Yuk Cerdaskan Otak Anak dengan Belajar Mengelompokkan

Photo Author
Irfan Hasuki, Smart Parent
- Selasa, 26 November 2024 | 05:51 WIB
Belajar Mengelompokkan (cottonbro studio /Pexels)
Belajar Mengelompokkan (cottonbro studio /Pexels)

SMARTPARENT.ID Anak memiliki tugas-tugas perkembangan kognitif di setiap tahapan usianya. Menurut Piaget, pakar psikologi perkembangan kognitif, di usia 2-7 tahun anak masuk pada fase praoperasional. Salah satu dari perkembangan kognitifnya adalah anak mulai mampu mengelompokkan benda sesuai warna, bentuk, ukuran, dan jenis. Sebaiknya, kita perlu menstimulasi kemampuan ini sehingga dapat berkembang secara optimal.


Baca Juga: Mengatasi Demam pada Anak Akibat Kelelahan: Penyebab, Tanda, dan Cara Penanganannya

Stimulasi Dengan yang Mudah Dahulu

Sejak berusia 2-3 tahun anak sudah mulai bisa diajarkan untuk mengelompokkan benda. Kemampuan ini penting distimulasi demi mendukung keoptimalan pertumbuhan otak anak. Ketika kita mengenalkan anak terhadap warna, bentuk, jenis, kemudian memintanya mengelompokkan sesuai kesamaan masing-masing berarti kita tengah membuat otak anak bekerja. Jika otaknya terus bekerja maka sambungan sinapsnya semakin banyak terjadi. Semakin banyak sinaps yang tersambung maka pertumbuhan otak semakin optimal dan sistem kerjanya pun semakin baik. Diyakini anak pun akan tumbuh lebih cerdas, terutama ia terlatih untuk bisa berpikir logis karena latihan mengelompokkan ini.

Stimulasi yang dilakukan sebaiknya dimulai dari hal yang paling mudah. Misalnya, dimulai dengan mengenalkan warna, bentuk, ukuran, dan lainnya. Kemudian ajak ia membedakan warna, ukuran, jenis. Jika ingin mengelompokkan, diawali dengan jumlah yang sedikit dengan ukuran yang cukup besar, menggunakan mainan kesukaannya dengan mengumpulkan berdasarkan persamaan warna, dilanjutkan dengan mengumpulkan benda-benda yang ada di rumah berdasarkan ukuran tertentu. Jika ia sudah mampu melakukannya kita bisa meningkatkan ke tahap yang lebih sulit. Misalnya, jumlahnya lebih banyak, warna yang lebih variatif, ukuran beragam, benda-benda berdimensi, jenis benda lebih banyak, dan lainnya. Kita bisa menyesuaikan dengan kemampuan anak karena setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda.

Baca Juga: Tips Menerapkan Coparenting untuk Anak Balita

Proses bertahap ini harus dilakukan karena pada awalnya anak belum bisa memusatkan perhatian dengan baik. Ia juga baru mulai diajarkan mengenal warna, bentuk, ukuran, jenis, hitungan, dan lainnya. Wajar jika awalnya anak belum bisa mengelompokkan secara benar. Mungkin saja warna kuning bercampur dengan biru, tongkat yang panjang bercampur dengan mobil-mobilan yang berbentuk kotak, alas kaki bercampur dengan mainan pistol-pistolan, dan sebagainya. Dengan latihan-latihan yang terus dilakukan, lambat laun anak akan mampu melakukannya. Intinya, ketika anak melakukan kesalahan terus arahkan dan latih anak sampai ia mampu mengelompokkannya dengan benar.

Anak pun Mampu Memahami Simbolik, Berimajinasi, dan Mengurutkan 

Selain mengelompokkan, terkait dengan kemampuan kognitif, di usia ini anak pun sudah memiliki kemampuan lain, seperti pemahaman simbolik, mengurutkan, dan berkhayal atau berimajinasi. Kemampuan simbolik anak, ditandai dengan kemampuan anak untuk memahami symbol kata untuk mewakili sebuah benda. Misalnya kata “piring” anak paham bahwa piring adalah symbol kata dari benda yang digunakan untuk menempatkan makanan saat ia makan. Untuk menstimulasinya kita bisa mengenalkan benda-benda kemudian kita minta ia menunjuk saat kita sebutkan nama benda tersebut. Selain itu, anak pun sudah bisa menghubungkan antara gambar piring dengan piring aslinya. Ia tahu bahwa piring yang di gambar juga bisa digunakan sebagai wadah makanan. Jika kita menggunakan piring berbeda secara bergantian anak pun akan tahu bahwa banyak bentuk, ukuran, dan warna piring yang berbeda.

Pemahaman akan simbol bisa digunakan anak untuk berhayal atau bermain imajinasi. Misalnya, sikat gigi bentuknya mirip dengan senapan yang ia lihat di film-film. Ia pun bisa mengimajinasikan sikat gigi tersebut menjadi senapan dan berpura-pura menembak. Di usia ini pun anak sudah mampu mengurutkan yakni menyusun menurut rangkaian atau urutan tertentu (sequence). Misalnya, menyusun ke atas benda-benda dimana yang lebih besar di bawah kemudian yang lebih kecil di atasnya seperti permainan balok kotak atau menara gelang. Kita juga bisa menggunakan bentuk-bentuk geometri dasar seperti segi empat, lingkaran, segi tiga, persegi panjang, kubus, dan lainnya. Kita susun bentuk-bentuk tersebut kemudian minta anak menirukannya.

Baca Juga: Trauma Healing, Mengatasi Luka Emosional untuk Membangun Kembali Mental yang Sehat

 

Editor: Irfan Hasuki

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

Bagaimana Mengajarkan Empati pada Anak Balita?

Kamis, 12 Juni 2025 | 20:40 WIB

Moms, Aku Mau Videocall Ayah!

Rabu, 26 Februari 2025 | 07:56 WIB

Ketika Anak Tak Mau Pakai Baju, Bolehkah Kita Memaksa?

Selasa, 25 Februari 2025 | 21:18 WIB

Jangan Mengancam Anak Tetapi Berikan Ia Penjelasan

Selasa, 25 Februari 2025 | 20:51 WIB

Moms, Jangan Pernah Mengancam Anak, Ya!

Selasa, 25 Februari 2025 | 20:41 WIB

Biarkan Anak Corat-coret, Disitu Tumbuh Kreativitas

Senin, 24 Februari 2025 | 17:06 WIB

Moms, Perlu Lo Sesekali Anak Dibebaskan Bermain

Senin, 24 Februari 2025 | 15:52 WIB

Bila Anak Suka Tak Sopan, Ini Cara Mengatasinya

Sabtu, 22 Februari 2025 | 21:14 WIB

Ini Manfaat Buat Anak Saat Belajar di Meja Makan

Jumat, 21 Februari 2025 | 15:37 WIB

Saat Makan Saatnya Anak Belajar

Jumat, 21 Februari 2025 | 14:47 WIB
X