SMARTPARENT.ID Jika anak suka berkata kasar, mengejek, mencaci, Moms harus segera mengatasinya. Perilaku negatif ini tidak baik dilakukan anak. Apalagi kalau tingkah laku tersebut sudah sampai merugikan dirinya ataupun bagi orang lain, seperti citra diri menjadi negatif atau anak lain marah akhirnya berkelahi. Kalau hal ini dibiarkan terus, anak jadi tidak tahu batasan mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak.
Memang, dengan membiarkannya bisa saja ucapan atau perilaku tersebut akan hilang sendirinya. Namun kalau anak terus menerus mendapatkan contoh yang negatif, mungkin saja akan menetap dan di kemudian hari akan menjadi anak jadi yang antisosial, tidak paham aturan dan norma sosial, semaunya, tidak peduli dengan orang lain, dan sebagainya. Ini tentu sangat merugikan perkembangan anak sendiri.
Baca Juga: Kenapa si Kecil Suka Berkata Kasar? Ini Jawabannya
Meskipun terkadang agak sulit mengatasinya namun Moms tetap sabar dan tenang. Anak batita masih bisa diatur. Untuk itu, otoritas kita sebagai orang tua harus segera digunakan. Pasalnya, bila hal ini didiamkan mungkin kita akan lebih repot ketika harus menanganinya saat usianya sudah lebih besar. Beberapa hal ini bisa dilakukan:
1. Perhatikan Perkataan Anak
Ketika anak melakukan hal negatif akibat dari peniruan, segera telaah apakah tingkah laku itu membahayakan dia dan sekitarnya atau tidak. Misalnya, anak mengucapkan “ejekan” kepada temannya, bila kata-kata yang digunakan halus, seperti “Kamu kayak kupu-kupu!” mungkin hal ini tidak perlu diambil pusing karena ejekannya berupa kalimat yang tidak kasar dan temannya mungkin tidak akan tersinggung. Mungkin, dengan cara itu anak malah akan mendapatkan manfaat, dia bisa melepaskan kekesalannya tapi tidak sampai membuat anak lain marah.
2. Bisa dengan Mengabaikan
Nah, jika jika peniruannya sudah mengarah kasar, kotor, atau jorok, kita perlu melakukan tindakan. Salah satunya dengan mengabaikan apa yang sedang dilakukan anak. Misalnya, ketika anak mengucapkan kata-kata Anjing, Bego, Jelek, atau yang lainnya, kita abaikan ataua tidak pedulikan sambil mencurahkan perhatian pada kegiatan lain, baca buku misalnya. Usahakan jangan memperlihatkan kekesalan kita kepada anak, tapi perlihatkan ketidakpedulian kita.
Meskipun sekilas terlihat cara ini tidak akan mengatasi masalah tapi sebenarnya cara inilah yang efektif untuk membuat anak tidak mengulangi ucapan atau perilaku negatifnya. Mungkin tujuan anak melakukan itu karena ingin mencari perhatian tapi dengan mengacuhkannya dia akan merasa bahwa tindakannya tidak berhasil. Sebaliknya, kalau kita begitu surprise atau kaget anak akan merasa bahwa hal seperti itu berhasil menarik perhatian orang tuanya dan tidak mungkin dia akan mengulangi dan mengulanginya lagi.
Banyak kan orang tua yang ketika anaknya duduk manis nonton tv, makan dengan baik, mengantri dengan tertib, tidak diberikan perhatian apapun. Mereka menganggapnya itu hal yang seharusnya dan biasa. Sehingga anak tidak mendapatkan kesenangan apapun dari melakukan hal-hal yang seharusnya dia lakukan itu.
Baca Juga: Anak Saya Tidak Bisa Diam, Hiperaktif Bukan Ya?
Sebaliknya, ketika anak melakukan suatu hal yang tidak kita inginkan, misalnya membuang barang ketika kesal, berteriak-teriak ketika ada tamu, menarik-narik telpon ketika kita sedang menggunakannya, kita malah bereaksi, bisa ngomel, melotot, marah, dll. Nah, anak merasa mendapatkan perhatian dari orang tua, dan hal inilah yang membuat dia senang yang kemudian diulang kembali di lain waktu.
Pokoknya, jangan sampai anak mengira bahwa itulah perilaku yang membuat dia akan mendapatkan perhatian, meskipun hanya berupa delikan mata, tampang kesal, dengusan jengkel, karena merupakan bentuk perhatian yang bisa menguatkan perilakunya.
Pada anak ada yang namanya "hukum perilaku" yang menyebutkan bahwa suatu perilaku diulang karena memberikan efek positif bagi si pelaku, baik yang dirasakan maupun yang dipersepsi. Maksudnya, dengan perilaku tertentu anak mendapatkan apa yang diinginkannya, maka dia akan mengulangi lagi perilaku itu. Begitu pula kalau dia melihat orang lain mendapatkan keuntungan dari suatu perilaku, maka dia akan cenderung meniru dan mengulang perilaku itu.