Moms, Biarkan Sesekali Anak Bebas Bermain (2)

Photo Author
Irfan Hasuki, Smart Parent
- Kamis, 31 Oktober 2024 | 23:26 WIB
Mandi Hujan (Ben Mack/Pexels)
Mandi Hujan (Ben Mack/Pexels)

SMARTPARENT.ID Dalam artikel sesekali membebaskan anak bermain, sebelumnya dibahas tentang bermain pasir dan hujan-hujanan. Berikutnya dibahas permainan lain yang boleh Moms bebaskan ke anak. Kebebasan bermain ini diharapkan dapat membuat anak memiliki pengalaman baru, terstimulasi motoriknya, juga ia merasa puas dengan aktivitasnya tersebut.

Baca Juga: Moms, Biarkan Sesekali Anak Bebas Bermain (1)

3. Naik Turun/Panjat/Koprol

Kegiatan seperti ini, boleh saja dilakukan anak bahkan dianjurkan karena bentuk kegiatan seperti ini merupakan salah satu bagian usaha anak untuk bereksplorasi dengan tubuhnya. Anak yang mampu melakukan hal tersebut berarti anak memiliki kemampuan motorik yang sangat baik. Ini adalah hal yang positif untuk lebih merangsang kemampuan motoriknya. Nah sebagai orang tua sebaiknya kita tidak melarang anak untuk melakukannya tetapi memfasilitasinya.

Tapi, kita harus menjamin keamanan anak. Bila di rumah tidak memiliki matras mungkin bisa dilakukan di atas kasur. Namun yang terbaik kita bisa mengajaknya ke taman bermain di mana seluruh fasilitas yang tersedia lengkap dan terjamin keamanannya. Anak bisa naik-turun di atas sarana-sarana empuk yang memang dibuat khusus untuk arena bermain anak.

Bila ternyata di rumah tidak ada sarana, sebaiknya kita tidak memberikan kesempatan ke anak untuk melakukan aktivitas ini. Tentu harus dengan alasan tepat yang dapat dimengerti anak. Misalnya, kenapa anak tidak boleh koprol di lantai? Karena lantai dari ubin yang keras sehingga khawatir kepala atau bagian tubuh anak yang lain akan cedera. Demikian pula ketika anak naik ke atas lemari, hal ini perlu dilarang karena bila anak jatuh tidak ada alas yang bisa menyelamatkan dirinya dari luka. Ditambahlagi bila kemudian isi lemari ikut jatuh atau lemarinya sendiri.

Baca Juga: Yuk Moms, Kita Stimulasi Kemampuan Bicara Anak

Atau anak memanjat kursi, selama kursi tersebut dipanjat untuk diduduki atau bangkunya terbuat dari bahan yang empuk, mungkin boleh-boleh saja. Tapi bila kemudian anak sampai berdiri di sisi atau sandarannya yang khawatir akan membuatnya terjatuh mungkin hal ini perlu kita larang. Intinya, selama anak melakukannya dengan jaminan keamanan, anak boleh saja melakukannya.

Bila memungkinkan, sebaiknya sediakan satu ruangan khusus yang beralaskan matras dan semua benda di sekelilingnya terbuat dari bahan yang empuk. Namun hal ini kan tidak bisa dipenuhi oleh semua keluarga. Sayang kan bila kreativitas dan daya eksplorasi anak tidak tersalurkan. Mungkin nantinya anak akan jadi suka mengganggu temannya, sangat aktif, karena kemampuannya tidak tersalurkan. Akhirnya kita melabel anak sebagai anak yang nakal. Jadi yang bisa dilakukan adalah dengan mengajak anak main di tempat bermain anak yang keamanannya terjamin.

4. Aktivitas Mencorat-coret

Hal ini kembali ke kebijaksanaan orang tua. Tapi kita kan sebenarnya sudah tahu bahwa pada usia ini anak butuh eksplorasi yang luar biasa. Misalnya, ketika melihat ayah atau ibunya menulis dia tertarik dan akan melakukan hal yang sama seperti apa yang ditunjukkan oleh ayah-ibunya. Namun, di usia ini kemampuan motorik atau kognitif anak belum terbentuk sempurna. Anak tidak bisa menuliskan huruf secara benar masih berupa coretan-coretan besar. Anak pun belum bisa membedakan di mana sebaiknya dia boleh menulis. Ketika anak menyentuhkan alat tulisnya ke dinding kemudian tintanya membekas dia akan melakukannya terus menerus.

Ada baiknya, agar aktivitas anak itu bisa leluasa dilakukan tanpa mengganggu keindahan rumah, pilihlah satu ruangan atau dinding yang khusus diberlakukan untuk anak mencorat-coret. Bila memang kita ingin tetap menjaga kebersihan dinding, tempelkanlah kertas buram di dinding sehingga coretan-coretan anak tetap tidak mengotori dinding karena kertas bisa kita buka kembali.

Baca Juga: Banyak Gangguan Bicara Anak, Cari Tahu Yuk Moms

Tentu, kita berikan pula penjelasan ke anak bahwa di tempat mana dia boleh mencoret dan di tempat mana yang tidak dengan kata-kata sederhana. Misalnya, kamu tidak boleh mencorat-coret di ruang tamu karena nanti kalau ada tamu ruangannya kotor dan tamu tidak mau lagi datang ke rumah kita, misalnya. Penjelasan ini mungkin perlu dilakukan setiap kali anak ingin mencoret karena anak di usia ini mudah lupa. Lambat laun pun dia akan tahu di mana tempat khusus untuk dia mencoret. Dengan begitu anak pun akan dididik untuk mengetahui boleh dan tidak.

Halaman:

Editor: Irfan Hasuki

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

Bagaimana Mengajarkan Empati pada Anak Balita?

Kamis, 12 Juni 2025 | 20:40 WIB

Moms, Aku Mau Videocall Ayah!

Rabu, 26 Februari 2025 | 07:56 WIB

Ketika Anak Tak Mau Pakai Baju, Bolehkah Kita Memaksa?

Selasa, 25 Februari 2025 | 21:18 WIB

Jangan Mengancam Anak Tetapi Berikan Ia Penjelasan

Selasa, 25 Februari 2025 | 20:51 WIB

Moms, Jangan Pernah Mengancam Anak, Ya!

Selasa, 25 Februari 2025 | 20:41 WIB

Biarkan Anak Corat-coret, Disitu Tumbuh Kreativitas

Senin, 24 Februari 2025 | 17:06 WIB

Moms, Perlu Lo Sesekali Anak Dibebaskan Bermain

Senin, 24 Februari 2025 | 15:52 WIB

Bila Anak Suka Tak Sopan, Ini Cara Mengatasinya

Sabtu, 22 Februari 2025 | 21:14 WIB

Ini Manfaat Buat Anak Saat Belajar di Meja Makan

Jumat, 21 Februari 2025 | 15:37 WIB

Saat Makan Saatnya Anak Belajar

Jumat, 21 Februari 2025 | 14:47 WIB
X