SMARTPARENT.ID - Di tengah perhatian masyarakat yang lebih banyak tertuju pada COVID-19, dengue, atau penyakit menular lain yang populer, ada satu ancaman kesehatan yang jarang dibicarakan tetapi memiliki risiko fatal, yaitu hantavirus.
Virus ini tidak menular antarmanusia seperti flu. Ia juga tidak langsung memicu wabah besar yang ramai diberitakan media. Justru karena bergerak diam-diam, hantavirus menjadi ancaman tersembunyi yang sering luput dari perhatian. Yang perlu disadari, Indonesia juga bukan wilayah yang bebas dari virus ini.
Hantavirus di Indonesia Bukan Hal Baru
Banyak orang menganggap hantavirus hanya ditemukan di luar negeri. Faktanya, berbagai penelitian menunjukkan virus ini sudah lama ada di Indonesia, bahkan sejak dekade 1980-an.
Sejumlah studi di beberapa kota besar menemukan angka seroprevalensi hantavirus pada manusia sekitar 11,6 persen. Artinya, setidaknya satu dari sepuluh orang pernah terpapar virus ini, walaupun sebagian besar mungkin tidak pernah terdiagnosis.
Pada populasi tikus sebagai reservoir utama, angka infeksi bahkan tercatat mencapai 0 hingga 34 persen. Ini menandakan virus masih aktif beredar di lingkungan, terutama di wilayah dengan populasi rodensia yang tinggi.
Dalam dokumen resmi Kementerian Kesehatan, hantavirus juga dikategorikan sebagai zoonosis emerging, yaitu penyakit yang berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Persoalannya bukan hanya keberadaan virus tersebut, tetapi rendahnya kesadaran terhadap risikonya.
Mengapa Hantavirus Sering Tidak Terdeteksi?
Di Indonesia, keluhan demam biasanya langsung dikaitkan dengan dengue, tifus, atau leptospirosis. Padahal, gejala awal hantavirus sangat mirip, seperti demam, nyeri otot, mual, dan tubuh terasa lemas.
Akibat kemiripan gejala ini, banyak kasus diduga tidak terdiagnosis atau bahkan salah penanganan. Dalam epidemiologi, kondisi ini dikenal sebagai “fenomena gunung es”, yaitu kasus yang terlihat hanya sebagian kecil dibanding jumlah sebenarnya di lapangan.
Penularannya Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari
Hantavirus tidak ditularkan lewat nyamuk ataupun makanan secara langsung. Penularannya justru sering berasal dari hal yang dianggap sepele, yaitu debu yang terkontaminasi kotoran tikus.
Virus dapat masuk ke tubuh melalui udara yang mengandung partikel urin, feses, atau air liur tikus. Penularan juga bisa terjadi lewat kontak langsung dengan rodensia, luka terbuka, maupun permukaan yang telah tercemar.
Dalam pedoman nasional disebutkan bahwa penularan utama terjadi melalui aerosolized excreta dari rodensia. Artinya, seseorang tidak harus digigit tikus untuk tertular. Cukup berada di area dengan aktivitas tikus dan menghirup udara yang tercemar sudah dapat meningkatkan risiko infeksi.