• 33,8% menolak ibu menyusui di transportasi umum,
• 34,6% menolak di taman atau ruang terbuka,
• 32,8% menolak di kafe, dan
• 30,6% menolak di tempat makan.
Menurut Ray yang sering memberi edukasi lewat akun instagram @ray.w.basrowi ini, tren ini menunjukkan bahwa publik masih mendorong ibu untuk “bersembunyi” saat menyusui, alih-alih menciptakan lingkungan inklusif.
“Kita butuh lebih dari sekadar ruang laktasi.
Baca Juga: VIO Optical Clinic Luncurkan CLARENCE, Frame Premium untuk Profesional Modern
Kita butuh perubahan budaya,” tegas dokter yang juga inisiator Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa.
Dukungan Pasangan Menjadi Kunci
Salah satu temuan positif dari studi ini menunjukkan bahwa ketika ibu menyusui didampingi pasangan, mayoritas responden menilai momen tersebut sebagai hangat, penuh cinta, dan membahagiakan.
Ini memperkuat hasil studi HCC sebelumnya yang menyatakan bahwa dukungan pasangan dan inner circle adalah pendorong paling efektif dalam keberhasilan menyusui, terutama bagi ibu pekerja.
Ray menegaskan bahwa menyusui adalah aktivitas alami, sehat, dan penuh perjuangan, bukan sesuatu yang memalukan atau tabu.
“Jika kita gagal menormalkan menyusui di ruang publik, maka
kita gagal memahami makna paling dasar dari keadilan sosial dan kesehatan ibu-anak,” tutupnya.
Baca Juga: Tips Menenangkan Bayi Kolik: Panduan Lengkap untuk Orang Tua Baru
Untuk itu, Ray melalui Health Collaborative Center (HCC) menyerukan perlunya penajaman kebijakan ruang publik yang ramah ibu menyusui serta kampanye edukasi nasional untuk melawan stigma visual.
Juga perlu adanya kolaborasi lintas sektor untuk mendukung ibu dan anak dalam ruang sosial yang inklusif.
Artikel Terkait
Apakah Semua Susu Baik untuk Pencernaan Anak? Simak Kriterianya
Si Kecil Ketagihan Susu Formula? Ini Penyebabnya Moms
Anak Boleh Minum Susu, Tetap Anak Perlu Asupan Nutrisi yang Lain
Susu Sapi VS Susu Nabati, Mana yang Terbaik untuk Ibu Hamil?