SMARTPARENT.ID Ketika anak sedang bermain di taman, tiba-tiba muncul badut yang bertubuh gendut, berwajah coreng-moreng, dan bertingkah laku aneh. Seringkali muncul kepanikan pada anak. Entah dimanifestasikan dengan berteriak, lari menjauh, atau mempererat pengangan tangannya ke tubuh kita.
Rasa panik, umumnya diawali dengan rasa takut. Ketika bertemu badut yang baru petamakali dilihat misalnya, anak berusaha mencerna penglihatannya, kemudian sinyalnya dikirim ke dalam otak untuk dipelajari. Bila insting rasa takut lebih besar dibandingkan rasa senang misalnya, maka ketakutanlah yang akan muncul ke permukaan. Nah, bila anak tidak bisa menguasai rasa takutnya maka timbul rasa panik.
Baca Juga: Memberikan Fasilitas ke Anak? Boleh saja Tetapi Harus Bijak
Panik Ada yang Wajar dan Tidak Wajar
Takut dan panik merupakan sifat alami yang dimiliki setiap orang. Sebenarnya berguna untuk kelangsungan hidupnya. Sebab bila kita tidak punya rasa takut, apapun akan kita hadapi meskipun mengancam jiwa kita. Jadi wajar bila suatu saat anak mengalami panik. Kepanikan saat bertemu dengan badut misalnya, kepanikan yang muncul merupakan ekspresi yang wajar. Di usia ini, kan, anak sedang mempelajari lingkungan sekitarnya. Banyak hal yang belum dilihatnya sehingga dia perlu mereka-reka situasi dan kondisi yang ada.
Apalagi, kemampuan kognitif anak di usia ini masih terbatas sehingga terkadang dia sulit untuk bisa langsung memahami hal yang baru dilihatnya. Keterbatasannya inilah yang membuat rasa takut dan panik lebih kuat muncul ke permukaan.
Namun, tidak selamanya panik menjadi hal yang wajar. Bila dalam kepanikannya anak menunjukkan sifat-sifat negatif, seperti perilaku tantrum atau panik yang berlebihan berarti sudah menjadi tidak wajar. Bila hal ini yang terjadi, orang tua harus segera mengatasinya agar pertumbuhan emosi dan kepribadian anak tidak terganggu. Panik yang berlebihan selain akan mengganggu kemampuan sosialisasinya juga mengganggu pertumbuhan emosi dan perkembangan kepribadiannya.
Ketika sedang bermain bersama teman misalnya, anak tidak mungkin bisa mengembangkan kemampuan sosialisasi dengan baik bila dalam perasaannya selalu dihantui rasa panik. Panik bila tiba-tiba temannya merebut mainannya, panik karena ketakutan disuruh segera pulang, panik karena pernah dipukul oleh temannya, dan sebagainya. Bila demikian yang terjadi, kemampuan bersosialisasinya yang seharusnya berjalan lancar malah tidak bisa tumbuh sama sekali. Umumnya, anak malah menghindari aktivitasnya bermain bersama teman-temannya.
Selain itu, panik yang terlalu menguasai diri si anak akan membuatnya tidak bisa berpikir jernih terhadap apa yang sedang dialaminya. Imbasnya, perilaku tantrum menjadi sarana untuk mengungkapkan kepanikannya. Padahal seharusnya, di usia ini anak sudah mulai belajar mengendalikan emosinya tetapi malah memperburuk perilakunya. Imbasnya, pertumbuhan emosi dan kepribadiannya menjadi tidak maksimal.
Baca Juga: Jangan Biarkan Anak Terlena dengan Fasilitas
7 Langkah Mengatasi Kepanikan Anak
Umumnya, dengan bertambahnya usia maka respon berpikirnya terhadap apa yang dialaminya akan semakin berkembang. Ketika sebelumnya anak mudah takut dan panik ketika bertemu badut, perlahan ketakutan dan kepanikannya akan menghilang. Hal ini dipengaruhi oleh pola pikir yang semakin terasah dengan lingkup sosialisasi yang semakin meluas.
Bila dulu hanya sesekali bertemu badut, kini tidak hanya badut yang sering ditemuinya, mungkin saja ondel-ondel, patung beruang, atau lainnya. “Kenapa harus takut dengan badut, dia kan cuma boneka besar yang tidak akan menjahatiku,” misalnya. Atau bila sebelumnya anak sering merasa takut dan panik saat bermain dengan temannya yang nakal, kini dia mulai menyesuaikan diri.
Namun, sekecil apapun kepanikan terjadi pada anak sebaiknya kita membantu anak untuk meredakan kepanikannya itu. Soalnya, kepanikan kecil bila terus menerus terjadi dan kita mendiamkannya, bukan mustahil akan menumpuk dan akan membuat anak menjadi pribadi yang mudah panik.