Smartparent.id Sering kita lihat, anak lebih memilih asyik dengan gadgetnya daripada berinteraksi sosial. Asyik bermain game hingga tidak peduli dengan keadaan di sekelilingnya. Bermain Free Fire, Mobile Legends, PUBG Mobile, Clash of Clans, Stumble Guys, dan banyak lagi.
Game yang terdapat di gadget seperti ponsel, komputer, playstation, dan lainnya, memiliki dua sisi berbeda. Bisa bermanfaat, bisa juga membahayakan. Tergantung dari game yang mereka mainkan.
Yang jelas, anak di bawah 8 tahun belajar dari melihat untuk kemudian ditirunya. Apapun yang ia lihat, mudah sekali ditirunya. Semakin berulangkali ia melihatnya, peniruannya akan semakin sering dan kuat. Jika yang ia lihat kekerasan maka ia akan meniru kekerasan tersebut.
Baca Juga: Yuk Kenali 10 Gejala Gangguan Kesehatan Pada Bayi
Lebih Mudah Melakukan Kekerasan
Beberapa waktu lalu, sebuah penelitian dilakukan oleh Iowa State University, Amerika Serikat. Isinya, anak yang sering bermain game yang mengandung kekerasan lebih mudah melakukan kekerasan, lebih agresif, dan memiliki intoleransi kepada orang lain.
Di penilitian itu dijelaskan, paparan kekerasan tersebut secara neurologis telah terganggu, khususnya anak di bawah 10 tahun. Pasalnya, anak belum siap terpapar unsur-unsur tersebut. Di sisi lain anak punya rasa selalu ingin tahu, mencoba, bereksplorasi sementara dia belum memahami betul apakah tindakan negatif atau positif. Jika perilaku ini dibiarkan akan membuat anak tidak memahami bahwa apa yang dilakukannya salah. Tiba-tiba memukul temannya misalnya gara-gara melihat adegan tersebut di game yang ia mainkan.
Demikian pula dengan penelitian yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan Radiological Society of North America (RSNA) di Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Dalam presentasi tersebut terungkap jika kekerasan pada game berpengaruh tak hanya pada otak anak tetapi juga remaja, terutama di bagian yang berhubungan dengan fungsi kognitif dan pengendalian emosi.
Pemindaian pada otak menggunakan FMRI (functional magnetic resonance imaging) terlihat ada perubahan pada saat bermain game dan seminggu setelahnya yang diduga mempengaruhi fungsi kognitif dan pengendalian emosi.
Baca Juga: Hayo, Ayah yang mudah Marah akan Membentuk Bayi yang Mudah Marah
Hadirlah Lebih Dekat ke Anak
Yuk Moms, sebelum perilaku negatif anak muncul, kita antisipasi dengan beberapa tindakan berikut
Dampingi Saat Bergadget
Untuk menghindari hal ini sebaiknya Moms selalu berusaha untuk hadir lebih dekat di sisi anak, dampingi ia saat bergadget. Atau setidaknya berada dekat anak. Arahkan dan kontrol apa saja yang boleh dilihat atau dimainkannya. Kehadiran kita di sisinya akan meminimalisir bahkan menghindari efek buruk yang bakal terjadi. Jika kita tidak bisa melakukannya secara langsung, cari sosok yang bisa mewakili kita, pengasuh misalnya. Delegasikan keinginan-keinginan kepadanya dan minta ia untuk komitmen melakukannya.