Ketika anak merasa lapar seringkali dia berperilaku negatif, melempar-lempar mainan, ngambek, mudah emosi, tidak tenang, dan sebagainya. Sangat baik bila kita memberikan penjelasan sederhana tentang lapar. Misalnya, “Kamu lapar karena perutmu kosong jadi perlu diisi. Nah agar perutmu penuh perlu apa dong?” Mungkin anak akan menjawab kalau dia harus makan. Kita bisa melanjutkan dengan kalimat, “Jadi kamu tidak perlu marah-marah seperti itu karena tidak akan menyelesaikan masalah,” misalnya. Hal demikian juga sering terjadi ketika anak lelah, gerah, atau haus yang terkadang membuat anak tidak bisa berpikir jernih.
Bisa jadi pulang-pulang anak kita menangis. Katanya Ivan, anak kita misalnya, habis dicakar oleh temannya. Cobalah tanggapi secara bijak dengan mengorek apa yang menyebabkan anaknya dicakar. Ternyata penyebabnya rebutan bola. Dari peristiwa itu Ivan sempat marah dan tidak mau lagi main dengan temannya. Nah Moms jelaskan dengan bahasa-bahasa yang sangat sederhana agar hal itu tidak terjadi karena ini merupakan kejadian yang sangat wajar dan harus bisa diatasi Ivan dengan baik. “Kamu tetap harus main dengan temanmu, tidak boleh dendam,” misalnya. Biasanya anak akan kembali bermain dan berbagi dengan temannya itu. Ini adalah kasus problem solving yang bisa tertangani dengan baik.