Dari Kasus FH UI ke Luka Psikologis: Memahami Dampak Trauma Seksual Jangka Panjang

Photo Author
Hilman Hilmansyah, Smart Parent
- Jumat, 17 April 2026 | 09:31 WIB
Universitas Indonesia (UI) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) bersepakat untuk memperketat pengawasan dalam penanganan kasus kekerasan seksual yang melibatkan mahasisw (freepik.com)
Universitas Indonesia (UI) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) bersepakat untuk memperketat pengawasan dalam penanganan kasus kekerasan seksual yang melibatkan mahasisw (freepik.com)

 

 

SMARTPARENT.ID - Universitas Indonesia (UI) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) bersepakat untuk memperketat pengawasan dalam penanganan kasus kekerasan seksual yang melibatkan mahasiswa Fakultas Hukum UI. Langkah ini diambil agar prosesnya berlangsung transparan, akuntabel, serta tetap mengutamakan perlindungan bagi korban.

Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya memperkuat pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di perguruan tinggi secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Dikutip dari Mayoclinic, kekerasan seksual meninggalkan dampak yang jauh dari sederhana. Banyak penyintas akhirnya kesulitan mengendalikan emosi, kehilangan arah tentang siapa dirinya, mengalami disosiasi, hingga menghadapi gangguan seperti stres pasca-trauma dan masalah kesehatan mental lainnya.

Saat kejadian berlangsung, biasanya fokus langsung tertuju pada hal-hal yang mendesak. Mulai dari memastikan korban aman dari risiko kejadian berulang, melibatkan aparat hukum, mencegah kemungkinan kehamilan, hingga memeriksa risiko infeksi menular seksual. Semua langkah itu penting, tapi sering kali perhatian hanya berhenti di tahap awal tersebut.

Padahal, setelah fase darurat terlewati, proses yang lebih panjang justru baru dimulai. Banyak penyintas masih harus berhadapan dengan dampak psikologis yang bisa bertahan lama, bahkan hingga bertahun-tahun.

Menurut Shweta Kapoor, M.D., Ph.D., seorang psikiater Mayo Clinic yang berfokus pada trauma kompleks, kekerasan seksual dapat meninggalkan pengaruh mendalam pada kondisi emosional dan mental seseorang. Dampaknya bisa terlihat dari sulitnya mengatur emosi, kaburnya rasa diri, munculnya disosiasi, hingga gangguan seperti PTSD.

Jika melihat data, kasus kekerasan seksual tergolong tinggi, meskipun banyak yang tidak dilaporkan. Perempuan dan anak perempuan menjadi kelompok yang paling rentan. Selain itu, kelompok minoritas, termasuk komunitas LGBTQI+, juga menghadapi risiko lebih besar. Hambatan seperti perbedaan bahasa, budaya, keterbatasan akses layanan, hingga minimnya dukungan yang sesuai sering membuat korban kesulitan mendapatkan bantuan.

Kekerasan seksual sendiri tidak terbatas pada pemerkosaan. Ini mencakup segala bentuk aktivitas seksual tanpa persetujuan, seperti sentuhan yang tidak diinginkan hingga pelecehan tanpa kontak fisik, misalnya memperlihatkan konten pornografi kepada anak atau percakapan bernuansa seksual.

Data menunjukkan cukup banyak orang pernah mengalami hal ini. Survei CDC mencatat sekitar 27% perempuan dan 4% laki-laki pernah mengalami pemerkosaan atau percobaan pemerkosaan. Selain itu, hampir setengah perempuan dan seperempat laki-laki pernah mengalami kontak seksual yang tidak diinginkan. Di Amerika Serikat, lebih dari 60.000 anak diperkirakan menjadi korban setiap tahun. Jika terjadi berulang, pengalaman ini bisa berkembang menjadi trauma kompleks.

Menariknya, dampak jangka panjang sering kali tidak langsung disadari. Banyak orang tidak menghubungkan kesulitan yang mereka alami saat ini dengan pengalaman masa lalu.

Dr. Kapoor menjelaskan bahwa sebagian orang bahkan menganggap pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang “biasa”, terutama jika terjadi sejak kecil. Karena itu, ia sering menggali lewat pertanyaan sederhana, seperti apakah ada pikiran yang terus muncul atau mimpi yang berulang.

Salah satu dampak yang cukup sering muncul adalah hilangnya rasa diri. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat membangun identitas justru bisa menjadi sumber luka, apalagi jika pelaku adalah orang terdekat. Dalam banyak kasus, korban juga mengalami manipulasi emosional yang membuat mereka meragukan dirinya sendiri. Lama-kelamaan, kepercayaan diri dan identitas diri bisa memudar.

Selain itu, banyak penyintas mengalami kesulitan dalam mengatur emosi. Kemampuan menenangkan diri yang biasanya terbentuk sejak kecil menjadi terganggu. Akibatnya, hal kecil bisa memicu reaksi yang besar. Kondisi ini dikenal sebagai disregulasi emosi, di mana seseorang menjadi lebih sensitif terhadap tekanan.

Halaman:

Editor: Hilman Hilmansyah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X