Ibu disarankan untuk mencatat pola gerakan janin dan mengenali kapan kedua janin cenderung lebih aktif.
Jika ibu merasa ada penurunan gerakan pada salah satu atau kedua janin, penting untuk segera menghubungi penyedia layanan kesehatan.
Menurut The American Journal of Obstetrics and Gynecology, pengurangan drastis dalam gerakan janin bisa menjadi tanda potensi masalah pada aliran darah atau nutrisi.
Baca Juga: Mengungkap Fakta: Benarkah BPA Sebabkan Infertilitas dan Kelahiran Prematur?
Dalam beberapa kasus, pemeriksaan ultrasonografi atau monitoring denyut jantung janin mungkin diperlukan untuk memastikan kesehatan kedua bayi.
Risiko pada Kehamilan Kembar dan Gerakan Janin
Kehamilan kembar membawa risiko yang lebih tinggi untuk komplikasi seperti pertumbuhan janin terhambat (Intrauterine Growth Restriction/IUGR), yang dapat memengaruhi gerakan janin.
Ibu dengan kehamilan kembar lebih mungkin mengalami penurunan gerakan janin pada tahap akhir kehamilan karena pertumbuhan kedua janin dan keterbatasan ruang dalam rahim.
Oleh karena itu, memantau gerakan janin secara rutin menjadi sangat penting.
Risiko komplikasi seperti twin-to-twin transfusion syndrome (TTTS) juga dapat memengaruhi gerakan janin.
Baca Juga: Perubahan Gerakan Janin pada Trimester Kedua, ini yang Dirasakan
TTTS terjadi ketika ada ketidakseimbangan aliran darah antara kedua janin, yang menyebabkan salah satu janin menerima lebih banyak nutrisi dibandingkan yang lain.
Dalam kondisi ini, gerakan janin yang mengalami kekurangan nutrisi mungkin akan berkurang, sementara janin yang menerima kelebihan nutrisi mungkin menunjukkan tanda-tanda overaktivitas.
Kehamilan kembar menghadirkan tantangan tambahan dalam memantau gerakan janin, tetapi memahami variasi yang normal dapat membantu ibu tetap tenang.
Meskipun setiap janin dalam kehamilan kembar mungkin memiliki pola gerakan yang berbeda, ibu tetap harus memperhatikan pola yang berubah secara drastis dan segera mencari pertolongan medis jika ada kekhawatiran.