Moms, Ini Tanda Anak Sudah Siap Sekolah. Segera Daftarkan ke Sekolah

Photo Author
Irfan Hasuki, Smart Parent
- Selasa, 26 November 2024 | 10:00 WIB
Sekolahkkan anak jika ia sudah siap (Naomi Shi/Pexels)
Sekolahkkan anak jika ia sudah siap (Naomi Shi/Pexels)

SMARTPARENT.ID Bila anak benar-benar tertarik dan sudah mampu untuk menerima instruksi, tak masalah bila kita segera memasukkannya ke sekolah. Umumnya, setelah usia 2 tahun perkembangan kognitifnya mulai berkembang dengan baik. Usia ini, anak tidak saja terfokus pada perkembangan motorik atau manipulasi objek tetapi sudah lebih luas. Selain perkembangan bahasanya sudah mulai kompleks, problem solvingnya pun sudah mulai mampu dilakukan. Bila semua ini sudah terlihat berkembang, oke-oke saja bila anak dimasukkan ke sekolah, hal ini, kan, sekaligus untuk meningkatkan pertumbuhan sosial anak.

Baca Juga: Yuk Cerdaskan Otak Anak dengan Belajar Mengelompokkan

Apalagi, kalau perkembangan bahasa anak sudah dibarengi dengan kemampuannya memahami konsep yang tidak kelihatan, meskipun baru usia 3 tahun, silahkan saja disekolahkan. Pemahaman konsep yang tidak kelihatan atau abstrak ini misalnya, anak bisa membayangkan kata sekolah yang diucapkannya. Di sekolah aku bisa bernyanyi, menari, bermain ayunan, dan sebagainya.

Tak hanya itu, untuk melihat apakah anak sudah mulai memahami konsep bisa dilihat lewat kemampuan anak memahami bunyi-bunyian. Misalnya, ketika dia mendengar suara terompet penjual es krim maka anak sudah dapat membayangkan bahwa penjual es krim tersebut sedang berada dekat dengan rumahnya. Pasti ada banyak es krim yang lezat-lezat, misalnya. Nah, kalau bahasa dan konsepnya sudah berkembang, berarti anak sudah mulai siap untuk disekolahkan dan berhubungan dengan orang lain.

Orang tua tidak perlu menunggu usia anak lebih besar bila anak sudah menunjukkan kemampuannya. Soalnya, lebih cepat anak bisa mendapatkan pelajaran dari sekolah dan lingkungan bermainnya maka sangat baik untuk percepatan pertumbuhannya. Di sekolah, kan, anak bisa mengenal berbagai macam figur, ada guru, teman yang gendut, cara berbagi, dan lainnya. Hal ini lebih bermanfaat bila anak hanya berkutat dengan mainan di dalam rumah.

Anggapan yang mengatakan tidak baik menyekolahkan anak terlalu cepat, karena anak akan bosan sekolah dan dia akan kehilangan masa bermainnya, perlu dicermati lagi. Memang, banyak orang yang berpendapat demikian, namun kita harus melihat sekolah seperti apa yang bisa membuat anak cepat bosan. Bila yang dimaksud adalah sekolah formal, di mana semuanya terstruktur, ada guru yang jelas, jam yang ketat, PR, tentu anak usia prasekolah akan cepat bosan dan jenuh. Dia pun akan kehilangan masa-masa bermainnya.

Namun, bila anak dimasukkan ke preschool, yang menerapkan konsep bermain sambil belajar, tidak masalah. Misalnya sekolah tersebut tidak mengajak anak untuk menghapal penjumlahan dan perkalian, menghafal warna, harus bisa membaca, dan lainnya. Untuk hal ini, Vera lebih setuju bila anak segera disekolahkan. Bukankah, lebih baik anak dimasukkan ke situasi di mana  dia bisa bersosialisasi, belajar, dan mengembangkan kognitifnya dari pada pasif di dalam rumah. Asal, proses pembelajarannya tidak melupakan jiwa anak yang masih dalam taraf bermain. Apapun yang dilakukannya harus sambil bermain.

