SMARTPARENT.ID “Sudah empat bulan lepas KB, kok belum hamil juga?” ungkap Witri di depan suaminya. “Padahal dulu baru sebulan menikah sudah langsung positif hamil,” ujarnya lagi. Andra, sang suami, tidak merespon banyak. Dia hanya meminta Witri untuk bersabar. “Tapi kan anak pertama kita sudah berusia lima tahun, aku ingin segera punya bayi lagi!” ucap Witri kesal.
Baca Juga: Moms Ini Cara Menggunakan Testpack Yang Benar
Memang, banyak ibu yang mengeluh kalau mereka sulit hamil lagi setelah mengikuti program KB. Hal ini tidak dipungkiri karena selama menjalani program KB kondisi hormon ibu “diganggu” oleh alat-alat KB yang digunakan, terutama KB hormonal seperti suntik, pil, susuk, juga koyo. Umumnya gangguan kesuburan terjadi setelah pemakaian KB hormonal yang cukup lama.
Pengembalian kesuburan, membutuhkan waktu yang terkadang cukup lama. Pasalnya, KB hormonal disimpan di dalam jaringan lemak tubuh dan tidak segera hilang setelah menghentikan pemakaiannya. Misalnya, pemakaian KB suntik 3 bulanan yang dipakai lebih dari 1 tahun. Hormon yang dimasukkan ke dalam tubuh akan disimpan di jaringan lemak. Nah nantinya, ketika meskipun ibu sudah berhenti KB, namun di dalam darah masih tersisa hormon-hormon sehingga dalam jangka waktu tertentu ibu belum bisa subur. Kalau kadar hormon masih berada di dalam darah, jelas akan terjadi ketidakseimbangan hormonal dan ini bisa menimbulkan ketidaksuburan.
Baca Juga: Setelah di Testpack Hasilnya Negatif? Belum Tentu Tidak Hamil
Supaya Tetap Subur Usai Lepas Alat Kontrasepsi
Agar keluhan ketidaksuburan bisa diminimalisir, ada beberapa tips yang perlu dilakukan oleh ibu.
- Fase Istirahat Ber-KB
Dianjurkan bagi ibu yang sedang ber-KB untuk tidak terus menerus menekan organ endokrinnya (organ yang menghasilkan hormon) untuk tidak berproduksi. Maksudnya, ada masa dimana ibu harus istirahat dari program KB hormonal. Misalnya, pasutri menginginkan untuk tidak punya anak lagi sebelum anak pertama berusia 2 tahun. Nah, dalam selang waktu tersebut mereka sepakat untuk mengikuti program KB. Bila alat KB yang dipakai bersifat hormonal maka sebaiknya mereka harus beristirahat di fase tertentu, tidak ber-KB sepanjang 2 tahun tersebut. Misalnya, setelah setahun pemakaian, ibu perlu istirahat dulu selama 1-2 bulan dengan melepas semua alat KB.
Bila memang masih takut hamil, untuk sementara waktu pakailah alat KB nonhormonal seperti kondom atau spiral. Hal ini perlu dilakukan agar organ-organ endokrin bisa bekerja lagi, tidak ditekan terus menerus. Pasalnya, pemakaian KB hormonal dalam jangka panjang akan menekan hormon-hormon reproduksi. Setelah beristirahat, bila memang cocok dengan alat KB sebelumnya, bisa dilanjutkan kembali.
Baca Juga: Memilih Jenis Kelamin Bayi Lewat Cara Medis, Mungkinkah?
- Asupan Gizi
Seperti halnya mobil, kalau lama tidak dihidupkan butuh waktu untuk menghidupkannya kembali. Demikian pula dengan ibu yang memakai KB hormonal cukup lama, butuh waktu untuk mencapai keseimbangan hormonal. Ibu diharapkan sabar menunggu. Namun pencapaian keseimbangan hormonal atau kesuburan, sangat individual. Ada yang hanya perlu waktu beberapa minggu bahkan ada yang hingga berbulan-bulan. Sebaiknya, dalam fase menunggu ini sebaiknya ibu perlu melakukan hal-hal yang dapat mendukung kebugaran tubuh. Misalnya mengonsumsi asupan gizi yang seimbang, menjaga stamina dengan berolahraga, tidak merokok, tidak minum alkohol, dan sebagainya.
Baca Juga: Cara Mendapatkan Kehamilan Anak Laki-laki atau Perempuan dengan Cara Tradisional