Si Balita Suka Pilih-pilih Teman? Selama itu Baik Lumrah Saja

Photo Author
Irfan Hasuki, Smart Parent
- Sabtu, 29 Juni 2024 | 21:44 WIB
Anam Bermain Bersama ( Ashton Bingham on Unsplash)
Anam Bermain Bersama ( Ashton Bingham on Unsplash)

SMARTPARENT.ID Ketika bermain, si kecil selalu memilih-milih teman bermainnya. Dia tidak mau bermain dengan si B tetapi sangat senang kalau bermain dengan si A. “Pokoknya aku mau main dengan Izmi saja, aku enggak mau main dengan Bela,” demikian kata-kata yang diucapkan anak.

Terkadang mereka mengucapkannya tanpa alasan yang membuat kita berusaha menyelidiki apa yang menjadi penyebabnya. Tetapi, kadangkala pun anak dengan lugas bisa mengungkapkan alasannya. “Izmi itu baik, dia enggak pernah memukul aku,” misalnya.

Sejak Bayi, Anak Sudah Pilih-pilih

Sekelumit cerita di atas menunjukkan bahwa di usia balita anak sudah bisa menentukan pilihannya dalam berteman. Mereka biasanya mengukur pilihannya itu dari hal-hal yang mereka rasakan secara langsung, seperti nyaman dan tidak nyaman kala bermain.

Jangankan di usia balita, sejak bayi pun sebenarnya sudah muncul sifat pilih-memilihnya. Perilaku ini dapat kita lihat, misalnya, munculnya penolakan saat anak akan digendong. Pada beberapa anak, dia tidak mau bila yang menggendongnya berwajah seram, dengan kumis tebal dan jenggot lebat misalnya. Mungkin, penolakan itu karena ada rasa takut pada diri anak, tetapi di situasi seperti ini dia menggunakan hak pilihnya, yaitu tidak mau digendong.

Sebaliknya, ketika yang akan menggendongnya ganteng atau cantik, berbaju rapi, serta berbau harum, ada anak yang dengan senang hati digendong. Dia merasa akan ada kenyamanan bila dia digendong orang tersebut. Setidaknya, ini menunjukkan kalau pada dasarnya sifat manusia itu pemilih, dia lebih senang dengan sesuatu yang bisa lebih menyamankannya.

Tidak Masalah Jika itu Baik Buat Anak

Karena sifat ini merupakan salah satu sifat dasar manusia, jadi tidak masalah bila anak memilikinya. Bila anak merasa cocok bermain dengan si A dan tidak cocok dengan si B, jangan langsung menganggap bahwa anak bermasalah. Bila anak selalu memilih si A untuk bermain dan ketika bermain dia tidak rewel, tidak mudah menangis, riang gembira, sebaiknya kita mempersilahkannya saja. Baiknya lagi kita mendukungnya dengan memberikan suasana yang kondusif untuk aktivitasnya itu. Rasa nyaman dan aman pada diri anak akan sangat baik untuk kestabilan pertumbuhan emosi dan kepribadiannya. Dengan begitu, anak bisa belajar dari proses sosialisasinya itu dengan baik sehingga apa yang didapatkan anak bisa lebih merangsang pertumbuhannya.

Sebaliknya, ketika anak bermain dengan si B, anak malah sering berkelahi, berebut mainan, rewel, dan menangis. Di lingkungan bermain seperti ini akan mengganggu proses sosialisasinya karena anak merasa tidak nyaman. Bisa saja anak berkesimpulan bahwa tak ada yang menarik dengan pertemanan padahal di sisi lain pertemanan sangat dibutuhkan untuk perkembangan emosi, pengetahuan, dan kepribadian anak. Memang, sebagai orang tua kita harus berusaha untuk mendamaikan mereka, tetapi pada beberapa anak ketidakcocokan kala bermain sulit dicairkan segera bila sifat anak sangat bertolak belakang.

Editor: Irfan Hasuki

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X