 Baca Juga: Makanan Sehat untuk Anak Balita yang Menarik dan Bergizi

<js4>BELAJAR BANYAK DI SEKOLAH

Apalagi, kalau di rumah anak tidak bisa bersosialisasi. Bila hanya bergaul dengan pengasuh, siapa yang bisa menjamin kalau pengasuhnya bisa menstimulasi anak dengan baik. Contohnya, ketika anak bertanya ke pengasuhnya, “Mbak, kayaknya awan itu dari tadi ngikutin kita aja, ya?” Kemungkinan pengasuh akan menjawab, “Ya memang dari sananya!” Jawaban singkat seperti ini membuat keingintahuan anak tidak tersalurkan dengan baik. Bila dia diperlakukan seperti itu terus, tentu rangsangan berpikirnya lemah dan anak tidak menjadi seorang yang kreatif.

Berbeda bila pertanyaan itu diajukan ke gurunya di sekolah, mungkin jawaban yang keluar bersifat lebih merangsang pola pikir anak, Misalnya dijawab dengan, “Awan sebenarnya tidak mengikuti kita, tetapi karena ukurannya sangat besar dia seolah-olah dia mengikuti kita.” Sangat mungkin dari pertanyaan sederhana itu akan berkembang menjadi dialog di antara mereka. “Nah, inilah manfaat yang bisa didapat anak.”

Namun, ketika memutuskan untuk menyekolahkan anak, biasanya pengalaman pertama di sekolah sering mendatangkan kecemasan, terlebih karena ia harus berada di lingkungan baru yang masih asing. Sebaiknya orang tua memberikan kesempatan pada anak menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Bila anak takut, beradalah di dalam kelas hingga 1-2 minggu atau sampai batas waktu yang telah ditentukan pihak sekolah. Selanjutnya, baru lepaskan anak secara bertahap sambil menenangkannya. Ucapkan kata-kata yang membuatnya nyaman. “Lihat, bu gurunya baik sekali, kamu tidak perlu takut, ya!” misalnya. Jika anak sudah merasa nyaman, sudah waktunya meninggalkannya di kelas bersama teman-temannya yang lain. Jangan malah terus berada di dekatnya karena akan mempengaruhi kemandirian anak.

Baca Juga: Yuk Moms, Kita Stimulasi Kemampuan Bicara Anak

Editor: Irfan Hasuki

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

Bagaimana Mengajarkan Empati pada Anak Balita?

Kamis, 12 Juni 2025 | 20:40 WIB

Moms, Aku Mau Videocall Ayah!

Rabu, 26 Februari 2025 | 07:56 WIB

Ketika Anak Tak Mau Pakai Baju, Bolehkah Kita Memaksa?

Selasa, 25 Februari 2025 | 21:18 WIB

Jangan Mengancam Anak Tetapi Berikan Ia Penjelasan

Selasa, 25 Februari 2025 | 20:51 WIB

Moms, Jangan Pernah Mengancam Anak, Ya!

Selasa, 25 Februari 2025 | 20:41 WIB

Biarkan Anak Corat-coret, Disitu Tumbuh Kreativitas

Senin, 24 Februari 2025 | 17:06 WIB

Moms, Perlu Lo Sesekali Anak Dibebaskan Bermain

Senin, 24 Februari 2025 | 15:52 WIB

Bila Anak Suka Tak Sopan, Ini Cara Mengatasinya

Sabtu, 22 Februari 2025 | 21:14 WIB

Ini Manfaat Buat Anak Saat Belajar di Meja Makan

Jumat, 21 Februari 2025 | 15:37 WIB

Saat Makan Saatnya Anak Belajar

Jumat, 21 Februari 2025 | 14:47 WIB
X