SMARTPARENT.ID ”Kue kueee… siapa yang mau beli?” ucap Dita sambil menggendong sebuah bakul mainan. Dia berkeliling rumah menyambangi setiap orang yang ada di sana, mulai ayah, ibu, om, dan tante. Dia menawarkan beberapa potong roti yang tadi pagi diberikan mamanya. Berlagak sebagai penjual kue, Dita pun melayani setiap permintaan pembeli. “Uangnya mana?” pinta Dita kepada ayahnya yang membeli sepotong kue. “Oh iya, ayah lupa, ini uangnya,” sahut ayah. Dita pun mengambil potongan kertas koran yang sengaja disobek sang ayah. Dengan riang, Dita pun menawarkan dagangannya kembali.
Berpura-pura menjadi penjual kue, seperti yang dilakukan Dita, merupakan salah satu aktivitas yang sering dilakukan anak saat bermain. Dia berlagak menjadi penjual kue kemudian menawarkan “dagangannya” itu kepada siapa saja yang ditemuinya. Bermain jualan ini pun tak hanya menjadikan kue sebagai barang “dagangan” tetapi bisa saja barang lain seperti mainan, buku, pakaian, namun mungkin karena yang paling sering ditemuinya adalah penjual kue maka anak lebih sering bermain jualan kue.
Baca Juga: Jika Anak Takut ke Dokter, Ini yang Moms Perlu Lakukan di Rumah
Bermain Peran Bisa Mencerdaskan Anak
Aktivitas ini disebut sebagai bermain peran dikarenakan anak bukan berperan sebagai dirinya melainkan menirukan sebuah profesi seseorang yang pernah dilihatnya. Bermain peran juga dapat dilakukan anak terhadap profesi lain, seperti dokter-dokteran, menjadi binatang, menjadi superhero, dan sebagainya.
Beberapa manfaat yang bisa didapat anak :
- Melatih Kreativitas dan Imajinasi
Anak dituntut kreatif saat melakukan peranannya sebagai penjual kue. Kemana dia harus berkeliling, kepada siapa menjajakannya, bagaimana cara menawarkannya, dan lainnya.
Tentu imajinasi anak akan terstimulasi saat bermain menjadi pedagang. Dia akan membayangkan apa yang biasanya dilakukan oleh penjual kue saat menjajakan dagangannya, berjalan berkeliling mencari pembeli, memotong kue, membungkus, menagih uang, dan sebagainya. Daya imajinasi ini sangat baik untuk menstimulasi otak agar bekerja lebih giat.
- Menjadi lebih Cerdas
Mungkin tak hanya berperan sebagai penjual kue, anak pun bermain peran menjadi dokter, guru, super hero, dan lainnya. Hal ini akan membuat anak semakin belajar terhadap berbagai profesi yang ada di lingkungannya sehingga ia pun akan lebih cerdas. Sebab dalam setiap peran yang dimainkannya anak akan tahu banyak tentang berbagai profesi tersebut. Bermain peran butuh proses peniruan yang membutuhkan kerja otak lebih keras sehingga perkembangan otak pun akan semakin baik. Apa sih yang harus dilakukan dokter, perawat, super hero, dan lainnya.
- Menstimulasi Kemampuan Bahasa
Saat menjajakan kue, anak selalu menggunakan kemampuan verbalnya. “Mau beli kue?” misalnya, dia menggunakan kemampuan verbalnya yang mungkin tak digunakannya saat tak bermain peran. Kemudian bila kita menanggapinya akan banyak ucapan-ucapan lain yang keluar dari mulutnya. Dari interaksi verbal seperti ini membuat kemampuan bahasa anak terstimulasi.
Baca Juga: Moms, Perilaku Orangtua yang Keliru Bisa Membuat Anak Mudah Panik Lo.