Hantavirus: Ancaman dari Tikus yang Perlu Diwaspadai Indonesia

Photo Author
Hilman Hilmansyah, Smart Parent
- Senin, 11 Mei 2026 | 12:08 WIB
Hantavirus menjadi ancaman tersembunyi yang sering luput dari perhatian. Yang perlu disadari, Indonesia juga bukan wilayah yang bebas dari virus ini. (freepik)
Hantavirus menjadi ancaman tersembunyi yang sering luput dari perhatian. Yang perlu disadari, Indonesia juga bukan wilayah yang bebas dari virus ini. (freepik)

Dua Bentuk Penyakit yang Sama-Sama Berbahaya

Hantavirus memiliki dua manifestasi utama yang dapat mengancam nyawa.

Pertama adalah Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yang banyak ditemukan di Asia dan Eropa. Penyakit ini menyerang pembuluh darah dan ginjal, dengan gejala seperti demam, perdarahan, hingga gagal ginjal.

Kedua adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yang lebih sering dilaporkan di Amerika. Jenis ini menyerang paru-paru dan dapat menyebabkan sesak napas akut hingga gagal napas.

Tingkat kematian atau case fatality rate hantavirus tergolong tinggi. Pada beberapa jenis virus tertentu, angkanya bahkan bisa mencapai 50 persen.

Di Indonesia, jenis yang paling sering ditemukan adalah Seoul virus (SEOV), yang dibawa oleh tikus rumah seperti Rattus rattus dan Rattus norvegicus. Karena tikus ini hidup sangat dekat dengan manusia, risiko penularannya menjadi lebih besar dibanding zoonosis lain yang hanya ditemukan di area hutan atau satwa liar.

Kota Besar Juga Berisiko

Hantavirus bukan hanya masalah daerah terpencil. Penelitian di Indonesia menemukan keberadaan virus ini di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, hingga Denpasar.

Beberapa kasus juga teridentifikasi pada pasien rumah sakit di wilayah perkotaan. Hal ini menunjukkan bahwa urbanisasi dan kepadatan penduduk justru memperbesar risiko penyebaran.

Lingkungan dengan sanitasi buruk, permukiman padat, dan pengelolaan sampah yang tidak optimal menjadi habitat ideal bagi tikus untuk berkembang biak.

Ancaman Global yang Kian Nyata

Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian dunia terhadap hantavirus kembali meningkat. Sejumlah laporan internasional mencatat kenaikan kasus di Asia Timur dan Eropa, outbreak sporadis di Amerika Serikat, serta kaitannya dengan perubahan iklim dan urbanisasi.

Perubahan iklim dapat memengaruhi populasi rodensia, mempercepat reproduksi, dan memperluas habitat mereka. Sementara urbanisasi meningkatkan interaksi manusia dengan reservoir virus.

Indonesia berada di tengah dua faktor risiko tersebut: iklim tropis dan kepadatan penduduk tinggi. Ini membuat potensi peningkatan kasus hantavirus menjadi sesuatu yang perlu diantisipasi.

Mengapa Hantavirus Perlu Menjadi Perhatian?

Halaman:

Editor: Hilman Hilmansyah

Sumber: KEMENKES

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X