Sambil memberinya penjelasan, kita bisa mengajaknya berdiskusi. Tanyakan, kenapa anak mengucapkan kata-kata tersebut, dari mana dicontohnya, lalu untuk apa. Bilang padanya bahwa kata-kata itu tidak baik diucapkan karena akan membuat orang lain tersinggung dan marah. Selain itu, anak pun akan dijauhi oleh teman-temannya.
Baca Juga: Ini Lo Moms, Pemberian Tepat MPASI Buat Anak Usia 6-9 Bulan
* Boleh Memberi Hukuman
Bila pada kondisi tersebut kita butuh tindakan lebih keras, boleh saja menghukum anak. Namun hukumlah dengan sesuatu yang memang efektif membuat anak tidak melakukannya lagi. Misalnya dengan cara tidak membelikannya mainan, “Mama mau membelikan kamu mainan asal kamu tidak mengumpat dengan kata-kata kasar!” misalnya demikian. Jangan menghukum dengan tindakan fisik yang membuat anak merasa lebih tertekan. Khawatirnya, di kemudian hari, umpatan kasarnya akan lebih sering terdengar, di samping hal ini akan membuat anak semakin tertekan.
* Berikan Reward Jika Tak Mengumpat
Pada anak yang sulit menghilangkan kebiasaannya, reward dengan pujian bisa menjadi alat untuk mengatasinya. Bila sehari saja anak tidak terdengar mengumpat kotor atau ketika rebutan mainan anak diam saja, kita bisa memberinya pujian, “Anak Mama sudah pintar, ya, tidak mengumpat lagi!” misalnya. Namun, pujian alakadarnya saja, jangan sampai berlebihan karena akan membuat anak bosan dan reward tidak efektif lagi.
* Ganti dengan Kata-kata Lucu
Moms perlu mengajarkan sia anak bagaimana melampiaskan kemarahan atau kekesalannya dengan cara-cara yang pantas dilakukan. Memang, cara terbaik adalah sama sekali menghindari umpatan. Namun tidak setiap anak bisa menghindarinya apalagi umpatan bisa sebagai sarana ekspresi untuk melepaskan emosi yang kalau tidak dilakukan emosi akan tertahan di diri anak.
Moms bisa meminta anak untuk mengganti kata-kata umpatan dengan kata-kata yang lucu dan unik. Misalnya dengan mengganti kata anjing dengan lumba-lumba, monyet dengan burung dara, pesek dengan mancung, dan sebagainya.
Umpatan seperti ini boleh saja dilakukan anak. Anak yang sedang kesal, meluapkan emosinya bisa tersalurkan tanpa harus menghina atau merendahkan anak lain. Soalnya, bila emosi anak tidak dikeluarkan, mungkin saja secara emosi anak malah terganggu. Umpatan yang terdengar lucu ini pun, tidak membuat orang lain tersinggung atau marah.
Baca Juga: Pentingnya Memberikan MPASI Secara Benar pada Bayi Usia 10-24 Bulan