SMARTPARENT.ID Rima buru-buru berlari mendekati anaknya, Riri, yang tiba-tiba menjerit. Ternyata Riri dijambak Andri, teman sebayanya. Rima langsung mengangkat Riri “Kalau main jangan berantem, mendingan kamu di dalam rumah saja,” ucapnya Rima.
Riri berhenti menangis, lalu Rima mengizinkan anaknya bermain lagi dengan Andri. Namun baru beberapa detik, Riri kembali menangis. Kali ini dia didorong hingga jatuh. Rima pun kembali tergopoh-gopoh mengangkat Riri. Selanjutnya dia tidak mengizinkan Riri bermain lagi di luar. “Untuk apa main di luar kalau nangis terus,” gerutunya.
Baca Juga: Kenapa Ya, Anak Suka Pilih-pilih Teman? Ternyata Ini Penyebabnya
Kita Terbiasa Mengambil Alih Masalah Anak
Perkembangan pola pikir anak balita masih praoperasional. Anak belum bisa berpikir secara jernih tentang apa yang dihadapinya, umumnya mereka masih egosentris yakni memikirkan kepentingan dirinya saja. Ketika melihat sesuatu anak selalu berpatokan terhadap apa yang menjadi keinginannya.
Seperti pada contoh kasus di atas, Riri dan Andri yang masih balita, Riri ingin meminta mainan sedangkan Andri tidak mau memberikannya. Mereka belum berpikir kalau salah satu dari mereka harus mengalah sehingga terjadilah aksi jambak dan dorong.
Kita, sebagai orangtua, sebenarnya bisa memberikan arahan kepada anak untuk mengatasi masalah yang mereka hadapi. Meskipun pola pikir anak masih sangat terbatas namun bila arahan yang kita lakukan benar dan berulang lambat laun anak akan memahami apa yang kita jelaskan.
Sayangnya, banyak orangtua yang tidak mau mengarahkan. Ketika melihat anaknya berkelahi dengan teman, kakak, atau adiknya, banyak yang langsung mengambil alih permasalahan, mengintervensi, dengan mangatur kalau anak harus begini-begitu. Mungkin niatnya supaya tidak berkelahi lebih dalam, saling menjambak misalnya. Namun cara ini tidak mendidik anak untuk terbiasa mengatasi masalahnya sendiri.
Makanya, seringkali saling jambak, dorong, atau anak ngambek dan mengadu ke orang tua, berulang kali kita temukan. Misalnya, ketika rebutan mainan, anak yang satu mendorong dan yang didorong menangis, atau ketika anak tak bisa menyelesaikan mainan paselnya dia langsung meminta orang tuanya menyelesaikannya. Hal ini tidak melatih anak untuk mengatasi masalahnya sendiri. Padahal kita perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar mengatasi masalahnya sendiri.
Baca Juga: Si Balita Suka Pilih-pilih Teman? Selama itu Baik Lumrah Saja
Ketika Anak Menghadapi Masalah, Cari Solusi Bersama
Banyak kasus-kasus kecil dan sederhana yang muncul di keseharian bisa dijadikan sarana bagi anak untuk melatih problem solving-nya. Bila Moms sabar dan jeli, anak akan mendapatkan manfaat yang sangat baik untuk perkembangan mentalnya.
Misalnya, ketika anak marah-marah dan frustasi ketika tidak berhasil menyusun pasel, kita bisa melatih meningkatkan kemampuan problem solvingnya dengan memberikan support kepada anak untuk lebih serius mengerjakan pasel. “Jangan patah semangat, kamu pasti bisa menyelesaikannya. Apa kira-kira yang harus kamu lakukan agar pasel bisa selesai?” Mungkin sejenak anak akan berpikir dan menjawab kalau dia perlu lebih berkonsentrasi. “Agar bisa konsentrasi dengan baik apa yang harus kamu lakukan?” Jawaban yang keluar dari mulut anak mungkin sangat beragam, tidak sambil nonton teve, lebih tenang, atau mungkin anak perlu minum atau makan dahulu.
Saat memilih mainan dan anak bingung menentukan apakah memilih bola, boneka, pistol-pistolan, kita pun bisa melatih problem solvingnya. “Kamu sudah punya bola belum?” anak menjawab “Sudah.” “Kalau begitu pilih mainan yang belum kamu miliki,” misalnya. Dengan contoh kalimat seperti ini akan memberikan arahan kepada anak terhadap masalah yang ditemui dan bisa menjadi panduan mana yang harus dipilihnya.