Kebiasaan menakut-nakuti anakpun akan menciptakan rasa panik pada anak. Misalnya, ketika malam hari anak tidak mau tidur kemudian kita sering menakut-nakutinya, “Awas, kalau kamu tidak mau tidur nanti datang makhluk buas dari ruangan yang gelap itu!” Kalimat demikian akan membuat anak menciptakan halusinasinya sendiri yang akhirnya membuatnya takut. Nantinya, ketika dia melihat ruangan gelap, suasana gelap, atau kegelapan lainnya akan muncul kepanikan.
Moms sebaiknya jangan pernah menakut-nakuti anak. Jika Moms ingin agar anak patuh sebaiknya buat peraturan yang didiskusikan bersama anak. Misalnya, jika kita ingin anak sudah tidur jam 21.00, komunikasikan dengan baik lalu ajak anak mematuhinya tanpa ada tekanan ini dan itu.
- Pernah Mengalami Trauma
Trauma bisa sangat mempengaruhi kepribadian anak selanjutnya karena bayangan trauma akan membekas kuat di dalam diri si anak. Misalnya, anak mengalami kejadian yang sangat tidak diduga sebelumnya. Ketika dia sedang bermain di halaman rumah misalnya, kemudian muncul orang gila tepat di depannya. Dengan wajah coreng-moreng, pakaian carut-marut, serta dengan racauan yang tidak karuan, mungkin akan membuat anak merasa sangat ketakutan. Nah, bila hal ini membuatnya trauma, mungkin di lain waktu anak melihat orang gila lain, kepanikannya akan mudah muncul. Biasanya, kepanikan akibat trauma sulit segera dihilangkan. Mungkin saja di usia 7-8 tahun kepanikannya terhadap orang gila masih tetap membekas.
Yang perlu Moms lakukan, hindari anak dari sumber ketakutannya. Misalnya, jika anak trauma pernah dicakar kucing, untuk sementara jangan pelihara kucing di rumah. Jika traumanya sudah mulai mereda, Moms bisa menunjukkan betapa kucing bisa diajak bermain, tidak galak, lucu, dan lainnya. Tetapi kalau traumanya kuat, Moms bisa berkonsultasi ke psikolog.
Baca Juga: Ih… Kecil-kecil Kok Suka Mengejek
- Takut Sesuatu yang Asing
Kepanikan bisa timbul karena sesuatu yang asing. Entah badut yang belum pernah dilihat sebelumnya, suara petir yang menggelegar, patung model, atau hal lain. Ketika mendengar suara petir yang menggelegar misalnya, sebenarnya anak berusaha untuk mencerna dan mencari tahu suara tersebut. Namun karena terasa begitu asing dan mengagetkan, rasa paniklah yang muncul lebih kuat.
Moms bisa menenangkan anak. Peluklah ia lalu jelaskan bahwa suara yang baru didengarnya adalah petir. “Petir berada di langit, kita aman karena berada di dalam rumah.”misalnya.