SMARTPARENT.ID Setiap orang memiliki masalah, anak-anak pun demikian. Saat bermain misalnya, ketika keinginannya tidak terpenuhi ia merasa kesal. Dan ini adalah masalah buat anak.
Baca Juga: Kenapa Ya, Anak Suka Pilih-pilih Teman? Ternyata Ini Penyebabnya
6 Langkah Membantu Anak Mengatasi Masalah
Yuk Moms, kita ajari anak problem solving supaya ia bisa mengatasi masalahnya sendiri. Anak yang terlatih melakukan problem solving sendiri kelak ia akan lebih tangguh menghadapi permasalahannya
- Dekati Anak
Ketika kita melihat anak menemukan masalah, hal pertama yang perlu kita lakukan adalah pendekatan. Cobalah masuk ke dalam perasaan anak dengan menunjukkan empati. Umumnya anak memerlukan orang sebagai tempatnya mengadukan permasalahan, empati yang kita tunjukkan akan membuatnya merasa mudah untuk mencurahkan isi hati.
- Tanyakan Apa Masalahnya
Bila kita menemukan anak sedang berkelahi karena berebut mainan kita bisa mengarahkan anak untuk belajar mengatasi masalah tersebut. Misalnya dengan diawali pelukan kemudian menanyakan dengan bijak apa yang menjadi sumber permasalah sehingga mereka berkelahi. Lalu kita berikan arahan apa yang seharusnya mereka lakukan. “Adek, ini mainan kakak, kamu kan sudah punya mainan sendiri,” misalnya. “Ini mainan kamu, ayo main bareng-bareng.”
- Jangan Menyalahkan Anak
Hindari menyalahkan anak. Misalnya dengan mengatakan, “Kamu jangan cari gara-gara, main yang benar tidak boleh berkelahi!” Mungkin anak bisa langsung diam namun hal ini bukan membuat anak sadar tetapi sangat mungkin perkelahian akan terulang dan terulang lagi. Juga dengan masalah lain, anak tidak pernah bisa menyelesaikan pasel, tidak bisa menentukan pilihan, atau yang lainnya.
- Moms Harus Sabar Menjelaskan
Kita tidak bisa mengharapkan anak akan langsung memahami apa yang kita ucapkan. Hal ini dikarenakan anak masih dalam pola pikir yang praoperasional. Namun kalau kita juga berpikir anak sama sekali tidak bisa memahami apa yang kita katakan adalah hal yang sangat tidak bijaksana. Anak bisa memahami apa yang kita katakan namun masih dalam batas kemampuannya yang minim. Untuk itu, diperlukan kesabaran dalam menjelaskan permasalahan yang sedang dihadapi anak.
- Menggunakan bahasa sederhana
Gunakan bahasa yang sangat sederhana. Jangan menggunakan bahasa yang terlalu panjang dan detail. “Kamu jangan berkelahi karena berkelahi itu akan menyakiti satu sama lain, kalau kamu menyakiti adikmu kamu akan berdosa,” misalnya. Tetapi cukup dengan bahasa yang sangat sederhana dan tidak menjelimet.
- Memberikan arahan untuk membantu anak mencari solusi
Solusi jangan datang hanya dari kita tetapi juga anak. Ajaklah anak untuk memikirkan jalan keluar dari masalah yang ada. Misalnya, ketika dia terlibat perkelahian dengan teman sebayanya apa yang harus anak lakukan. “Bila si Aldo rebut mainan kamu, sebaiknya apa yang harus kamu lakukan?” misalnya. Mungkin anak akan memberikan mainan tersebut, lari menghindar, atau mungkin dia mempertahankan miliknya.
Baca Juga: Si Balita Suka Pilih-pilih Teman? Selama itu Baik Lumrah Saja
Akan Lebih Tangguh Saat Punya Masalah
Banyak manfaat yang bisa didapat oleh anak bila kita memberi arahan dalam mengatasi masalah.
- Bila sejak dini sudah dibiasakan untuk belajar mengatasi masalah-masalah kecil umumnya anak akan lebih mampu mengatasi masalah bila di kemudian hari mendapati masalah yang sama. Biasanya adaptasi problem solvingnya akan lebih baik dibandingkan anak yang sama sekali tidak pernah dibiasakan.
- Selanjutnya, kelak anak yang terlatih untuk mengatasi masalah dia akan lebih mandiri untuk mengatasi masalah yang ada. Tidak mudah frustasi atau stres karena dia selalu berusaha untuk mencari solusi dan tidak mudah menyerah. Sebaliknya kalau dia selalu tergantung dengan orang lain maka ketika dihadapkan dengan masalah kecil sangat mungkin dia sulit mengatasinya sendiri dan mudah menyerah.
- Bila anak sering diajak berpikir maka otaknya terbiasa bekerja sehingga sambungan-sambungan neuron di dalam otak lebih banyak tercipta yang pada akhirnya akan membuat anak lebih cerdas. Bukankah ketika kita sedang memberikan arahan tentang apa yang harus dilakukan anak, di saat itu anak ikut berpikir yang secara langsung merangsang kerja otak.
- Lewat arahan yang kita diberikan berarti ada komunikasi antara kita dengan anak. Umumnya komunikasi di sini adalah komunikasi yang berkualitas. Komunikasi yang berkualitas akan membuat hubungan antara kita dengan anak semakin erat. Hal ini sangat positif, baik untuk pertumbuhan fisik anak maupun psikisnya karena dia merasa selalu diperhatikan oleh orang tuanya dan selalu ada jalan keluar terhadap permasalahan yang dihadapinya.
- Bila anak bisa keluar dari masalah berarti anak sudah terlepas dari beban. Ini sangat baik untuk membuat kondisinya stabil sehingga dia bisa menjalani aktivitasnya dengan ringan tanpa beban. Sebaliknya, bila anak dibiarkan menyimpan beban sendiri mungkin saja dia akan mengalami tekanan yang akan membuat kondisi emosinya tidak stabil, mudah marah, ngambek, kesal, dan sebagainya.
Baca Juga: Buah Hati Suka Mengumpat? Yuk Atasi, Jangan Dibiarkan