Berikut beberapa contoh nyata:
- Untuk anak usia balita,
- Bermain bergiliran. Orangtua dapat berperan sebagai wasit untuk mengatur waktu, setiap 5 menit, mainan bergantian. Walaupun belum tulus berbagi, anak belajar untuk mengerem kemauannya menguasai sesuatu.
- Berbagi mama atau papa, terlebih bagi balita yang memiliki saudara. Misalkan, hari ini adik disuapi oleh mama, dan kakak oleh papa. Esok hari bergantian.
- Menyayangi hewan peliharaan, seperti memberi makan ikan, kucing, dll
Baca Juga: Waspadai Batuk pada Anak, Begini Gejala yang Perlu Dipahami
- Untuk anak TK dan SD
- Berbagi makanan, anak dapat diminta membantu ibu membagikan kue untuk tetangga. Dengan demikian, ia melihat orantuanya juga suka berbagi. Jika memungkinkan, ajak anak untuk ikut membuat kue.
- Belajar bersama dengan teman atau saudara, bisa saling berbagi informasi, alat tulis (buku, pencil, krayon), atau buku pelajaran.
- Menginap di rumah saudara yang seumuran, sehingga berbagi kamar, mainan, makanan dengan orang lain walaupun itu saudara.
- Anak usia praremaja
- Ajak anak untuk berbagi di panti asuhan atau musibah bencana
- Ajak anak untuk membuat proyek sosial bersama teman-teman kelompoknya. Misalnya, terlibat dengan pengurus masjid untuk membagikan daging kurban ketika hari raya Idul Adha.
PEKA DAN PEDULI
Lalu, apa saja manfaat yang bisa dipetik dari kegiatan mengajarkan berbagi? Dengan berbagi anak belajar untuk peka dan peduli terhadap lingkungannya. Jika hal ini diulang terus hingga terinternalisasi maka jiwa sosial anak akan berkembang dengan optimal.
Selain itu, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang hangat, terbuka, dan penuh kasih sayang. Ketika ia tumbuh besar, ia adalah teman dan suadara yang menyenangkan sehingga menumbuhkan kepercayaan dirinya. Individu yang percaya diri adalah individu yang siap bersahabat dengan perubahan jaman.
Baca Juga: Mengenalkan Literasi Keuangan pada Anak, Begini Caranya
Namun sebaliknya, anak yang tidak diajarkan berbagi, akan tumbuh menjadi pribadi dengan egoisme yang tinggi. Ia mementingkan diri sendiri yang terkadang rela melakukan tindakan tidak baik untuk memenuhi keinginannya.
Pribadi yang seperti itu tentu akan sulit beradaptasi dalam berbagai lingkungan. Tak jarang menjadi pribadi yang tidak disukai oleh teman, saudara, dan lingkungannya. “Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat ketika anak-anak, namun akan nampak ketika ia tumbuh besar dan menjalin pola interaksi yang lebih luas.”
Tak kalah penting, dalam mengajarkan berbagi, anak sangat perlu untuk diedukasi hal-hal apa yang bisa dibagi dan yang tidak bisa dibagi, agar tidak terjadi kesalahan persepsi dalam perilaku berbagi ini.
Sebagai contoh, hal-hal pribadi seperti sikat gigi, handuk, dll tidak bisa digunakan bersama atau berbagi dengan teman karena itu sangat personal. Hal tersebut perlu disampaikan disertai alasan yang tepat agar anak-anak memahami dan mengambil pelajaran dari hal tersebut.***