balita

Yuk Moms, Identifikasi Kenapa Anak Mengalami Mimpi Buruk

Jumat, 25 Oktober 2024 | 23:02 WIB
Jangan biarkan anak terus menerus mengalami mimpi buruk (Ketut Subiyanto/pexels)

SMARTPARENT.ID Seringkali mimpi buruk bisa mengganggu tidur anak, misalnya membuat anak tak bisa tidur nyenyak. Dalam batas-batas tertentu gangguan ini masih terbilang wajar dan tidak perlu terlalu dicemaskan karena hampir 30 persen anak di bawah 4 tahun mengalaminya. Kita tinggal menjelaskan bahwa yang dialami anak hanyalah bunga tidur, bukan kenyataan, hal ini cukup membuat anak tenang.

Namun bila frekuensi mimpi buruknya terlalu sering, kita perlu mencermatinya. Pasalnya, anak akan mengalami banyak kekurangan waktu tidur yang akan membuat aktivitasnya terganggu. Mungkin saja anak jadi sulit makan, sering merasa cemas, takut tidur sendirian, dan lainnya. Sebaiknya Moms tidak membiarkan. Perlu melakukan tindakan pengidentifikasian kenapa hal itu terjadi.

Baca Juga: Anak Suka Mimpi Buruk, Ini Penyebabnya Moms! 

Identifikasi Yang Bisa Membuat Anak Mimpi Buruk

Moms bisa menelusuri hal-hal yang bisa memicu anak mengalami mimpi buruk, Berikut beberapa hal bisa Moms telusuri.

  • Lihat aktivitas apa yang sudah dilakukannya sepanjang hari.
  • Adakah hal-hal yang membuatnya trauma.
  • Menelusuri dan mengingat-ingat apa yang terjadi dalam hari itu sebelum anak tidur.
  • Jam berapa anak bangun di pagi hari.
  • Jam berapa anak tidur di malam hari.
  • Berapa jam anak tidur siang dan tidur malam.
  • Jam berapa anak tidur siang.
  • Jam berapa anak bangun di tengah malam dan berapa lama ia terbangun, dan lain-lain.

Dengan melakukan identifikasi seperti ini diharapkan kita bisa melakukan tindakan selanjutnya untuk mengatasi mimpi buruk anak.  Selanjutnya kita bisa melakukan pengkondisian agar anak merasa aman dan nyaman menjelang tidur. Bentuk pengondisian tersebut, tergantung dari penyebabnya. Bila penyebabnya karena trauma karena mengalami kecelakaan tentu berbeda pengondisiannya dengan menyaksikan film horor.

Bila terjadi trauma mendalam, maka kita harus melakukan pendampingan namun tidak sampai membuat anak menjadi tergantung. Misalnya, kalau anak takut tidur, kita harus menemaninya sambil membacakan cerita yang indah-indah akan ketakutan anak teralihkan. Jangan menceritakan hal yang seram-seram, seperti cerita tentang badut si buruk rupa karena hal ini akan membuat anak semakin takut. Namun bila traumanya terlalu dalam mungkin perlu melibatkan ahli, seperti psikolog.

 Baca Juga: Si Kecil Ingin Membantu Pekerjaan Rumah? Jangan Dilarang

Moms Tidak Perlu Ikut Panik

Perlu disadari, ketika kita melihat anak menjerit dan menangis dengan tiba-tiba saat tidur, Moms jangan ikut-ikutan panik karena hal ini akan membuat anak akan semakin ketakutan. Bersikaplah biasa-biasa saja sambil menenangkan anak dengan perkataan yang menyejukkan. Bila perlu kita dekap anak sampai ia tenang lagi. Mintalah anak untuk segera tidur kembali dan bilang kepadanya tidak perlu takut karena kita ada di sampingnya mungkin sambil  memberinya susu.

Reaksi panik yang kita tunjukkan hanya akan membuat anak merasa dibenarkan bahwa mimpi buruk adalah sesuatu yang harus ditakutkan. Meskipun ia belum mengerti, namun ia bisa merasakannya, "Mama juga takut dengan mimpi yang aku alami," misalnya. Kepanikan pun tidak ditunjukkan terus, misalnya siang hari saat anak makan jangan menanyakan yang bernada panik, “Kamu tidur kok teriak-teriak, Mama jadi panik!” misalnya.

Bila anak masih terlihat takut, mintalah ia untuk menceritakan apa yang dilihat di mimpinya. Biarkan dia bercerita dengan bahasanya yang terbata-bata sampai ia merasa lepas. Bercerita bisa dijadikan sebagai katarsis atau melepas ketegangan anak. Nah, selanjutnya kita jelaskan bahwa itu hanya mimpi bukan kenyataan. “Buktinya setelah adek bangun tidak ada harimaunya kan?” misalnya. Penjelasan ini akan memberikan pemahaman kepada anak kalau mimpi dengan kenyataan adalah dua hal yang berbeda.

Bila ternyata anak sudah lupa dengan mimpi buruknya, dia sudah bisa beraktivitas dengan baik, sebaiknya kita tidak mengungkit-ngungkitnya lagi. Mengungkit berarti membangkitkan pengalaman buruknya yang tidak mustahil akan memunculkan rasa takutnya.

Baca Juga: Ini Lo Moms, Tips Supaya Anak Mau Ikut Mengerjakan Pekerjaan Rumah

Halaman:

Tags

Terkini

Bagaimana Mengajarkan Empati pada Anak Balita?

Kamis, 12 Juni 2025 | 20:40 WIB

Moms, Aku Mau Videocall Ayah!

Rabu, 26 Februari 2025 | 07:56 WIB

Ketika Anak Tak Mau Pakai Baju, Bolehkah Kita Memaksa?

Selasa, 25 Februari 2025 | 21:18 WIB

Jangan Mengancam Anak Tetapi Berikan Ia Penjelasan

Selasa, 25 Februari 2025 | 20:51 WIB

Moms, Jangan Pernah Mengancam Anak, Ya!

Selasa, 25 Februari 2025 | 20:41 WIB

Biarkan Anak Corat-coret, Disitu Tumbuh Kreativitas

Senin, 24 Februari 2025 | 17:06 WIB

Moms, Perlu Lo Sesekali Anak Dibebaskan Bermain

Senin, 24 Februari 2025 | 15:52 WIB

Bila Anak Suka Tak Sopan, Ini Cara Mengatasinya

Sabtu, 22 Februari 2025 | 21:14 WIB

Ini Manfaat Buat Anak Saat Belajar di Meja Makan

Jumat, 21 Februari 2025 | 15:37 WIB

Saat Makan Saatnya Anak Belajar

Jumat, 21 Februari 2025 | 14:47 WIB