Road to Urological Association of Asia (UAA) Congress 2024: Indonesia Akan Kembangkan Inovasi Bedah Telerobotic Surgery

Photo Author
Hilman Hilmansyah, Smart Parent
- Kamis, 20 Juni 2024 | 10:00 WIB
Kongres Urological Association of Asia (UAA) akan kembali diadakan di Indonesia pada 5-8 September 2024 mendatang.  (Eugeunia Commucation/Dok)
Kongres Urological Association of Asia (UAA) akan kembali diadakan di Indonesia pada 5-8 September 2024 mendatang. (Eugeunia Commucation/Dok)

 “Penyakit urologi perlu mendapat perhatian dan penanganannya harus terus mengikuti perkembangan teknologi, seperti pada urolithiasis (batu kantung kemih), yang mana jumlah kasus, disability-adjusted life years (DALYs), dan kematian akibat batu kantung kemih terus meningkat secara global sejak tahun 1990. Isu penting lainnya adalah terkait transplantasi ginjal pada kasus gagal ginjal stadium akhir. Kebutuhan global akan transplantasi ginjal sangat besar dan terus meningkat karena beberapa faktor, termasuk meningkatnya angka penyakit ginjal kronis (PGK), populasi yang menua, serta prevalensi diabetes dan hipertensi sebagai faktor risiko utama PGK.

Dibandingkan dialisis, transplantasi ginjal memberikan outcome yang lebih baik dalam aspek kesintasan jangka panjang, kualitas hidup, dan biaya yang perlu dikeluarkan. Akan tetapi, masih terdapat kesenjangan antara kebutuhan donor ginjal dan suplai yang tersedia, dilihat dari 90.000 pasien yang berada di waiting list untuk transplantasi ginjal di Amerika Serikat pada tahun Kenyataan ini membuat kami menyoroti pentingnya pemantauan dan perencanaan terhadap sistem kesehatan, khususnya urologi, di masa depan,” tambah Prof. Ponco.

 Tahun ini, salah satu hal yang sangat disoroti adalah inovasi bedah telerobotik yang mulai diperkenalkan di Indonesia. “Kami memiliki harapan besar, khususnya bagi Indonesia, agar ke depannya mampu menjalankan bedah telerobotik secara mandiri. Hal ini tentu sangat berguna bagi peningkatan kualitas hidup pasien khususnya di Indonesia. Oleh sebab itu, kami sangat bangga bisa mengadakan press conference kami yang pertama ini, dengan harapan bahwa rekan-rekan media bisa membantu memberikan edukasi terkait UAA mendatang dan apa saja kemajuan bidang urologi saat ini,” tambahnya.

Prof. dr. Chaidir A. Mochtar, SpU(K), Ph.D, selaku Ketua Kolegium Urologi Indonesia dan dokter spesialis urologi, pada kesempatan yang sama menjelaskan kembali terkait prevalensi beberapa penyakit urologi di Indonesia, “Di Indonesia, Global Cancer Statistics menunjukkan bahwa kanker prostat adalah kanker kelima yang paling umum terjadi pada pria di Indonesia, dengan jumlah kasus baru sebanyak 13.563 pada tahun 2020. Lalu, untuk penyakit kanker ginjal, terdapat 2.394 kasus baru kanker ginjal dan 1.358 kematian pada tahun 2020,” jelasnya.

Baca Juga: Gangguan Bipolar atau Manic Depression, Kenali Gejalanya

 Penyakit berikutnya yaitu Batu Ginjal, tercatat sebanyak 6 per 1000 penduduk atau 1.499.400 penduduk Indonesia menderita Batu Ginjal. 

Prof. Chaidir menambahkan, ada banyak penyakit yang tergolong penyakit urologi, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Namun, ada beberapa gejala tertentu yang bisa menunjukkan bahwa seseorang mungkin perlu menemui dokter urologi untuk pemeriksaan lebih lanjut. “Beberapa gejala yang mengindikasi adanya kemungkinan penyakit urologi seperti adanya darah dalam urin, sakit saat buang air kecil, perubahan pola buang air kecil, inkontinensia (kesulitan menahan kencing atau bocor), nyeri di perut bagian bawah, ISK terlalu sering, atau pada pria bisa juga terjadi perubahan massa pada testis dan disfungsi ereksi. Jika mengalami hal-hal tersebut, ada patutnya kita curiga dan menemui dokter ahli,” kata Prof. Chaidir.

 “Memang, salah satu hambatan atau kendalanya adalah masyarakat cenderung abai, dan bahkan enggan memeriksakan diri karena takut didiagnosa penyakit tertentu. Tapi itu pemikiran yang salah, sebab jika ditemukan sejak awal, tentu akan bisa mendapatkan penanganan yang tepat. Dan jika diperlukan tindakan tertentu, pasien juga kini memiliki banyak pilihan teknologi inovatif, salah satunya yang sedang diuji coba di Indonesia yaitu telerobotic surgery,” jelasnya.

