SMARTPARENT.ID Memang, keterbatasan verbal kerap membuat balita menangis untuk mendapatkan sesuatu. Lebih mudah dan biasanya lebih ampuh. Sesekali normal, apalagi anak begitu sedih dan sangat sulit mengungkapkan lewat kata-kata. Tetapi jika sudah menjadi kebiasaan dan anak menjadikan tangis sebagai senjata, Moms perlu mengatasinya. Takutnya, anak selalu menggampangkan masalah dan tidak mau mencari solusinya sendiri.
Baca Juga: Moms, Bisa Lo Mengajari Balita Etiket Makan di Meja Makan
Berikut adalah cara yang bisa Moms lakukan untuk mengatasi perilaku anak seperti ini
- Moms Harus Konsisten Bersikap
Dalam berbagai hal, diperlukan sikap yang konsisten, termasuk dalam menghadapi manipulasi perilaku seperti ini. Dengan sikap yang konsisten, secara tidak langsung akan memberikan masukan pada anak bahwa tidak semua keinginannya akan dipenuhi meskipun dia menggunakan tangisan sebagai senjata. Diharapkan, kekonsistenan sikap ini akan mengubah perilaku anak secara perlahan.
- Biarkan Saja Supaya Anak Sadar
Terkadang, anak merasa bahwa dia memiliki tangisan yang dapat digunakan sebagai senjata yang bisa meluluhkan perasaan orang tuanya. Salah satu cara untuk mengatasinya yakni dengan mengacuhkan tangisannya. Mungkin sulit, namun terkadang dengan cara seperti inilah dapat membuat anak mengubah perilakunya.
- Pindahkan Anak
Bila anak menangis di depan mainan yang diinginkannya, sebaiknya langsung diangkat dan jauhi anak dari sumber tangisannya tersebut. Atau bila kita perkirakan sikap ini akan muncul bila datang ke pusat mainan, maka antisipasi dengan menghindari pusat-pusat mainan tersebut.
- Selalu Beri Pengertian
Sulit memang memberi pengertian kepada anak yang sedang menangis. Namun kita tetap perlu memberikan pengertian, setidaknya ketika tangisnya mereda. Masukan yang kita berikan, mungkin akan dipahami anak dan menjadi awal bagi perubahan perilakunya itu.
- Beri Reward Jika Bersikap Positif
Pemberian reward menjadi daya tarik sendiri bagi anak yang dapat mengubah secara perlahan bagi perilakunya tersebut. Misalnya, ketika anak berhasil tidak menangis ketika kita menolak permintaannya, berikan pujian. Bila perlu, kita bisa memberikan reward dalam bentuk lain yang tentunya lebih bermanfaat daripada mewujudkan permintaannya tadi, misalnya memberikan kue kesenangannya. Mungkin reward seperti bisa memicu anak untuk bersikap lebih baik.
- Berikan Kesempatan
Jangan pelit dengan selamanya menolak permintaan anak. Berikan kesempatan padanya untuk menikmati keinginannya. Misalnya, bila dia ingin menikmati permainan di Timezone, persilahkan saja. Soalnya, keinginan yang tidak pernah terpenuhi akan berdampak pada hal lain yang mungkin bisa lebih berbahaya.
Baca Juga: Si Balita Suka Pilih-pilih Teman? Selama itu Baik Lumrah Saja
Biasanya akan Hilang Seiring Pertumbuhan Usia Anak
Menangis yang digunakan sebagai senjata, umumnya akan hilang dengan sendirinya. Penyebabnya, mungkin tanpa sadar Moms sudah melakukan usaha untuk tidak selalu memenuhi keinginannya. Merasa kalau tangisannya tidak akan efektif, anak pun bosan dan menghentikannya.
Atau, bisa juga karena anak sudah memiliki lingkup sosialisasi lebih luas. Ketika dia melihat bahwa temannya tidak ada yang menangis, anak pun perlahan akan mengubah perilakunya. Apalagi kalau anak sudah bisa dengan lancar menggunakan bahasa verbalnya, menangis merupakan pilihan terakhir yang akan dia lakukan. Namun kita perlu mewaspadai, bila tidak ada penanganan yang baik, mungkin tangisnya akan diganti dengan marah, ngambek, merajuk, dan sebagainya.