SMARTPARENT.ID Wajar bila setiap orang tua ingin kalau anaknya mandiri, ingin yang terbaik, disiplin, teratur, dan sebagainya, perilaku tersebut memang positif. Tetapi perlu juga diwaspadai bila anak terlalu menuntut untuk melakukan semuanya dengan prima, sangat detail, dan tanpa kesalahan atau kecacatan sedikitpun. Soalnya, sikap tersebut menunjukkan sebagai sikap perfeksionis yang akan mengungkung anak menjadi kaku dan tidak kreatif, padahal di sisi lain kekakuan harus dihilangkan dengan menonjolkan sikap kreatifnya.
Baca Juga: Menitipkan Anak ke Kakek-Nenek? Boleh Saja Tapi Bikin Aturan Main yang Baik
Anak yang Perfeksionis Selalu Ingin Sempurna
Perfeksionis, adalah perilaku dimana orang selalu ingin sempurna di berbagai hal. Pada anak misalnya, ketika sedang menggambar dia tidak mau bukunya tercoret sedikitpun, ketika mewarnai dia tidak mau pewarnaannya melewati garis, tidak mau tersobek sedikitpun, atau ketika ingin memakai baju dia tidak mau pakaiannya bernoda sedikitpun.
Dalam penampilan pun, anak perfeksionis harus terlihat sempurna. Misalnya warna antara baju, celana, dan sepatu harus sesuai. Bila bajunya berwarna dominan kuning maka celana dan sepatunya pun harus ada unsur kuningnya. Bila warnanya berbeda sama sekali, anak perfeksionis umumnya tidak akan mau memakainya. Belum lagi dengan model pakaian, aksesorisnya seperti bandana, model rambut yang disisir lurus, memakai bedak, bagi anak perfeksionis, semua yang sudah menjadi kebiasaan tersebut harus terpenuhi.
Ketika orang tua tidak mewujudkan keinginannya, berbagai perilaku negatif bakal timbul. Misalnya, ketika tidak puas dengan gambar dan mewarnai, anak akan menyobek kertas, membuang bukunya atau malah menangis karena menganggap bahwa dia telah melakukan kesalahan yang fatal. Bilapun kita memaksakan dengan berbagai alasan, timbul rasa tidak nyaman, cemas yang berujung pada tidak optimalnya kretivitas anak.
Namun, pada anak balita, sikap perfeksionis hanya terjadi pada beberapa kasus dan tidak umum dimiliki anak. Mungkin banyak anak cerewet ketika memilih atau memakai baju, memilih media gambar, terlalu berdisiplin, tetapi bila di lain waktu dia tidak bersikap demikian belum tentu hal itu merupakan wujud perfeksionis melainkan keinginannya untuk tampil lebih baik sesaat. Soalnya anak yang punya sikap perfeksionis, keinginan untuk lebih sempurna berlanjut kontinyu dan terus menerus.
Baca Juga: Ajak Balita Makan di Meja Makan Yuk Moms! Ini 11 Langkah yang Bisa Dilakukan
Orantua Perfeksionis, Anak pun Perfeksionis
Banyak hal yang bisa membentuk anak menjadi perfeksionis. Yang paling utama adalah sikap orang tua yang perfeksionis akan menciptakan anak yang perfeksionis pula
Berdasarkan penelitian terhadap perilaku anak dan orang tua, anak yang perfeksionis biasanya lahir dari orang tua yang perfeksionis. Karena sejak anaknya masih bayi, orangtua biasanya sudah menerapkan berbagai aturan yang kaku dan harus selalu dipenuhi. Hal inilah yang paling berpengaruh terhadap pembentukan sikap anak yang perfeksionis.
Beberapa perilaku orangtua yang dapat memicu timbulnya sifat perpeksionis anak:
- Disiplin yang Ketat
Contoh sederhana dari pembentukkan sikap perfeksionis tersebut misalnya kedisiplinan yang diberlakukan orangtua. Pukul 6 pagi anak harus sudah bangun, pukul 7 makan pagi, pukul 9 tidur, pukul 12 makan siang, dan seterusnya. Dengan waktu yang terjadwal dan tidak boleh mulur sedikitpun akan memperkuat anak terhadap perilaku-perilaku yang akan memupuknya menjadi perfeksionis.
- Harus Patuh, Tidak Boleh Salah
Bila orangtua meminta anak untuk mematuhi segala peraturan dan tidak boleh sedikitpun melanggarnya maka wujud perfeksionis akan muncul dengan sendirinya. Belum lagi dengan hal lain, misalnya harus selalu menjaga kebersihan kamar, harus bisa melakukan sesuatu sendiri sejak kecil, harus makan dengan posisi yang terbaik, dan segala macam peraturan lain yang harus dilakukan anak.