Tindakan anak untuk menjadikan tangis sebagai senjata, biasanya diawali dari kebiasaan ketika dia berusia batita. Kebiasaan-kebiasaan seperti inilah yang nantinya akan membuat anak selalu ingin mendapatkan berbagai keinginannya dengan segera.
* Sikap Moms yang Tidak Konsisten
Moms suka tidak konsisten dengan keputusannya. Misalnya, ketika ingin pergi ke Mal dan sudah komitmen untuk tidak mengabulkan permintaan anak maka harus konsisten dengan komitmennya. Apalagi kalau kita sudah berbicara ke anak, “Nanti di Mal kamu tidak boleh minta mainan yang mahal-mahal!” misalnya. Maka saat di mal yang tidak dibelikan.
Bila dari Moms tidak konsisten dan selalu melanggar komitmennya maka anak akan merasa bahwa ancaman orang tuanya bisa dikalahkan dengan senjatanya. “Nanti, kalau Mama tidak mau membelikannya, aku menangis saja,” mungkin seperti ini pikiran yang ada di dalam otak anak. Pikiran ini timbul karena anak tahu bahwa dengan menangis dia akan mendapatkan keinginannya. Dengan begitu, komitmen yang sudah dibuat orang tua tidak akan efektif lagi.
* Belajar dari Pengalaman
Mungkin pada awalnya anak tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan sesuatu secara benar. Ketika dia ingin memiliki sesuatu, dia pun mengungkapkannya dengan cara menangis. Nah, bila hal ini menjadi kebiasaan dan kita terus mendiamkan perilakunya maka kemungkinan anak akan melakukannya bila ingin meminta sesuatu.
Baca Juga: Moms, Bayi Bisa Kena Hernia Lo! Begini Cara Mendeteksinya