Berikut 7 langkah untuk mencegah maupun mengatasi anak yang sedang mengalami panik.
- Hindari Pola Pendidikan yang Salah
Pendidikan dalam keluarga adalah hal yang sangat penting untuk mendukung perkembangan kepribadian anak. Sebaiknya kita menghindari pola-pola yang salah dalam mendidiknya. Misalnya, ketika memintanya untuk tidak nakal kita menggunakan ancaman, “Awas, ya, kalau kamu nakal nanti didatangi badut, dia akan menyambukmu dengan keras!” misalnya. Pola pendidikan seperti ini akan memicu munculnya ketakutan anak. Bila hal seperti ini sering didapatinya bukan hal mustahil anak akan menjadi pribadi yang mudah panik. Sebaiknya, gunakan pola yang membuat anak terpacu untuk tidak nakal. Misalnya dengan memberikan alasan logis kenapa anak tidak boleh nakal. “Kalau kamu nakal nanti tidak disukai oleh temanmu, mereka akan menjauhi kamu. Mau kalau kamu main sendirian?”
- Ciptakan Situasi Nyaman
Rasa aman dan nyaman merupakan suasana yang kondusif untuk perkembangan kepribadian anak. Janganlah sesekali membuat anak merasa terancam dan ketakutan. Misalnya, ketika harus pergi tidur, anak selalu dibujuk dengan menakut-nakutinya. “Lihat, di luar sudah gelap, nanti genderuwo akan muncul kalau kamu tidak tidur!” misalnya. Kata-kata seperti ini akan membuat anak merasa takut bahkan panik bila malam tiba. “Jangan-jangan genderuwo bakal muncul dari dalam gelap!” mungkin seperti ini kepanikannya.
- Persiapkan Terhadap Hal Baru
Setiap hari, mungkin anak akan menghadapi hal baru. Entah menyenangkan atau malah menakutkan. Mempersiapkannya untuk menghadapi hal yang mungkin menakutkan dan membuat anak panik terkadang perlu dilakukan. Ketika akan pergi ke tempat yang mungkin ada badutnya, sebelumnya kita mempersiapkan anak untuk mengahadapi pertemuannya dengan badut. “Nanti di Ancol ada badut, kamu tidak perlu takut karena badutnya baik dan lucu!” Misalnya. Atau ketika sedang menyaksikan televisi yang ada badutnya, “Lihat, itu namanya badut, lucu, ya!”
- Temani Anak Menghadapi Situasi Baru
Jangan membiarkan anak menghadapi kepanikannya sendiri karena dia butuh sandaran untuk berlindung. Saat panik bertemu dengan badut, berusahalah untuk berada di sisinya dengan menyediakan tubuh kita untuk tempatnya berlindung. Elusan, belaian, dekapan, bisa membuat anak merasa tenang. Jangan malah membiarkannya menangis sendirian karena akan membuatnya bertambah panik.
- Orang Tua Jangan Ikut Panik
Terkadang sifat tantrum anak keluar yang mungkin sangat merepotkan kita. Menghadapi situasi seperti ini kita jangan malah panik. Kepanikan orang tua akan menambah kepanikan anak.
- Pisahkan Dari Sumber Kepanikan
Bila anak tidak bisa ditenangkan sebaiknya jauhkan dia dari hal yang membuatnya panik. Panik karena melihat badut misalnya, maka jauhkan anak dari badut tersebut agar kepanikannya segera hilang.
- Biarkan Anak Mengeluarkan Emosinya
Karena panik biasanya ada perasaan yang ingin dilampiaskan anak. Entah ingin menangis, berteriak, atau mengepalkan tangannya. Biarkan perilaku anak terekspresikan agar dia bisa melepas luapan emosinya. Jangan malah membentak atau memarahi anak untuk diam. Apalagi ditambah dengan kata-kata yang memojokkannya.
Baca Juga: Anak Perfeksionis, Positif dan Negatifnya, Mana yang Lebih Banyak.