SMARTPARENT.ID Jangan kaget, bila suatu saat si balita “mengamuk” yang disertai “penganiayaan” terhadap orang lain, termasuk orang tuanya sendiri. Ia memukul, mencakar, atau menjambak. Tak jarang, hal ini mengakibatkan luka, entah lebam kebiruan di kepala, goresan di tangan, bahkan sampai berdarah.
Sebenarnya, tidak pernah terlintas dalam benak anak kalau dia ingin “menganiaya” orang lain, apalagi “menganiaya” orang tuanya sendiri. Bila hal itu sampai dilakukan anak, mungkin banyak penyebab yang bisa memicu munculnya perilaku tersebut. Umumnya disebabkan oleh luapan emosi yang tidak tertahankan kemudian terwujud dalam perilaku kasar seperti mencakar, memukul, bahkan menjambak.
Baca Juga: Anak Suka Menjadikan Tangis Sebagai Senjata, Ini Lo Penyebabnya
Bukan Lagi Lumrah Jika Balita Suka “Menganiaya”
Moms perlu mewaspadai perilaku ini, selain bisa menyakiti orang lain, dikhawatirkan akan menjadi kebiasaan dan terus menerus dilakukan anak. Apalagi di usia ini pertumbuhan fisik dan psikis anak sudah lebih tinggi dari sebelumnya. Anak sudah mulai lebih merasakan peningkatan kekuatan fisiknya, gejolak emosionalnya, kemampuan motoriknya, dan sebagainya. Bila anak memukul, mencakar, atau menampar, tentu kualitasnya sudah lebih kuat dari sebelumnya sehingga banyak orang tua yang akan merasa kesakitan bila anak melakukan hal itu.
Sebaiknya Moms tidak menganggap perilaku ini lumrah yang biasa dilakukan anak. Soalnya, bila didiamkan, anak akan merasa bahwa dia boleh-boleh saja bersikap “sewenang-wenang” terhadap orang tuanya atau orang lain. Bila hal ini terjadi bukan mustahil perilaku tersebut akan menetap hingga dewasa. Bukan mustahil pula anak akan melakukannya kepada orang lain, mungkin adik, kakak, bahkan teman-temannya.
Bila anak sudah terbiasa berperilaku seperti itu maka akan sulit sekali menyetopnya. Nantinya, setelah dewasa, akan muncul berbagai sikap negatif. Anak akan menjadi orang yang egois, mau menang sendiri, tidak peduli dengan orang lain, tidak punya rasa empati, dan sebagainya. Padahal kepribadian seperti ini sangat sangat berbahaya bagi kepribadiannya yang secara langsung akan mengganggu proses sosialisasinya.
Baca Juga: Ini yang Perlu Moms Lakukan Anak Selalu Menangis Saat Meminta Sesuatu
Moms Harus Antisipasi Munculnya Perilaku Ini
Sebaiknya Moms mengantisipasi agar perilaku ini tidak muncul. Bisa dilakukan sejak dini, yakni ketika perilaku tersebut mulai muncul di usia sebelum 3 tahun. Setidaknya Moms bisa meminimalisir agar perilaku ini tidak menguat dan perlahan hilang.
Tindakan antisipatif yang bisa dilakukan yakni dengan memberikan punishment atau hukuman kepada anak. Tentu, punishment harus disesuaikan dengan usia anak. Pertama, dengan memberi tahu kenapa anak tidak boleh melakukannya dengan tata bahasa yang sederhana agar anak dapat memahaminya. “Kalau kamu ingin mobil-mobilan itu bilang saja, tidak perlu memukul Mama,” misalnya.
Kedua, kita bisa memberikan sinyal kepada anak untuk tidak melakukah tindakan kasar tersebut. Misalnya, ketika anak memukul, mencakar, atau menampar, kita berusaha menghalanginya. Mislanya memegang tangannya agar usaha pemukulannya tidak berhasil. Yang perlu diperhatikan, ketika kita berusaha menghalanginya jangan sampai malah anak yang merasa tersakiti, misalnya karena pegangan kita terlalu keras. Bila hal ini kita lakukan berulang kali, suatu saat anak akan mengerti bahwa apa yang dilakukannya itu tidak disenangi oleh orang tuanya sehingga anak berusaha mengubahnya.
Ketiga, memberikan larangan dengan tegas. Hal ini biasanya dilakukan bila cara yang pertama dan kedua tidak berhasil kita lakukan. Tentu, ketegasan yang diperlukan mesti disesuaikan dengan anak usia ini. “Mama tidak suka kalau mau minta sesuatu kamu memukul mama,” misalnya demikian. Namun, ketegasan yang kita berikan jangan sampai melukai perasaan anak apalagi sampai membalasnya. “Kamu, kok, bandel banget, memang dipukul tidak sakit!”
Baca Juga: Yuk Moms, Ciptakan Anak Tangguh Lewat Latihan Problem Solving