitian yang menyatakan bahwa seorang anak bisa memahami apa yang terjadi dalam diri sang ibu meski ia belum lahir. Hal itu bisa dibuktikan dari munculnya kecenderungan tertentu pada anak, misalnya pencemas, super sensitif atau pemarah – dihubungkan dengan persoalan yang sedang dihadapi sang ibu pada masa dan pasca kehamilannya.
3. Berikan ASI yang Cukup
Menyusui, bukan hanya sekedar memberikan ASI yang berkualitas, namun merupakan proses yang melibatkan tiga belah pihak, suami – istri dan anak. Kegiatan ini merupakan momen yang sangat ideal untuk membangun kontak batin yang erat, melalui kelekatan fisik dan kontak mata yang intensif. Proses ini membutuhkan “hati” yang tenang dan penuh kasih, karena produksi ASI akan terpengaruh oleh faktor fisik dan emosional. Oleh sebab itu, perlu kerja sama yang baik dan sikap saling memahami serta saling menghargai antara suami-istri agar segala persoalan yang terjadi bisa diselesaikan dengan baik tanpa menyebabkan ketegangan dan tekanan emosional yang mengganggu hubungan dengan anak.
Baca Juga: Mengenal Perkembangan Anak Usia Dini, Begini Tahapannya
4. Tanggapi Positif Tangisan anak
Anggapan membiarkan anak menangis bisa melatihnya mandiri tidak sepenuhnya benar. Memang, pada beberapa kasus pemikiran tersebut bisa diikuti, tapi tidak selamanya. Karena, melalui menangis anak bisa mengomunikasikan ketakutannya, kelaparannya, kehausannya, keinginannya akan kehangatan, keinginannya untuk dibelai, rasa tidak enak badan, kedinginan, kepanasan dan rasa tidak enak yang lain. Terkadang, anak usia ini tidak berdaya menghadapi persoalannya sendiri. Jadi, tangisannya tidak selamanya rengekan yang mengada-ngada, kadang murni muncul dari kebutuhannya. Bila orang tua menunda respon terhadap ketakutan anak, misalnya, akan menimbulkan frustrasi. Dari situ pula anak belajar, bahwa orang tuanya bisa memberikan jaminan akan kasih sayang, dirinya berharga untuk diperhatikan kebutuhannya, atau tidak.
5. Upayakan Kebersamaan dalam Keluarga
Karena tuntutan kesibukan, banyak keluarga memanfaatkan jasa baby sitter untuk mengasuh anak. Tidaklah mengherankan jika kelak antara dia dengan anaknya tidak terlihat suatu kelekatan yang positif karena anaknya lebih nempel dengan suster-nya. Situasi ini tidak mendorong proses perkembangan psikologis dan identitas yang sehat. Anak tetap melihat dirinya diabaikan oleh ibunya sementara sang ibu memperhatikan anak melalui berbagai barang dan mainan yang dibeli atau pun uang jajan yang berlebihan.