Menanak Sagu Lebih Mudah dengan Sagu Cooker

Photo Author
Irfan Hasuki, Smart Parent
- Minggu, 2 Agustus 2026 | 14:55 WIB
Perkenalan Bellatrix kepada masyarakat Toraja. Sagu Cooker.  (Bellatrix/Dok)
Perkenalan Bellatrix kepada masyarakat Toraja. Sagu Cooker. (Bellatrix/Dok)

SMARTPARENTS.ID Sejak ribuan tahun lalu, Sagu digunakan sebagai makanan pokok, terutama bagi masyarakat yang tinggal di bagian timur Indonesia seperti Maluku, Papua, juga Sulawesi. Kenapa? Mungkin awalnya ini terkait dengan bentuk geografi di wilayah timur Indonesia yang tanahnya berupa rawa-rawa atau gambut. Di tanah seperti ini padi susah sekali tumbuh sementara pohon sagu, tumbuh begitu subur. Ditambah pohon sagu bisa hidup hingga 15 tahun dan bisa dipanen berkali-kali. Sekali panen pun hasilnya banyak. Sementara padi beberapa bulan sekali harus ditanam untuk sekali panen. Dengan kata lain, konsumsi sagu jauh lebih murah.

Baca Juga: GloUtopia Kolaborasi Unilever Indonesia dan Shopee di “Hyper Brand Day”

Tak hanya itu, sagu pun memiliki manfaat yang banyak buat tubuh. Sebab, sagu mengandung 90% karbohidrat yang fungsi utamanya sebagai sumber energi. Dibandingkan makan nasi, makan sagu lebih cepat mengembalikan energi tubuh. Sagu pun bebas gluten sehingga aman buat penderita alergi gluten, mudah dicerna, tidak bikin kembung sehingga cocok buat semua usia. Namun, meski sagu mengandung kalsium, fosfor, zat besi, protein, serat, namun kandungannya rendah sehingga perlu ada makanan tambahan, seperti lauk-pauk dan sayur untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Bagi masyarakat Indonesia timur, menjadikan sagu sebagai makanan pokok sudah turun temurun. Dengan kata lain, warisan nenek moyang yang tidak bisa ditinggalkan. Tetapi, proses dari sagu untuk menjadi makanan yang siap dikonsumsi cukup lama. Tidak seperti beras, dimasukkan rice cooker, dicampur air, lalu ditanak, beberapa menit kemudian matang. Sementara sagu, jika ditilik ke belakang, belum ada alat seperti rice cooker yang bisa “menyulap” sagu siap dikonsumsi. Untuk bikin papeda misalnya, kita ambil 3-4 sendok tepung sagu mentah, seduh dengan air panas mendidih sambil terus diaduk sampai berubah jadi bening, kental, dan lengket. Proses ini butuh waktu 2-3 jam sebelum siap disajikan di mangkuk.

Baca Juga: Baby Wise, Menyediakan Kebutuhan Bayi yang Lengkap, Aman, dan Nyaman

Padahal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Food and Agriculture Organization (FAO) sudah menyatakan bahwa sagu adalah makanan masa depan dan perlu dikembangkan juga dimasyarakatkan. FAO melihat pohon sagu jauh lebih tahan iklim dibandingkan padi, meskipun kekeringan pohon sagu tetap tumbuh karena akarnya kuat dan masuk jauh ke dalam tanah, pohon sagu pun tidak perlu dipupuk secara berkala seperti pohon padi, dan hasil panennya bisa sangat melimpah. FAO pun melihat, di tahun 2050 penduduk dunia 10 miliar, lahan subur makin sempit, cuaca makin aneh, sagu bisa menjadi jawaban akan kebutuhan pangan tak hanya di Indonesia tetapi juga dunia.

