Dari Kasus FH UI ke Luka Psikologis: Memahami Dampak Trauma Seksual Jangka Panjang

Photo Author
Hilman Hilmansyah, Smart Parent
- Jumat, 17 April 2026 | 09:31 WIB
Universitas Indonesia (UI) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) bersepakat untuk memperketat pengawasan dalam penanganan kasus kekerasan seksual yang melibatkan mahasisw (freepik.com)
Universitas Indonesia (UI) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) bersepakat untuk memperketat pengawasan dalam penanganan kasus kekerasan seksual yang melibatkan mahasisw (freepik.com)

Ada juga pengalaman disosiasi, seperti derealisasi dan depersonalisasi. Seseorang bisa merasa lingkungan di sekitarnya tidak nyata, atau merasa seperti melihat dirinya dari luar. Ini sebenarnya mekanisme perlindungan otak saat menghadapi tekanan yang berat, tetapi jika berlangsung lama bisa mengganggu kualitas hidup dan rasa aman.

Kekerasan seksual juga berkaitan dengan berbagai gangguan mental lain, seperti kecemasan, depresi, Obsessive Compulsive Disorder, dan Post Traumatic Stress Disorder. Dalam beberapa kasus, muncul dorongan untuk mengontrol sesuatu secara berlebihan, seperti pada OCD, yang sering berakar dari pengalaman kehilangan kendali di masa lalu.

Dr. Kapoor juga menyoroti bahwa tidak sedikit penyintas, terutama perempuan, yang kemudian diberi label gangguan kepribadian ambang. Padahal, menurutnya, reaksi tersebut lebih tepat dipahami sebagai respons terhadap trauma, bukan sebagai kelemahan dalam kepribadian.

Yang penting untuk dipahami, pengalaman traumatis bukanlah identitas seseorang. Itu memang bagian dari perjalanan hidup, tetapi tidak menentukan siapa mereka sebenarnya.

Dampaknya juga bisa terasa dalam hubungan intim. Penyintas bisa menjadi sangat waspada, mudah terpicu, atau mengalami kilas balik ketika ada sentuhan tertentu. Bahkan sentuhan yang aman sekalipun bisa memicu ingatan lama, sehingga sulit membedakan mana yang benar-benar berbahaya.

Karena itu, penting bagi penyintas dan pasangannya untuk mengenali hal-hal yang bisa menjadi pemicu. Komunikasi yang jujur dan terbuka, termasuk membicarakan jenis sentuhan atau situasi yang memicu ketidaknyamanan, bisa membantu membangun kembali rasa aman secara perlahan.

 

Referensi:

https://mcpress.mayoclinic.org/women-health/lingering-effects-of-sexual-trauma/

 Ilustrasi: Freepik.com

 

 

 

Halaman:

Editor: Hilman Hilmansyah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X