SMARTPARENT.ID ”Itu punyaku!” teriak Reno seraya merebut mobil-mobilan dari tangan Dika, adiknya yang masih bayi. Tak sampai di situ, Reno memukul kepala Dika hingga Dika menangis.
Ketika emosi, beberapa anak reflek memukul. Biasanya orang yang membuatnya marah. Seperti si Reno kepada adiknya. Sebenarnya ini adalah reaksi alami. Tak hanya memukul bisa juga menjambak, melempar benda, hingga menggigit.
Baca Juga: Usia 2 Tahun Sudah Bisa Buka Baju Sendiri? Itu Bagus Moms
Sebaiknya, kita tidak menyalahi anak ketika ia memukul atau menggigit. Sebab batita melakukannya bukan karena sengaja untuk menyakiti orang lain karena di usia ini ia belum memiliki niat untuk menyakiti orang lain.
Si batita pun melakukannya karena dia belum tahu cara tepat untuk mengekspresikan emosinya, kontrol motorik yang belum sempurna, kelebihan energi, keterbatasan berbahasa, dan lainnya.
Bahkan di usia 1-2 tahun ia pun belum memahami dengan baik apakah tindakannya telah menyakiti orang lain atau tidak. Apa yang ia lakukan merupakan tindakan naluriah berdasar apa yang sedang ia rasakan.
Baca Juga: Usia 2 Tahun Sudah Bisa Buka Baju Sendiri? Itu Bagus Moms
Jangan Memarahi atau Terjebak Permainan Anak
Jadi ketika anak menggigit atau memukul jangan menyalahkannya apalagi memarahinya. Carilah sebab kenapa ia melakukannya karena mungkin ia sedang mengalami perasaan tertentu yang membuatnya memukul atau menggigit.
Memarahi dengan membentak, menarik tangan anak dengan keras, atau melakukan tindakan fisik lain tidak menyelesaikan masalah. Anak mungkin malah bingung kenapa ia dimarahi atau ditarik tangannya, ia tidak tahu apakah ia melakukan kesalahan atau tidak. Walhasil, perilaku menggigit dan memukul pun akan terus dilakukan anak karena dia tidak memahami apakah yang dilakukannya itu dibolehkan atau tidak. Atau sebaliknya, anak mungkin malah menjadi pendiam, sedih, takut, menarik diri dari lingkungn karena ia telah disakiti.
Memukul tidak selalu kepada teman atau adiknya. Anak juga bisa memukul Moms atau Papanya. Misalnya ketika meminta sesuatu kemudian kesal karena keinginannya tak terpenuhi.
Sebaiknya, kita tidak terbawa arus kepada perilaku anak. Misalnya, karena tak ingin terus menerus rewel dan memukul kita kabulkan setiapkali anak menginginkan sesuatu. Hal ini akan dipelajari anak dan ia akan kembali melakukannya setiap kali menginginkan sesuatu.
Baca Juga: Yuk Moms, Ajari si Kecil Memakai Baju dan Celana Sendiri!
Yang perlu Moms lakukan adalah, tak terbawa “permainan” anak yang menggunakan “senjata” memukul atau menggigit untuk mendapatkan sesuatu. Sebaiknya jelaskan kepada anak bagaimana cara yang lebih baik untuk mengungkapkan keinginannya tanpa harus memukul atau menggigit. “Kalau adek memukul Mama tidak mau belikan!” misalnya. Lakukan hal ini setiap kali anak melakukannya sampai ia benar-benar mengubah perilakunya.