SMARTPARENT.ID Banyak yang surprise ketika si kecil yang masih batita ternyata sudah mampu berhitung. Meskipun terkadang ucapannya masih tidak jelas dan terbolak-balik urutannya, tetapi kita tetap surprise dengan kemampuannya itu. “Satu, dua, tiga, lima, tujuh,” dan seterusnya.
Dengan kemampuan yang berhasil ditunjukkannya itu, banyak orang tua beranggapan bahwa anak tersebut akan menjadi anak yang cerdas kelak. Memang cukup beralasan, namun perlu stimulasi lanjutan. Namun seringkali, kemampuan yang sudah ditunjukkan anak tidak dibarengi dengan stimulasi yang benar dari orang tua. Misalnya, karena anak terlihat cerdas berhitung, orang tua pun menuntutnya untuk menghapal berbagai simbol angka. Ada yang langsung menstimulasinya sendiri atau memasukkannya ke preschool lebih dini.
Baca Juga: Mau Memberikan Mainan Edukatif Buat Anak? Ini Lo Moms Panduan Memilihknya Sesuai Usia Anak
Sebenarnya, meskipun batita sudah bisa mengucapkan angka, dari 1 sampai 10 misalnya, belum tentu mereka paham dengan apa yang diucapkannya. Anak belum tentu mengerti konsep dari bilangan yang diucapkannya itu.
Kemampuan ini biasanya bukan karena anak benar-benar memahami, baik simbol maupun urutannya tetapi didapat dari pengaruh luar, menyontoh atau tanpa sadar orang tua sudah memperkenalkannya. Bila kakaknya sering berhitung dengan keras di depannya, lambat laun anak bisa mengikutinya. Apalagi kalau si kakak berhitung sambil bernyanyi. Kalau orang tua tidak pernah menyontohkannya apalagi memperkenalkannya kemudian tiba-tiba anak mampu mengucapkannya, kemungkinan dia mendapat contoh dari orang lain, entah tetangga, kakek-nenek, televisi, dan sebagainya. Pokoknya, ada orang yang pernah memberi contoh.
Demikian pula dengan anak yang sering memperkenalkan angka secara langsung. Tentu kemampuan mengucapkan angka demi angka bisa muncul dengan sendirinya. Tapi apakah anak memang benar benar sudah paham dengan apa yang diucapkannya, kita perlu menelusurinya lagi.
Baca Juga: Apa Saja Sih Mainan Edukatif Itu? Ini Ciri-cirinya Moms
Untuk sekedar memperkenalkan angka, tidak ada batasan kapan mereka boleh diperkenalkan. Bahkan boleh saja bila Moms sudah memperkenalkannya sejak bayi bahkan sejak masih di dalam kandungan. Asal, ketika memperkenalkannya kita tidak menuntut anak untuk memahami apa yang kita kenalkan itu. Misalnya, ketika kita mengenalkan angka 1, 2, dan 3, jangan memintanya untuk cepat menghapalnya. Pokoknya jangan mengenalkan secara berlebihan, kita harus bisa menyadari sejauh mana respon yang diberikan anak dan tidak mengharapkan respon berlebihan seperti dia langsung bisa memahami konsep bilangan tersebut.