Hari Raya Idul Adha, Hal Positif Ini Bisa Diajarkan pada Anak

Photo Author
Hilman Hilmansyah, Smart Parent
- Senin, 17 Juni 2024 | 22:12 WIB
Momen Hari Raya Idul Adha mengajarkan banyak hal pada anak. ( RDNE Stock project/Pexels)
Momen Hari Raya Idul Adha mengajarkan banyak hal pada anak. ( RDNE Stock project/Pexels)

Dalam kajian psikologi, emosi ibu sangat terkoneksi dengan janinnya selama ia mengandung. Ibu yang bahagia akan memberikan dampak positif bagi perkembangan janinnya. Begitu pula ibu yang peka dan peduli terhadap kebutuhan orang lain. Akan ada kecenderungan janin mewarisi perilaku baik ibunya, seperti halnya perilaku berbagi.

Baca Juga: Sakit Telinga pada Anak, Begini Gejala dan Cara Mengatasinya  

Nah, seiring dengan perkembangannya, empati anak akan mulai terasah di usia 5-6 tahun. Sebelumnya, anak akan mencapai tahap perkembangan sosial terbaik di usia 3-4 tahun setelah berada dalam fase egosentris “ini milikku” yang posesif di usia 2-3 tahun.  

Karena itu, stimulasi untuk mengajarkan anak berbagi akan lebih baik bila dimulai sejak masa-masa egosentrisnya. Ia dapat melihat contoh nyata dan tidak terjebak pada  ke”aku”annya jika diajari sejak dini. “Pewarna dunia anak adalah lingkungannya. Maka stimulus yang tepat akan membuat anak-anak berwarna-warni.”

ORANGTUA PERSIAPKAN DIRI

Untuk mengajarkan anak berbagi, yang perlu dipersiapkan adalah orangtua.  Kita tahu, anak mengidentifikasi perilaku ayah dan ibunya. Oleh karenanya, persiapan orangtua jauh lebih penting. Orangtua dapat mempersiapkan diri dengan memperbanyak perilaku berbagi secara  konsisten, sehingga anak menerima banyak stimulasi yang mendorongnya untuk mengenali bagaimana berbagi.

Stimulus berbagi menjadi penting karena dengan keingintahuan anak-anak yang besar, semakin banyak stimulus, akan semakin siap bagi anak untuk ikut terlibat dan mencari tahu. Orangtua dapat mengarahkan melalui komunikasi sederhana.

Misalnya “Mama punya kue 3, kita bagi yuk, satu buat mama, satu buat papa, satu lagi buat siapa ya..” dan biarkan anak menjawab. Jika anak menjawab benar, berilah apresiasi, “Ya benar, semua dapat kue, wah senangnya ya bisa berbagi”. Ulangi dan ulangi terus memberikan stimulus hingga menjadi kebiasaan.

Baca Juga: Kenali Batuk pada Anak, Begini Pengobatan yang Tepat

SIAPKAN KONDISI ANAK

Selain kesiapan orangtua, yang perlu diperhatikan adalah kondisi anak.  Orangtua perlu berusaha menarik perhatian anak-anak untuk berbagi tanpa paksaan, misalnya: “Abang ayo kasih mainannya buat Adek”. Akan lebih baik jika mengatakan, “Abang gantian ya mainya, habis abang main, mainannya dipenjemin ke Adek, ya.” Demikian sebaliknya untuk sang adik.

Beri kesempatan kepada anak mengomunikasikan apa yang sedang ia rasakan ketika harus berbagi, sehingga orangtua dapat memberikan edukasi yang sesuai apabila ada perasaan negatif yang muncul dan memberikan komplimen apabila berbagi menjadi hal yang menggembirakan.

Selain itu, membantu anak mengenali “miliknya” dan “milik orang lain” juga penting dilakukan. Dengan begitu, ia dapat belajar mengenali dan menghargai perbedaan. Misalnya, “Krayon ini punya Mimi, kalau krayon Andi ada di tas. Kalau mau pakai, Andi pinjam dulu ya ke Mimi”.

TUNJUKKAN CONTOH NYATA

Yang jelas, dalam proses belajar berbagi ini yang perlu diperhatikan adalah contoh nyata, berbagi perasaan terkait aktivitas berbagi melalui obrolan, dan apresiasi dari orangtua karena anak sudah mau berbagi.

Halaman:

Editor: Hilman Hilmansyah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X