Anak Meniru Hal Negatif? Ini 5 Langkah yang Perlu Dilakukan

Photo Author
Irfan Hasuki, Smart Parent
- Sabtu, 31 Agustus 2024 | 23:17 WIB
Mengatasi anak suka bmengejek memang tidak mudah. Perlu cara tepat mengatasi anak suka berteriak (Pexels/Stephen Andrews)
Mengatasi anak suka bmengejek memang tidak mudah. Perlu cara tepat mengatasi anak suka berteriak (Pexels/Stephen Andrews)

Bentuk pengabaian ini, pada beberapa kasus, tidak akan mengubah perilaku anak. Contohnya, ketika anak berkata dan berperilaku manis dia tidak mendapatkan perhatian atau pujian, selalu dicuekin. Demikian pula ketika anak kemudian mengucapkan kata-kata kasar, terlalu agresif, dia juga tetap dicuekkan. Hal ini bukan mengatasi masalah anak tetapi malah menambahnya. Mungkin saja anak akan merasa tidak dipedulikan oleh ayah ibunya. Buntut-buntutnya dia bisa berkembang jadi anak yang frustrasi karena merasa tidak dipedulikan. Kemudian berkembang perilaku-perilaku yang tidak tepat, karena anak memang tidak tahu ucapan atau tindakan apa yang tepat untuk diutarakan.

Nah, sebaiknya ketika anak kemudian berkata dan berperilaku manis, kita harus meresponnya dengan antusias. Hal ini akan membuat anak belajar bahwa kalau ingin meminta perhatian atau ingin sesuatu harus dengan kata-kata atau ucapan yang baik. Kalau orangtua terbiasa memberikan perhatian, pujian, ungkapan sayang dan terimakasih ketika anak berbuat baik maka kemungkinan besar anak akan lebih suka melakukan perbuatan yang baik.

Sebaliknya kalau anak tidak mendapatkan kesenangan apapun ketika melakukan perbuatan baik, orang tuanya hanya memberikan perhatian ketika dia melakukan perbuatan yang buruk, kemungkinan akan berulang yang buruk.

Baca Juga: Bebaskan Anak Bermain Bola, Manfaatnya Banyak Lo Moms

3. Langsung Bertindak

Lain hal bila peniruan anak sudah menyangkut ke hal-hal yang berbahaya. Misalnya, karena melihat temannya memegang-megang stop kontak listrik kemudian anak mengikutinya, atau kegiatan yang berbahaya lain, seperti  pegang kompor, nyebrang jalan, dan sebagainya, orang tua harus langsung bertindak. Soalnya, bila tindakan telat dilakukan akibatnya bisa sangat fatal. Namun yang perlu diperhatikan, kita tidak perlu marah-marah, jelaskan saja bahwa apa yang sedang dilakukan anak sangat berbahaya. Tak sampai di situ, kita harus bersaha untuk mencarikan aktivitas lain yang bisa dilakukan agar anak lupa dan tidak mengulangi kegiatan yang berbahaya tadi.

4. Moms Perlu Berkominikasi

Terkadang, komunikasi langsung ketika anak melakukan peniruan negatif perlu juga dilakukan. Artinya, kita tidak memilih mengabaikannya tetapi mengomunikasikan kesalahan anak. Misalnya mengomunikasikan bahwa tingkah laku yang dilakukannya tidak baik, tentu harus dengan bahasa yang sangat sederhana mengingat pemahaman anak masih sangat dangkal.

Kalau hal ini ditiru karena faktor lain, misalnya si kakek tidak mau makan sayur bayam karena kakek asam urat kemudian anak tidak mau memakannya karena melihat kakek, kita jarus berikan penjelasan ke anak bahwa kakek punya suatu penyakit yang kalau makan bayam bisa membuat sakitnya bertambah parah. Sementara anak tidak punya penyakit tersebut, dan makan bayam justru akan menambah kekuatan dan kesehatannya. Maka dia perlu makan bayam.

5. Hilangkan Contoh Negatif

Terkadang, contoh negatif bukan datang dari orang lain melainkan dari diri kita sendiri. Kalau kita sendiri terus menerus memberikan contoh negatif, anak akan terus pula melakukan hal negatif karena contohnya dekat dengan dia. Nah, kita harus menghilangkan kata-kata atau perilaku negatif, setidaknya di depan anak. Untuk itu, apa yang menjadi sumber peniruan anak harus dihilangkan.

Sebaiknya kita perlu lebih berhati-hati dalam bersikap dan berperilaku di depan anak. Bila contoh negatif terus menerus ditunjukkan kemudian proses peniruan ini didiamkan, khawatir hal ini akan berlanjut ketika anak menginjak usia prasekolah. Pasalnya, pada tahap selanjutnya anak tidak hanya menyontoh bicara dan tingkah laku kita, tetapi sudah mulai mencoba mengikuti karakteristik kita. Akhirnya, anak bukan hanya meniru tetapi perilaku negatif yang dicontohnya dijadikan sebagai bagian dari dirinya yang sulit dilepas. Bila kita sering mengucapkan kata-kata kasar, makan sambil berbicara, bersikap kasar, tak mustahil anak pun akan seperti itu. Hal ini merupakan proses alamiah dan terjadi sebagai atau bagian dari perkembangan kepribadian setiap anak.

Halaman:

Editor: Irfan Hasuki

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

Bagaimana Mengajarkan Empati pada Anak Balita?

Kamis, 12 Juni 2025 | 20:40 WIB

Moms, Aku Mau Videocall Ayah!

Rabu, 26 Februari 2025 | 07:56 WIB

Ketika Anak Tak Mau Pakai Baju, Bolehkah Kita Memaksa?

Selasa, 25 Februari 2025 | 21:18 WIB

Jangan Mengancam Anak Tetapi Berikan Ia Penjelasan

Selasa, 25 Februari 2025 | 20:51 WIB

Moms, Jangan Pernah Mengancam Anak, Ya!

Selasa, 25 Februari 2025 | 20:41 WIB

Biarkan Anak Corat-coret, Disitu Tumbuh Kreativitas

Senin, 24 Februari 2025 | 17:06 WIB

Moms, Perlu Lo Sesekali Anak Dibebaskan Bermain

Senin, 24 Februari 2025 | 15:52 WIB

Bila Anak Suka Tak Sopan, Ini Cara Mengatasinya

Sabtu, 22 Februari 2025 | 21:14 WIB

Ini Manfaat Buat Anak Saat Belajar di Meja Makan

Jumat, 21 Februari 2025 | 15:37 WIB

Saat Makan Saatnya Anak Belajar

Jumat, 21 Februari 2025 | 14:47 WIB
X