Robotic Telesurgery sendiri merupakan salah satu use case inovatif pemanfaatan internet 5G, memungkinkan dokter bedah untuk melakukan tindakan operasi terhadap pasien secara jarak jauh dan real-time, termasuk untuk kasus-kasus urologi. Pengembangan telerobotic surgery di Indonesia bekerja sama dengan Iran untuk menjalankan pilot project di tiga rumah sakit, yaitu RSUP Dr. Hasan Sadikin (Bandung), RSUP Dr. Sardjito (Yogyakarta), dan RSUP Haji Adam Malik (Medan). Teknologi ini menjadi salah satu highlight pada kongres UAA mendatang.

“Dalam aplikasi di bidang urologi, bedah robotik telah digunakan untuk melakukan operasi prostatektomi radikal dalam penanganan kanker prostat. Selain itu, bedah robotik dapat digunakan untuk laparoskopi nefrektomi radikal dengan menggunakan teknologi sistem Da Vinci yang ada di Indonesia. Saat ini kami juga memiliki harapan besar di masa depan untuk bisa mengimplementasikan bedah robotik di berbagai rumah sakit, dengan menggunakan sistem-sistem lainnya seperti Edge Medical Robotic dan SHURUI Single-port Endoscopic Surgical System dari negara Cina, Hinotori™ Surgical Robotic System dari Jepang, ataupun Mantra® dari India,” tutur Prof. Chaidir.

Teknologi bedah robotik kini berkembang menjadi telerobotik, yang artinya bisa dilakukan jarak jauh. Dokter berada di tempat yang berbeda dengan pasien, dan robotlah yang menjadi perpanjangan tangan dokter tersebut. Telerobotic surgery adalah proses yang kompleks, ada beberapa persyaratan utama terkait perangkat keras, fungsionalitas, dan teknis streaming/internet. Sistem ini mampu menerima dan mengubah data bedah secara real-time, memungkinkan ahli bedah untuk mengoperasi sambil duduk di konsol pada jarak jauh, dan melihat bidang bedahnya pada gambar 3D di layar. Sistem 1 Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013 Da Vinci menyediakan tiga atau empat lengan robot: satu lengan endoskopi, dan dua atau tiga lengan instrumen yang akan menjalankan perintah ahli bedah.

Baca Juga: Hari Raya Idul Adha, Hal Positif Ini Bisa Diajarkan pada Anak

Prof. Chaidir kembali menyatakan, jika teknik ini bisa dijalankan segera di Indonesia, tentu mampu memberikan keuntungan bagi pasien dan juga dokter. “Beberapa diantaranya adalah mampu menjangkau wilayah-wilayah terpelosok dan kualitas pelayanan RS pun jadi merata, mengeliminasi perjalanan jarak jauh apalagi bagi pasien yang sudah terminal, penggunaan teknologi robotik mampu meningkatkan akurasi bedah dan meminimalisasi rasa sakit, serta mengurangi infeksi atau penularan virus yang bisa terjadi jika pasien berpindah-pindah ke rumah sakit lain. Ditambah lagi, teknik ini memungkinkan adanya kolaborasi antar dokter bedah sehingga hasil lebih maksimal,” tuturnya.

Dr. dr. Ferry Safriadi, Sp.U(K), yang saat ini menjabat sebagai Ketua Ikatan Ahli Urologi Indonesia, turut memberikan pernyataan bahwa saat ini banyak dokter tengah menjalani pelatihan untuk menguasai penggunaan robot sebagai simulasi dalam teknologi telerobotic surgery. Para dokter bedah berlatih dengan menggunakan simulator dan pada tahap selanjutnya, pelatihan menggunakan jaringan hewan.

“Kongres UAA ini menghadirkan kolaborasi dengan organisasi urologi besar dari berbagai negara, sehingga diharapkan dapat menjadi ajang pertukaran ilmu dan inovasi antara ahli urologi di seluruh dunia. Ilmu dari kongres ini akan bermanfaat dalam menentukan pedoman pelayanan kesehatan terkini untuk perawatan pasien dan standar pelatihan dalam bidang urologi. Inovasi ini juga mencakup perkembangan dalam bidang ilmu telerobotik dengan mendatangkan sistem-sistem yang berpotensi untuk digunakan di Indonesia. Ke depannya, diharapkan teknik ini akan bisa diaplikasikan sehingga akan banyak orang yang tertolong dan kualitas hidup pun meningkat,” tutup Dr. Ferry.***

Halaman:

Editor: Hilman Hilmansyah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

Tips Menghadapi Baby Blues Syndrome

Kamis, 14 Agustus 2025 | 08:08 WIB

Apakah Perlu Birth Plan? Ini Penjelasannya

Senin, 4 Agustus 2025 | 13:27 WIB
X