Jika anak sudah terbiasa dengan rutinitas, ia akan mudah untuk mematuhi aturan
SMARTPARENT.ID Karekter si kecil, ia mengikuti nalurinya saja. Bila ingin main dia akan main, ingin tidur dia akan tidur, demikian pula saat dia ingin makan, minum, mandi, dan sebagainya. Namun bila rutinitas yang teratur terus diupayakan, lambat laun anak akan menyesuaikan diri.
Bila anak sudah terbiasa dengan aturan jadwal, dengan sendirinya dia akan tahu kapan waktunya makan, main, tidur, mandi, dan seterusnya. Anak yang terbiasa dengan rutinitas yang sudah terjadwal, jika jam empat sore waktunya mandi maka ia akan siap untuk mandi. Demikian pula jam 8 malam, dia sudah beres-beres, ganti baju, cuci tangan dan kaki, karena memang sudah waktunya untuk tidur malam.
Nah, kebiasaan-kebiasaan seperti ini akan membuat anak selalu melakukan rutinitasnya secara terencana dan teratur karena dia sudah terbiasa dan mampu membuat perencanaan. Bilapun nantinya dia harus mengatur hal yang lebih kompleks anak tidak akan kaget. Selain itu, anak pun akan mendapatkan hasil yang lebih baik karena segala sesuatunya sudah tersusun. Semakin awal kita menerapkan aturan rutinitas maka semakin mudah untuk membentuk pola rutinitas pada anak.
Baca Juga: Moms, Boleh Lo Kita Mengatur Rutinitas si Kecil
Manfaat lain dari pengaturan ini, anak bisa memahami kalau mereka tidak merasa bebas merdeka untuk melakukan apapun tetapi sudah mulai dibiasakan untuk mengikuti aturan atau rutinitas hidup. Bila hal ini sudah bisa dilakukan anak, diharapkan nantinya mereka bisa lebih sukses dalam menjalani hidup.
Jangan Terlalu Kaku ya Moms
Pengaturan rutinitas pada batita sebaiknya tidak dilakukan secara kaku. Kita harus membedakannya dengan anak yang sudah agak besar dimana mereka sudah memahami konsep waktu dengan jelas. Misalnya, anak yang sudah memahami konsep waktu kita bisa memintanya untuk mematuhi jadwal kegiatannya secara jelas dan terperinci, jam 05.30 bangun tidur, 06.30 berangkat sekolah, 12.00 pulang sekolah dan istirahat, begitu seterusnya.
Namun pada batita tidak demikian. Kita hanya menggunakan acuan jam tapi hanya bersifat sebagai panduan untuk kita sendiri. Bila pada saat pelaksanaannya batita tidak tepat waktu, ya, tidak masalah. Asal, waktu melencengnya tidak begitu jauh, 5-10 menit misalnya. Tetapi juga tidak boleh melenceng terlalu lama, hingga satu jam misalnya. Soalnya akan membuat jadwal berikutnya menjadi kacau balau atau anak akan merasa bahwa dia boleh memperlambat jadwal rutinitasnya. Bila demikian, kedisiplinan anak yang kita harapkan tumbuh jadi tidak muncul.
Baca Juga: Panduan Mendidik Anak Menjadi Ramah Lingkungan, Membangun Kesadaran Melestarikan Alam
Kemudian, kita jangan mengartikan disiplin waktu secara strik dimana anak mau tidak mau harus mematuhi semua aturan yang sudah ada. Misalnya, jam satu siang anak harus tidur siang maka dia mau tidak mau harus melakukannya. Cara-cara pemaksaan dilakukan meskipun anak meronta dan menangis. Bila demikian, mungkin saja anak malah ngambek dan aturan yang kita siapkan malah jadi berantakan. Tak mustahil orang tua jadi stres dan anak ngamuk dan memunculkan perilaku tantrumnya.
Nah, sebaiknya kita harus melihat situasi dan keadaan si anak. Bila memang bisa mengulur waktu beberapa menit atau anak butuh dibujuk lebih keras, kita harus melakukannya. Misalnya dengan mencari hal-hal yang bisa menarik minat anak untuk naik ke atas tempat tidur.
Baca Juga: Mengapa Anak Harus Punya Aktivitas Fisik?
Toleransi di Hari-hari Tertentu