SMARTPARENT.ID Pernah kita mengejek anak? Bilang kalau ank pelit, bodoh, payah, pemalas, dan lainnya. Meski anak belum memahami betul artinya namun ejekan seperti ini harus dihindari.
Baca Juga: Kenapa Balita Suka Memukul Orangtuanya? Ini Jawabannya
Anak Belum Terlalu Paham Ejekan
Mengejek anak? mungkin tanpa sadar kita sudah melakukannya berulang kali. Ketika si kakak tidak mau berbagi makanan dengan adiknya, ketika anak tidak bisa melakukan hal-hal kecil, ketika anak sedikit-sedikit menangis, dan sebagainya. Ejekanpun tak hanya datang dari orang tua, tetapi juga dari orang-orang sekitar, entah om, tante, kakek, nenek, atau bahkan teman sebayanya.
Namun, ketika berulangkali ejekan sudah ditimpakan ke anak, dia tetap cuek, tidak peduli dengan apa yang lingkungannya lontarkan, misalnya, “eh si bodoh, pelit, malas, gendut,” dan sebagainya. Pasalnya, di usia ini anak belum memiliki pemahaman terlalu dalam terhadap kata-kata yang abstrak. Kata-kata ejekan yang biasanya keluar merupakan hal yang abstrak dan belum bisa dicerna anak.
Karena anak belum memahami ejekan yang ditujukan kepadanya maka sebenarnya tidak ada pengaruh langsung kepada anak. Anak akan biasa-biasa saja karena memang dia tidak memahami apa yang dikatakan orang kepadanya sehingga pendiriannya pun tidak berubah. Juga tidak ada respon negatif, seperti mengejek balik, memukul, menjambak, dan sebagainya. Kecuali bila dia sudah merasa diganggu, misalnya roti yang dipegangnya direbut, mungkin tindakan negatif baru muncul.
Baca Juga: Ini yang Perlu Moms Lakukan Anak Selalu Menangis Saat Meminta Sesuatu
Moms Harus Hindari Kata-Kata Negatif
Meskipun secara langsung tidak mempengaruhi perilaku anak, namun dianjurkan Moms menghindari ejekan-ejekan. Apalagi ejekan yang sifatnya mendiskreditkan anak yang langsung keluar dari mulut orang tua. Misalnya, anak diminta untuk melakukan satu hal, mengambilkan sepatu ayah misalnya, tetapi dia tidak berhasil melakukannya kemudian orang tua mengatakan, “bodoh kamu, begitu saja tidak bisa,” ini merupakan awal dimana anak mulai mengenal bahwa dirinya dalam konteks yang negatif.
Ejekan tidak memberikan solusi kepada anak. Sebaiknya kita berikan padanan kata yang bisa memberikan deskripsi lebih jelas kepada anak. Misalnya, untuk mengatakan pelit kita bisa menggunakan kalimat sepadan, yakni dengan mengucapkan kalimat sederhana, “Adek, adiknya minta rotinya, diberi ya, kamu kan sayang sama adik, jangan dimakan sendiri,” misalnya. Dengan kalimat seperti ini diharapkan anak bisa memahami apa yang kita katakan. Dengan begitu konsep sederhana tentang berbagi pun bisa anak lakukan.
Berbeda halnya dengan kata “pelit” yang kita ungkapkan. Ini tidak memberikan solusi buat anak. Demikian pula dengan kata-kata bodoh, lebih baik kita menggunakan kalimat lain, “Kok segini aja tidak bisa, kan mudah,” misalnya. Sangat dianjurkan untuk kemudian memberikan petunjuk agar anak bisa melakukannya. Atau kata-kata malas, cerewet, ceroboh, dan sebagainya.
Baca Juga: Yuk Moms, Ciptakan Anak Tangguh Lewat Latihan Problem Solving
Selain itu, bila ejekan terus menerus dilakukan kepada anak, mungkin saja, seiring dengan perkembangan pola pikirnya, anak berusaha memahami apa yang sering dicapkan orang lain. Apalagi di usia ini anak sudah mulai bisa menganalisis hal-hal kecil. “Kenapa ya ketika mama bilang aku bodoh, pelit, malas, selalu dengan mimik marah?” Nah, saat anak tahu bahwa itu adalah cap negatif yang dikenakan untuk dirinya tak mustahil akan tumbuh konsep negatif pada diri anak. Bila anak memahami kalau dirinya itu negatif di mata orang lain maka akan muncul rasa rendah diri, tidak disukai, yang nantinya akan berpengaruh terhadap perkembangan kepribadiannya.
Lebih parah lagi bila nanti anak masuk ke dalam fase usia prakonvensional, antara 8 sampai 12 tahun, bila penilaian negatif itu terus berkembang, akan sangat mempengaruhi pertumbuhan psikisnya. Apapun yang didapat anak saat balita merupakan identifikasi sejak awal. Ini merupakan bahan bakar dari apa yang nantinya terbentuk. Bila awalnya dia dicap buruk itu akan dia pegang sampai dia dewasa. Anak akan berusaha menyesuaikan antara ejekan yang sudah diterimanya sejak balita dengan keadaannya sekarang.