SMARTPARENT.ID Sebenarnya banyak cara yang bisa dilakukan ketika anak ingin mengekspresikan keinginannya, misalnya berteriak, berbicara, merajuk, marah, dan sebagainya. Nah, menangis merupakan salah satu cara anak ketika anak ingin mengekspresikan keinginannya.
Umumnya, menangis dijadikan sebagai sarana bagi anak untuk mengungkapkan keinginannya bila kemampuan verbalnya masih terbatas. Misalnya, bayi yang sedang haus, verbalnya jelas belum memungkinkan untuk bilang bahwa dia ingin susu. Atau batita yang ingin meminjam mainan temannya, kemampuan verbal yang masih terbatas membuatnya tidak bisa mengungkapkan keinginannya secara jelas. Bila demikian yang terjadi, maka sangat wajar dilakukan anak karena dia memang belum bisa mengungkapkan keinginannya dengan bahasa verbal yang jelas.
Dr. Robert Schwebel, psikolog dari Universitas Boston, Amerika Serikat, mengatakan, siapapun boleh menangis karena menangis itu adalah hal yang wajar dan boleh dilakukan oleh siapa saja. Alasannya, sensitivitas emosi yang menyebabkan kita menangis adalah karakter yang bisa menyenangkan. Mungkin dengan menangis masalah yang sedang dihadapi bisa lebih ringan.
Baca Juga: Membuat MPASI Sendiri Yuk Moms, Begini Caranya...
Dijadikan Senjata untuk Mendapatkan Sesuatu
Namun masalahnya, sebenarnya apa yang menjadi penyebab sehingga anak menangis. Bila tangisnya muncul karena gejolak emosi, misalnya hanya karena anak ingin meminta sesuatu yang harus segera dikabulkan, menangis bukanlah sesuatu yang harus didiamkan. Orang tua harus memberikan arahan bagaimana seharusnya anak bersikap.
Perilaku tersebut merupakan perilaku negatif dan perlu diatasi segera. Soalnya bila hal ini didiamkan kemudian menjadi kebiasaan yang terus melekat pada anak dan akan berpengaruh pada kepribadian anak. Ketika besar, mungkin anak akan menjadi orang yang terbiasa menerima dan sulit memberi, mau menang sendiri, tidak mau mengalah, merasa kalau segala sesuatu yang diinginkannya harus dipenuhi meskipun dengan berbagai cara, suka mengambil jalan pintas, dan sebagainya.
Namun, tangisan yang dijadikan sebagai senjata tidak selamanya negatif, di satu sisis ada sisi positifnya. Tangisan yang dijadikan sebagai senjata ini, kan, perlu proses. Misalnya, dia memanfaatkan pengalaman sebelumnya. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, bila dia menangis biasanya orang tuanya akan mengabulkan permintaannya. Nah, bila ketika meminta sesuatu dan orang tua tidak mengabulkannya, mungkin dengan menangis keputusan orang tuanya akan berubah. Daya pikir seperti ini menandakan bahwa anak sudah bisa memanipulasi pikirannya. Berarti sudah terjadi proses berpikir di dalam otak anak. Hal ini cukup bagus untuk proses berpikir selanjutnya.
Sebaiknya pula, bila anak menangis seharusnya orang tua mencari tahu apa penyebab kenapa anak menangis. Selain kita bisa segera mengatasinya kitapun bisa memberi arahan kepada anak bahwa masalah yang sedang dihadapinya tidak mengharuskan dia menangis. Intinya, kita tidak bisa secara langsung mencapnya sebagai seuatu yang negatif. Mungkin anak memang kesulitan, tidak berani, atau malu untuk mengungkapkannya.
Baca Juga: Bayi Lebih Sehat Lewat Pijat Akupressure
Ini Lo, Penyebab Tangisan Dijadikan Senjata Anak
Orang tua, berperan besar dalam pembentukan perilaku ini. Disadari atau tidak, anak banyak belajar dari pengalamannya sehari-hari. Berbagai penyebab yang bisa memicu anak menjadikan tangis sebagai senjata untuk mendapatkan kemauannya, misalnya :
* Permintaan yang Selalu Dikabulkan
Selalu dikabulkan berbagai permintaannya, anak akan merasa bahwa apa yang diinginkannya harus selalu terpenuhi. Bila tidak, dia akan menangis sampai keinginannya dikabulkan. Banyak, kan, karena rasa sayang yang besar, kita selalu mengabulkan segala permintaan anak.