SMARTPARENT.ID Antara gembira dan terkejut, Yuli mengamati buah hatinya yang masih berumur 2 tahun karena dia selalu mengikuti kalimat yang diucapakannya, “Lho, kok, kamu ngikutin bicara ibu terus,” begitu ungkapnya pada si kecil.
Baca Juga: Anak Meniru Hal Negatif? Ini 5 Langkah yang Perlu Dilakukan
Sudah Mulai Mampu Berbicara dan Meniru
Membeo atau meniru perkataan orang lain sudah bisa dilakukan anak pada usia batita di mana kemampuan berbicaranya sudah mulai muncul. Hal ini, wajar sebagai salah satu ekspresi dari kemampuan berbicaranya. Malah kalau anak tidak bisa meniru mungkin saja dia bermasalah dengan kemampuan bicaranya.
Kenapa peniruan bahasa yang paling kentara terlihat, ada beberapa hal yang membuat anak melakukannya. Pertama, karena kemampuan bahasalah yang umumnya lebih dulu berkembang sehingga kita lebih sering mendengar anak berceloteh dibandingkan dengan perilaku lain, sikap agresif misalnya.
Namun begitu, pada beberapa anak kemampuan ini terkadang sulit muncul, mungkin disebabkan karena stimulasi yang kurang dari lingkungannya sehingga kemampuan berbahasanya menjadi terhambat, terjadi kelainan pada otak, atau organ bicaranya mengalami gangguan.
Baca Juga: Kenapa si Kecil Suka Berkata Kasar? Ini Jawabannya
Biasanya, yang paling sering ditiru anak datang dari orang-orang terdekatnya, seperti orang tua, kakak, keluarga besar, atau pengasuh. Nah, semakin bertambah usia di mana daya tangkap anak sudah lebih solid, model peniruannya bisa juga datang dari luar, seperti teve, teman sebaya, guru, dan sebagainya. Ungkapan peniruannya pun semakin beragam, tak mustahil kata-kata negatif pun keluar dari mulut anak.
Kedua, karena dia merasa sudah mampu meniru perkataan orang lain muncul rasa senang pada diri anak sehingga dia akan melakukannya berulang-ulang. Apalagi ketika dia mengucapkannya kemudin muncul respon dari lingkungannya. Misalnya, ekspresi orang tua yang terkejut, marah, heran, dan sebagainya akan membuat anak semakin ketagihan untuk melakukan peniruannya lagi.
Ketiga, ada yang menarik perhatian anak dari kalimat yang didengarnya. Misalnya, ketika sedang menyaksikan iklan kemudian ada kalimat yang membuatnya tertarik untuk diucapkan maka dia akan mengucapkannya. Misalnya, jargon sebuah iklan makanan ringan, “ting-ting bukan permen, ting-ting bukan biskuit.” Anak merasa asyik saja mengucapkannya karena bernada dan bisa dilakukannya sambil bermain.
Baca Juga: Menjaga Kesehatan Mental Anak, Pahami Perbedaan Kesehatan dan Penyakit Mental