Moms, Bayi Bisa Kena Hernia Lo! Begini Cara Mendeteksinya

Photo Author
Irfan Hasuki, Smart Parent
- Rabu, 26 Juni 2024 | 06:36 WIB
Bayi Menangis  (Tim Blish/Unsplash)
Bayi Menangis (Tim Blish/Unsplash)
  1. Reponible, gejala yang muncul adalah benjolan yang keluar masuk di daerah lipatan paha atau umbilikus. Hal ini membedakan dengan tumor yang umumnya benjolannya menetap. Ini adalah tanda yang paling sederhana dan ringan yang bisa dilihat dari hernia eksternal. Bisa dilihat secara kasat mata dan diraba akan terasa besar sebelah. Sedangkan pada bayi wanita, seringkali ditemukan keluhan dari orang tua yang mengatakan bahwa labia anaknya besar sebelah.
  2. Irreponible, gejala yang muncul benjolannya sudah menetap, baik di lipat paha maupun di daerah pusat. Pada hernia inguinalis misalnya, air/usus masuk ke dalam rongga yang terbuka kemudian terjepit dan tidak bisa keluar lagi. Di fase ini, meskipun benjolan sudah lebih menetap namun belum ada tanda-tanda perubahan klinis pada anak.
  3. Incarcerata, benjolan sudah semakin menetap karena sudah terjadi sumbatan pada lubang dan makanan sudah mulai menimbun di bagian tersebut. Tak hanya benjolan, keadaan klinis bayi pun mulai berubah dengan munculnya mual, muntah, perut kembung, tidak bisa buang air besar, dan tidak mau makan.
  4. Strangulata, ini adalah tingkatan hernia yang paling parah karena pembuluh darah sudah terjepit. Selain benjolan dan gejala klinis pada tingkatan incarcerata, gejala lain seperti tumbuh mulai mulai biru, demam, dehidrasi, juga ususnya sudah mati. Bila terus didiamkan lama-lama pembuluh darah di daerah tersebut akan mati dan akan terjadi penimbunan racun yang kemudian akan menyebar ke seluruh daerah perut, sehingga akan menyebabkan terjadinya infeksi pada dinding usus (peritonitis) yang mengancam nyawa si bayi. Sangat mungkin bayi tidak akan bisa diam karena merasakan nyeri yang luar biasa.

Baca Juga: Moms, Yuk Kenali Gejala Dehidrasi Pada Bayi (1) 

Segera Bawa ke Dokter Saat Melihat Gejala

Karena proses peningkatan dari fase ke fase berikutnya cukup cepat, sebaiknya ketika melihat gejala awal bayi langsung dibawa ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Bila memang positif hernia, meskipun masih sangat ringan, bayi harus segera dioperasi untuk mencegah berlanjut hingga ke tahap yang lebih berat. Operasi yang biasa dilakukan adalah herniotomy untuk memotong kantung hernia kemudian diikat. Namun sebelumnya, saat pemeriksaan, dokter akan melakukan pallasi dengan cara meraba isi hernia tersebut dengan ujung jarinya, apakah masih dapat dimasukan kembali ke dalam perut atau tidak.

Untuk bayi biasanya menginap 1-2 hari, sedangkan pada pasien dewasa satu hari bisa langsung pulang. Setelah operasi, sebaiknya waspadai kambuhan karena operasi yang berjalan kurang baik. Bila kekambuhan terjadi dalam beberapa bulan atau setahun, hal ini mungkin merupakan akibat dari pembedahan yang dilakukan. Namun kambuhan akibat kesalahan teknis sangat kecil hanya 0,1 persen. Yang justru harus lebih diwaspadai bila kekambuhan terjadi setelah dua tahun atau lebih, apalagi berulang, yang mungkin disebabkan kelemahan otot akibat pembedahan. Mungkin saja hernia kambuhan ini berkembang menjadi hernia inkarcerata dan strangulata.

Untuk mencegah kekambuhan, setelah anak mulai besar, mintalah ia untuk tidak batuk dan bersin dengan kuat, konstipasi (sembelit), mengejan, serta mengangkat barang berat. Soalnya hal ini akan memicu tekanan pada rongga perut yang mungkin saja memicu timbulnya hernia kambuhan. Kalau ada kesulitan buang air kecil atau besar, sebaiknya segera berobat dan diatasi dulu.

Halaman:

Editor: Irfan Hasuki

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

Tips Menghadapi Baby Blues Syndrome

Kamis, 14 Agustus 2025 | 08:08 WIB

Apakah Perlu Birth Plan? Ini Penjelasannya

Senin, 4 Agustus 2025 | 13:27 WIB
X