balita

Kenapa Balita Suka Memukul Orangtuanya? Ini Jawabannya

Minggu, 30 Juni 2024 | 21:18 WIB
Anak Menjambak ( Evgeniy Gorbenko on Unsplash)

7 Hal Pemicu yang Lebih Kuat

Di beberapa kasus, penyebabnya bukan karena dia ingin menjajal kemampuan motoriknya melainkan dipengaruhi oleh kondisi psikologisnya saat itu. Setidaknya, ada tujuh hal yang bisa memicu anak melakukan tindakan “penganiayaan” terhadap orang tuanya, yaitu:

  1. Kecewa dengan Sikap Orang Tua

Seringkali, antara keinginan anak dengan orang tua tidak sama. Misalnya, anak ingin dibelikan mainan sedangkan orang tua tidak mau mengabulkannya. Kekecewaan ini akan memicu timbulnya perilaku negatif seperti memukul, mencakar, atau menampar.

Untuk mengatasinya, cobalah melakukan komunikasi lebih baik dari sebelumnya. Misalnya dengan menerangkan kenapa kita tidak mengabulkan permintaannya. “Kamu, kan, sudah punya mobil-mobilan itu, kok, minta dibelikan lagi!” misalnya. Jangan malah mengacuhkan permintaan anak tanpa penjelasan sedikitpun.

  1. Cemburu Kepada Adik

Kecemburuan sering muncul karena si kakak kalah perhatian dari adik bayi. Perhatian yang sebelumnya fokus ke dirinya kemudian beralih ke adik bayinya. Dengan perubahan yang mendadak ini, anak merasa bahwa orang tuanya tidak lagi perhatian seperti dulu. Bila kecemburuannya terus memuncak dan emosi anak tidak tertahankan, lampiasannya bisa berwujud pukulan, tamparan, cakaran, yang dilakukannya kepada orang tuanya.

Cobalah introspeksi apakah perhatian Moms selama ini lebih terfokus ke adik bayi sehingga melupakan keberadaan si kakak. Bila demikian, wajar bila si kakak merasa cemburu dan protes dengan perilaku negatif. Untuk mengatasinya, kita bisa mengubah perhatian kita lebih seimbang kepada keduanya. Atau kita ajak si kakak untuk ikut serta merawat si bayi agar dia merasa bahwa keberadaannya tetap mendapat perhatian orang tuanya.

  1. Merasa Tidak Puas

Bila anak sama sekali tidak puas dengan apa yang dilakukan orang tuanya, bisa memicu munculnya tindakan seperti ini. Misalnya, anak meminta susu, namun karena susu yang biasa diminumnya sudah habis, orang tua terpaksa membuatkan susu kepunyaan si kakak. Tentu, anak mendapatkan rasa yang lain dari susu tersebut. Ketidakpuasannya inilah yang nantinya memicu munculnya perilaku negatif.

Perlu dilakukan komunikasi dengan anak. Misalnya, sebelum memberikan susu kita beritahukan ke anak bahwa susu kesukannya sudah habis dan harus dibeli dulu. Sehingga anak tidak langsung merasa kecewa dengan rasa yang berbeda tersebut.

  1. Anak Marah

Misalnya, anak menyusun boneka-bonekanya di dalam rumah-rumahan. Dia akan marah letak bonekanya diubah apalagi dirusak oleh orang lain. Bila ada yang mengubahnya, banyak anak yang tersulut emosinya dengan kemarahan yang meledak-ledak. Ketika kita berusaha menenangkannya, tak mustahil pukulan, cakaran, bahkan tamparan akan dilakukan anak kepada kita.

Sulit memang mangatasinya, namun usaha untuk menenangkannya tetap perlu kita lakukan. Mungkin dengan meminta maaf, membereskan kembali mainan tersebut seperti yang diminta anak, atau mengganti mainan yang telah kita rusak.

  1. Anak Temperamental

Pada anak tertentu, memiliki temperamen yang sering meledak-ledak padahal penyebabnya hanya sepele. Misalnya, karena telat memberikan susu saja anak langsung marah. Pada anak yang bersikap temperamental bisa memicu lebih besar akan munculnya sikap seperti ini. Namun, kasus anak temperamental di usia ini masih relatif jarang karena pada usia ini sifat temperamen anak masih belum muncul secara kuat.

  1. Anak Kebutuhan Khusus

Banyak bentuk-bentuk kelainan pada anak yang membuat dia bersikap tidak normal. Misalnya autis, retardasi mental, hiperaktif, dan sebagainya. Pada anak kebutuhuan khusus ini banyak yang tidak bisa mengontrol emosinya dengan baik. Anak sulit membedakan mana yang boleh dilakukannya dan mana yang tidak, mana yang bisa menyakiti orang lain dan mana yang tidak. Nah, ketika dia merasakan ketidaknyamanan kemudian di saat itu muncul keinginan untuk melampiaskannya maka dengan segera dia langsung melakukannya tanpa memikirkan dampaknya terhadap orang lain. Pada kasus seperti ini, penanganannya tidak sesederhana pada anak normal. Mungkin saja anak butuh penanganan dari banyak ahli, seperti medis, psikolog, maupun ahli kejiwaan.

  1. Didiamkan dan Mencontoh

Banyak anak, sejak kecil terbiasa berperilaku seperti ini. Setelah balita, sangat mungkin perilakunya akan terus muncul. Atau, banyak anak yang sering melihat contoh dari orang lain. Misalnya kakaknya yang sering memukulnya, orang tuanya yang sering mukul kakaknya, bahkan kedua orang tuanya sering berkelahi di depan anak. Dengan begitu, anak akan memiliki persepsi bahwa tindakan seperti itu boleh saja dilakukannya.

Diperlukan ketegasan dari orang tua untuk menerangkan bahwa perilaku anak atau perilaku orang yang dilihatnya adalah perbuatan yang tidak baik dan tidak boleh dilakukan. Terangkan beserta alasannya sehingga anak mengetahui kenapa dia tidak boleh melakukannya.

Baca Juga: Moms, Bisa Lo Mengajari Balita Etiket Makan di Meja Makan

Halaman:

Tags

Terkini

Bagaimana Mengajarkan Empati pada Anak Balita?

Kamis, 12 Juni 2025 | 20:40 WIB

Moms, Aku Mau Videocall Ayah!

Rabu, 26 Februari 2025 | 07:56 WIB

Ketika Anak Tak Mau Pakai Baju, Bolehkah Kita Memaksa?

Selasa, 25 Februari 2025 | 21:18 WIB

Jangan Mengancam Anak Tetapi Berikan Ia Penjelasan

Selasa, 25 Februari 2025 | 20:51 WIB

Moms, Jangan Pernah Mengancam Anak, Ya!

Selasa, 25 Februari 2025 | 20:41 WIB

Biarkan Anak Corat-coret, Disitu Tumbuh Kreativitas

Senin, 24 Februari 2025 | 17:06 WIB

Moms, Perlu Lo Sesekali Anak Dibebaskan Bermain

Senin, 24 Februari 2025 | 15:52 WIB

Bila Anak Suka Tak Sopan, Ini Cara Mengatasinya

Sabtu, 22 Februari 2025 | 21:14 WIB

Ini Manfaat Buat Anak Saat Belajar di Meja Makan

Jumat, 21 Februari 2025 | 15:37 WIB

Saat Makan Saatnya Anak Belajar

Jumat, 21 Februari 2025 | 14:47 WIB