Dengan alasan itulah, juga karena ingin menjaga tradisi nenek moyang, seorang putri asal Palopo, Sulawesi Selatan, Aurora Bellatrix Dakka BA (Hons) melakukan inovasi yakni membuat alat penanak sagu (sagu cooker) seperti penanak nasi (rice cooker). Alat yang ia berinama Bellatrix ini, diharapkan bisa menjadi solusi bagi masyarakat dalam proses pengolahan sagu menjadi makanan siap santap. “Bagi saya, sagu bukan sekadar bahan makanan tetapi sagu adalah warisan budaya Nusantara yang memiliki nilai ekonomi sekaligus identitas yang patut dipertahankan,” jelas pendiri PT. Sagu Cooker Indonesia ini. Sebab ia melihat bahwa salah satu tantangan terbesar dalam pelestarian pangan lokal adalah proses pengolahannya yang masih rumit bagi sebagian masyarakat. Karena itu, ia mencoba menghadirkan solusi yang sederhana namun relevan dengan kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga: Bela Dokter Icha, Dokter Konsulen Bagikan Cerita saat Mendiang Berkonsultasi soal Pasien

Prof. Dr. Ir Dorothea Agnes Rampisela, M.Sc guru besar UNHAS sekaligus kepala pusat litbang Universitas Hasanuddin Makassar, yang juga dikenal sebagai Profesor Sagu, mendukung apa yang sudah dihasilan Aurora. Menurutnya, inovasi ini bisa menjadi solusi modern agar masyarakat Indonesia Timur dapat mengolah pangan lokal secara lebih mudah, higienis, efisien, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi sagu sebagai salah satu identitas pangan Nusantara. Ia mengungkapkan hal tersebut di sela-sela acara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-18 Kabupaten Toraja Utara, Sabtu (25/7/2026). Apalagi, tambah Agnes, sagu salah satu pangan asli dari Indonesia yang merupakan penghasil sagu terbesar di dunia. Kandungan karbohidratnya pun tertinggi dibandingkan tanaman penghasil karbohidrat lainnya. Satu batang Sagu yang dipanen dapat dikonsumsi oleh lima anggota keluarga dalam jangka waktu satu tahun. Potensi ini, Sagu mampu memberikan sumbangsih ekonomi untuk masyarakat lokal.

Pada acara ini, hadir pula Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman. Dalam sambutannya, Andi Sudirman Sulaiman mengapresiasi lahirnya inovasi tersebut sebagai bukti bahwa generasi muda mampu menghasilkan teknologi yang berangkat dari kebutuhan masyarakat. Menurutnya, inovasi seperti Sagu Cooker tidak hanya memudahkan aktivitas sehari-hari, tetapi juga memperkuat identitas pangan lokal sekaligus membuka peluang ekonomi baru berbasis komoditas sagu. Pada kesempatan itu pula, beliau pun menyerahkan bantuan Sagu Cooker kepada masyarakat di Toraja.

Baca Juga: Dewan Pendidikan Nasional Dorong Gerakan Nasional Literasi dan Numerasi untuk Perkuat Daya Saing Bangsa

Tak hanya sampai di sini, Gubernur Andi Sudirman Sulaiman pun menggagas untuk memberikan sumbangan sagu cooker kepada lebih banyak lagi masyarakat khususnya yang berada di wilayah Indonesia Timur. Hal ini, menurut Andi Sudirman Sulaiman, sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan berbasis inovasi daerah. Juga memiliki keterkaitan dengan arah pembangunan nasional melalui Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam penguatan ketahanan pangan, diversifikasi pangan lokal, pemberdayaan ekonomi desa, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan teknologi tepat guna.

Rencananya, penyerahan bantuan Sagu Cooker yang lebih banyak lagi akan dilaksanakan nanti bertepatan dengan Festival Sagu Merah Putih, 19-21 Agustus 2026 di istana Kedatuan Luwu, Palopo, Sulawesi Selatan. Di festival ini pun akan ada banyak kuliner yang berbahan dasar sagu. Para UMKM di Kawasan Timur Indonesia (KTI) memiliki kesempatan berpartisipasi secara gratis di festival ini.

Editor: Irfan Hasuki

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

Menanak Sagu Lebih Mudah dengan Sagu Cooker

Minggu, 2 Agustus 2026 | 14:55 WIB

Terpopuler

X