SMARTPARENT.ID Mungkin Moms suka mengeluh, sulit sekali mengajak anak makan di meja makan. “Jangan makan di meja, disuapi sambil bermain saja sulitnya bukan main,” mungkin seperti itu keluhannya. Pesimisme ini akhirnya membuat makan sambil bermain oke, sambil lari-larian tak masalah, asal makanan yang disuapi habis.
Memang, ketika makan, setiap anak memiliki kebiasaan masing-masing. Ada yang bisa disuapi dengan tenang sambil duduk atau ada yang sama sekali tidak bisa diam, berdiri di atas kursi, berjingkrak-jingkrak, bahkan berlarian. Dan kebanyakan anak, selalu tidak bisa diam ketika makan.
Sebenarnya, kebiasaan ini datang karena kebiasaan yang diacuhkan oleh orang tua. Atau mungkin anak merasa bosan kalau duduk terlalu lama atau memang anak belum lapar sehingga ketika disuapi anak malah berlari-larian untuk menghindari suapan yang masuk.
Baca Juga: Kenapa Ya, Anak Suka Pilih-pilih Teman? Ternyata Ini Penyebabnya
Bisa Lo Mengajarkan Etiket Makan pada Anak
Kita bisa mengajarkan etiket makan pada anak lo Moms. Etiket, adalah tata cara, seperti adat, sopan santun, dalam masyarakat yang beradab dalam memelihara hubungan baik antara sesama manusia. Nah, etiket ketika makan berati kita melakukan tata cara makan yang baik di meja makan secara santun tanpa diselingi dengan tindakan yang kurang pantas, melupehkan makanan misalnya.
Etiket di meja makan bisa dilakukan sejak usia anak 4 tahun. Di usia ini anak sudah bisa lebih mengerti untuk menerima instruksi yang diberikan. “Adek, makan kok sambil jalan-jalan, duduk yang manis sini!” kata-kata ini mudah dicerna anak karena perkembangan kognitifnya sudah lebih maju dari sebelumnya.
Ketika memulai mengajarkan etiket makan, tak perlu melakukan hal yang sulit dipahami anak. Tetapi mulailah dengan hal-hal yang mudah dicerna. Ketika anak berlarian misalnya, kita bisa mengajaknya duduk dengan cara yang halus. “Kok, makan sambil berlari, nanti muntah, lo. Duduk sini!” misalnya demikian. Atau kalau ketika anak bersendawa keras-keras, kita bisa menerangkan, “Tahu enggak, sendawa yang terlalu keras akan membuat orang lain merasa terganggu, jangan diulangi lagi, ya!” Atau ketika anak menyembur-nyemburkan makanan, menyuap dan mengunyah terlalu cepat, atau yang lainnya, kita bisa mengarahkannya.
Namun pengajaran etiket terkait dengan tempramen anak. Ada anak yang dengan mudah kita berikan instruksi namun ada pula anak yang sulit diajarkan. Meskipun sudah diajarkan berulang-ulang tetap saja anak lebih gemar makan sambil bermain atau berlari-larian. Hal inilah yang terkadang membuat orang tua meras frustasi mengajarkannya dan membiarkan anak dengan perilaku makannya sendiri.
Baca Juga: Buah Hati Suka Mengumpat? Yuk Atasi, Jangan Dibiarkan
Hindari Kebiasaan Buruk Berlanjut
Kebiasaan buruk kala makan, tidak terlalu berpengaruh terhadap kondisi psikologis anak. Namun bila kebiasaan ini terbawa-bawa hingga anak dewasa, hal inilah yang nantinya akan membuat citra diri si anak menjadi negatif di hadapan orang lain. Misalnya, ketika makan anak selalu bersendawa keras, orang lain, akan merasa jijik mendengarnya.
Nah, dari citra diri yang negatif inilah nantinya yang mungkin akan berpengaruh terhadap kondisi psikologis anak. Mungkin karena merasa dijauhi anak akan merasa rendah diri yang akhirnya mempengaruhi ke perkembangan yang lainnya.
Bila demikian, Vera menganjurkan untuk memberi contoh yang baik kala makan. Misalnya, setiap kali makan kita tunjukkan dengan perilaku manis, duduk di meja makan, suap nasi secara perlahan dengan tangan kanan, baru berbicara setelah makanan tertelan, dan lainnya. Bila kebiasaan yang kita tunjukkan ke anak sangat baik, tak mustahil anak akan mengikuti apa yang kita lakukan. Lebih baik lagi bila ditambah dengan memberikan penjelasan kenapa kita perlu melakukan hal seperti itu.