SMARTPARENT.ID Ketika sedang bermain bersama, diam-diam Ray mengambil replika mobil-mobilan balap milik temannya, Judika. Ia kemudian membawanya pulang dan memainkannya di rumah. “Ngeeengg… ngeeenggg…,” Ray tampak sangat senang.
Baca Juga: Ih… Kecil-kecil Kok Suka Mengejek
Kategori Mencuri Tetapi Bukan Pencuri
Apakah yang yang dilakukan Ray di atas masuk dalam kategori mencuri? Ya, itu masuk dalam kategori mencuri karena Ray mengambil barang yang bukan miliknya.
Tetapi, kategori mencuri anak balita tidak bisa disamakan dengan orang dewasa. Di usia balita, anak belum mempunyai konsep kemilikan dengan baik. Mereka belum mempunyai batas yang tegas antara milik sendiri dan milik orang lain. Itulah yang membuat mereka seolah mengambil milik orang lain. Misalnya, ketika mereka menyukai suatu benda, mobil-mobilan misalnya, anak berusaha untuk mengambil dan dimainkannya. Hal ini didorong oleh perasaan, “saya suka, saya ingin, saya memainkannya.”
Kategori mencuri pada anak pun biasanya tidak masuk dalam kategori kleptomania yang biasanya baru muncul di usia praremaja. Soalnya di usia ini pun anak belum begitu memahami bahwa mengambil milik orang lain tidak baik dilakukan, mengambil milik orang lain dapat menyakiti orang tersebut, mengambil milik orang lain adalah termasuk mencuri, dan sebagainya.
Yang anak pahami bahwa saat itu ia ingin memainkan dan memiliki barang tersebut. Anak belum mampu mengontrol keinginannya sehingga ia pun berusaha untuk mengambilnya. Barang yang diambilnya pun tak hanya mainan tetapi benda-benda yang diinginkannya. Mungkin saja pakaian, alat tulis, sandal/sepatu, sisir, atau lainnya.
Selain itu, bisa saja anak mencuri karena melihat contoh yang salah. Misalnya, ia melihat kakaknya, pengasuhnya, atau mungkin orangtuanya yang mencuri benda milik orang lain. Ketika melihat kakaknya misalnya, mengambil alat tulis temannya dan ia tidak melihat ada yang menegurnya maka anak akan meniru perbuatan tersebut. Ia berpikir, kakaknya saja mengambil ia pun akan mengambil. Bila kejadian ini dilihatnya berulang kali maka peniruannya berpotensi lebih besar. Bukankah anak belajar dari contoh? Jadi tak heran ia akan melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di lingkungannya. Bisa juga ia “mencuri” karena kebutuhan. Misalnya, anak sangat lapar atau haus, saat bermain ia melihat makanan/minuman di meja di rumah temannya. Karena kebutuhan inilah mendorong anak “mencuri.”
Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Rhinosinusitis yang Membuat Flu Tak Kunjung Sembuh
Tanamkan Pemahaman Milik dan Bukan Milik
Perilaku “mencuri” pada balita adalah wajar, mengingat anak belum mampu mengontrol keinginannya dengan baik. Namun begitu kita tidak boleh membiarkannya. Kita harus menanamkan pemahaman kepada anak bahwa mencuri itu tidak boleh dilakukan. Sekecil apapun “pencurian” yang dilakukan anak harus kita hentikan supaya tidak menjadi kebiasaan yang mungkin saja kalau didiamkan akan terbawa hingga besar.
- Moms Harus Jelaskan
Memberi penjelasan bahwa anak tidak boleh mencuri perlu dilakukan. Pilihlah kata-kata sederhana dan mudah dipahami anak. Misalnya, “Adek, itu namanya mencuri.” Lalu lanjutkan, “coba deh, kalau mobil-mobilan merah milikmu diambil Judika, kamu pasti sedih.” Biarkan anak meresapi penjelasan kita sehingga ia bisa berempati terhadap kekesalan temannya yang diambil mobil-mobilannya. “Sekarang kita kembalikan yuk!”
- Berikan Benda yang Diinginkan